Om Wawes Luncurkan Album Perdana Restu

Om Wawes saat tampil dalam peresmian Panggung Promosi di Lantai II Pasar Beringharjo, Selasa (18/12/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
21 Agustus 2020 20:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sempat tertunda karena Pandemi Covid-19, band dangdut asal Jogja, Om Wawes kini mantap merilis album perdana mereka yang bertajuk Restu bersama dengan buku berjudul Babat Alas Dangdut Anyar.

Band yang digawangi Dhyen Gaseng (Vokal), Louis David (Kendang), Tony Kurniawan (Drum) dan Bayu Garninda (Gitar) ini sengaja membuat album untuk melengkapi perjalanan karir di genre musik dangdut. “Bagi kami punya album adalah kewajiban bagi sebuah band. Di musik dangdut dari dulu pendengar sudah dimanjakan oleh single-single yang dirilis secara cuma-cuma di Youtube, dan lainnya,” ujar Dhyen, Jumat (21/8/2020).

Lewat album ini, Om Wawes sekaligus ingin mengedukasi pendengar dangdut agar bisa menikmati karya eksklusif dan mengapresiasi sebuah karya dengan membeli album fisik. Penggarapan rekaman album ini dimulai tahun 2019.

Ia menceritakan pengerjaan album sempat jarang dipegang, karena saat itu Om Wawes sedang keasyikan dengan jadwal manggung yang lumayan padat. Sementara setelah mulai fokus, pengerjaannya justru terbentur Covid-19.

Proses pengerjaan album ini dilakukan di tiga studio berbeda, rekaman berlangsung di Royal Rumble dengan operator Tony Kurniawan & Ivan Lukito. Kemudian proses mixing di Gilaz Studio dengan operator Louis David (Gendhut), dan mastering di Rumah Tua Record dengan operator Christyan.

Om Wawes juga melibatkan beberapa musisi kolaborator, mereka adalah; Ode yang mengisi cello untuk lagu "Aku Sing Mundur", Zaenal Produk Gagal mengisi harmonica di lagu "Aku Wis Trimo", Pam Pam mengisi saxophone di lagu "Yen Wis", Pendhoza di lagu "Sabaro Sedelo", dan Nufi Wardhana di lagu "Ilang Roso".

Selain itu, Om Wawes juga masih dibantu sejumlah musisi additional yakni; Dibyo Imam (bass), Julian (Keyboard), Iwank (Trombone), dan Dodi (Trumpet). Semua materi lagu di album Restu ditulis oleh Louis David, kecuali lagu "Bedo Agomo" oleh Tony Kurniawan, “Yen Wis” oleh Dwi Geghana, “Sabaro Sedelo” oleh Sandios, dan “Ilang Roso” oleh Dhyen dan Dwi Geghana.

Awalnya album ‘RESTU’ akan dikemas dalam bentuk boxset, namun agar bisa terjangkau di tahun pandemi ini, akhirnya disederhanakan dan lebih ekonomis dengan berisi t-shirt, buku, dan CD yang dikemas dalam totebag.

Tentang Buku “Babat Alas Dangdut Anyar”

Di projek ini Om Wawes bukan hanya meluncurkan album fisik, namun juga merilis buku yang merinci perkembangan musik dangdut sejak era awal hingga hari ini. Buku ini juga dimaksudkan untuk menarik minat baca anak muda, terutama penggemar musik dangdut.

Buku ini merupakan inisiatif Om Wawes untuk mencatat kerja mereka selama mengarungi dunia dangdut di Jogja. Inisiatif dan kesadaran yang tidak lazim dilakukan oleh musisi dangdut, baik di skena dangdut nasional ataupun lokal. Alih-alih berisikan biodata personal, buku ini justru mengartikulasikan konstelasi dangdut di Jogja sebelum dan sesudah mereka hadir.

Pada bagian awal, pembaca akan dibawa dengan sekejap pada keadaan dangdut berturut-turut di tahun 1970, 1980, 1990, 2000, dan 2010-an. Baru setelahnya, buku ini menceritakan perjalanan Om Wawes, mulai dari format penyanyi solo, electone, hingga band.

Lebih lanjut, buku ini menceritakan perjalanan Om Wawes dengan pelbagai lika-likunya. Pasalnya tidak dapat dipungkiri jika Om Wawes telah mengawali karier mereka di dangdut sejak tahun 2012. Sehingga keadaan dangdut sangat berbeda dengan apa yang kita rasakan sekarang, di mana penonton muda, perempuan, dan kece tidak malu untuk menyaksikan dangdut secara langsung.

Perjalanan berliku, mulai dari biduan perempuan, lagu yang disajikan, hingga kiblat musikal membuat Om Wawes jatuh-bangun menapaki karier di dalam jagad musik dangdut. Maka itu, buku ini juga mengurai apa yang mereka arungi dan mereka ubah, mulai dari gender dari biduan, konsep musikal, tema lirik, hingga performativitas mereka. Dampaknya adalah terjalinnya perubahan pada ruang pertunjukan, penonton, hingga citra yang melekat pada dangdut.

Alhasil buku ini tidak hanya dapat membaca sejarah masa lalu dangdut di Jogja, tetapi juga mengurai dangdut masa kini, dan menerka bagaimana masa depan dangdut di Jogja ataupun nasional.