500-an Orang Sudah Mendaftar, Sleman Temple Run Tetap Digelar di Tengah Pandemi

Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) dan Dispar menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY menggelar kegiatan seminar terbatas Strategi Promosi Pariwisata Sleman Era New Normal dalam Sudut Pandang Media Massa di Hotel Alana, Selasa (25/8/2020).-Harian Jogja - Hamid Abdul Razak
25 Agustus 2020 20:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman mengupayakan tiga even besar yang sudah menjadi icon Sleman tetap bisa digelar di tengah penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Kepala Dispar Sleman Sudarningsih mengatakan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini Dispar mengupayakan tetap digelarnya tiga even tahunan berskala besar. Ketiga agenda besar pariwisata yang disiapkan itu bertema sport tourism. Meliputi Sleman Temple Run, Tour de Merapi dan Sapta Pesona Pariwisata.

"Untuk even terdekat yang masih kami upayakan adalah Sleman Temple Run. Sudah ada pendaftar 500 orang peserta dari berbagai daerah termasuk dari warga negara asing," katanya usai kegiatan seminar terbatas Strategi Promosi Pariwisata Sleman Era New Normal dalam Sudut Pandang Media Massa di Hotel Alana, Selasa (25/8/2020).

Dijelaskan Ningsih, penyelenggaraan Sleman Temple Run tersebut akan digelar pada 27 September mendatang. Untuk start dan finish rencananya dilakukan di destinasi wisata Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan. "Yang jadi masalahnya, bagaimana teknis setelah lari agar peserta tidak berkerumun dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Nah saat ini kami masih terus menggodok aturannya," katanya.

Ditanya soal peserta WNA, Ningsih mengatakan jika peserta WNA itu karena pandemi Covid-19 sejak lama sudah stay di Indonesia. Meskipun begitu, seluruh peserta tetap harus membawa hasil rapid test non reaktif sebelum mengikuti kegiatan tersebut. "Aturan seperti wajib rapid test tetap dijalankan," katanya.

Selain Sleman Temple Run, Dispar juga mengupayakan berlangsungnya even Tour de Merapi yang juga berskala nasional. Jika Sleman Temple Run peserta diajak menyusuri sejumlah candi yang berada di Sleman, maka Tour de Merapi fokus untuk mengunjungi desa-desa wisata menggunakan sepeda motor.

"Desa wisata rencananya secara serentak akan beroperasi mulai September mendatang. Diharapkan gerak ekonomi masyarakat di desa-desa wisata bisa kembali bergeliat," katanya.

Terpisah, Ketua BUMDesa Boko Makmur A.T. Kawakib mengatakan rencana penyelenggaraan di Candi Banyunibo memang pernah dirapatkan. Warga dan pelaku UMKM di Bokoharjo mendukung langkah tersebut. Selain untuk lebih mengenalkan destinasi wisata Banyunibo, kegiatan tersebut juga diyakini mampu meningkatkan perekonomian warga.

"Sebagai sebuah destinasi wisata, Warga sekitar dan pelaku UMKM sangat tergantung dengan kunjungan wisatawan," kata Akib.

Dia menyontohkan beberapa kegiatan besar yang pernah digelar di Banyunibo. Seperti Festival Gerobak Sapi. Saat festival tahunan tersebut digelar pada 2019 lalu, Warga dan pelaku usaha menerima pemasukan yang lumayan. "Baik dari pengelolaan parkir maupun produk UMKM yang ditawarkan," katanya.

Meskipun begitu, Akib berharap agar kegiatan Sleman Temple Run tetap melibatkan warga. Pelibatan tersebut dinilai penting agar masyarakat merasa memiliki dan bertanggungjawab untuk ikut menyukseskan even besar tersebut. "Pelibatan warga dalam kegiatan itu juga untuk koordinasi pada rute yang akan dilalui. Karena ada rute yang digunakan juga menjadi rute jip pariwata," katanya.