SEWINDU UUK DIY: Jogja Istimewa karena Orang & Budayanya

Talkshow online bertajuk "Sewindu Keistimewaan DIY" yang digelar di Pesonna Tugu Hotel Yogyakarta, Kamis (3/9/2020)-Harian Jogja - Laila Rochmatin
03 September 2020 21:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Keistimewaan Jogja yang diatur dalam Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY genap berusia delapan tahun. Sewindu perjalanannya, keistimewaan memiliki berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat Jogja, tak terkecuali dalam kebudayaan dan pariwisata.

Tidak hanya istimewa wilayahnya, juga istimewa orangnya. Dalam sewindu keistimewaan Sekretaris Pemda DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan bahwa sejatinya keistimewaan Jogja sudah sejak awal. Namun UUK yang ditetapkan sejak delapan tahu telah berpengaruh banyak dalam sendi kehidupan masyarakat Jogja. "Tentu sudah cukup banyak hal. Memang pada awal kita masih merabab dengan regulasi baru, namun perlahan menyesuaikan dan memanfaatkan kesitimeeaan untuk kesejahteraan rakyat," ungkapnya pada Kamis (3/9/2020) dalam Talkshow Online Sewindu Keistimewaan yang diselenggarakan Harian Jogja bekerja sama dengan Pesonna Tugu Hotel Jogja dan Pemda DIY.

Ada lima pilar dalam keistimewaan Jogja, Baskara menyebutkan salah satunya adalah kebudayaan. Dia menilai keistimewaan paling banyak menyentuh di bidang kebudayaan. Namun Baskara menyatakanjika kebudayaan tidak semata-mata seni tari, karawitan, dan kesenian lainnya. "Kita memaknai kebudayaan itu dari segala aspek, termasuk dalam kehidupan sehari-hari," terangnya.

Baskara menuturkan dari pengelolaan dana istimewa (danais) di banyak pemanfaatannya yang digunakan untuk menyejahterakan masyarakat. Kendati demikian dalam sewindu keistimewaan ini Baskara berharap berbagai pihak jangan berpuas diri. "Banyak kelemaham di sana, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk lebih baik, sehingga kita mendapat konsep terbaik," ungkapnya.

Ada beragam contoh penggunaan danais yang secara langsung maupun tidak langsung mampu menyentuh kesejahteraan masyarakat. Baskara memberi contoh bagaimana penataan kawasan pedestrian Malioboro yang menjadi ikon Kota Jogja. Dari situ ekonomi masyarakat Jogja Malioboro bergerak.

Seusai arahan dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Baskara tidak menempatkan masyarakat menjadi objek pembangunan, melainkan jadi subjek, ikut ambil dalam pembangunan. "Kita ajak dalam berpartisipasi aktif dalam pembangunan," ujarnya. Baskara menegaskan bahas masyarakat tidak dieksploitasi tapi diberi kesempatan untuk memberdayakan dirinya sendiri ikut membangun keistimewaan Jogja

Ditambahkan Baskara, Wisata dan pendidikan menjadi tonggak ekonomi DIY. "Kalau kita lihat di bidang pariwisata, karena pertumbuhan ekonomi di DIY berasal dari pendidikan 14,7 persen dan 14,1 persen dari pariwista," jelasnya.

Keistimewaan orang Jogja dapat dilihat saat menghadapi pandemi. Di tengah pandemi Covid-19, wisata Jogja terus berbenah membuktikan diri bahwa protokol kesehatan diterapkan bisa diterapkan dengan baik di Jogja.

Ragam seni dan budaya yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan, seolah tidak mati meski dihadang pandemi. Danais pun digelontorkan guna mendukung aktivitas seni dan buaya.

Baskara secara terang-terangan meminta birokrasi agar lebih lentur khususnya dalam pengelolaan administrasi danais yang kerap diajukan para seniman. Ketika yang dihadapi seniman, Baskara menilai para birokrat tak bisa kita saklek begitu saja. "Birokrasi harus paham seniman, seniman paham birokrasi," jelasnya.

Pihaknya tak memungkiri bahwa sosialisasi soal penggunaan danais perlu dilakukan.

Pasalnya manajemen prosedur penggunaan danais harus diketahui para seniman. Menurutnya danais yang merupakan dana publik harus dipertanggungjawabkan penggunaannya ke masyarakat, digunakan untuk apa lantas hasilnya seperti apa. "Pemerintah punya kewajibam yang bisa dipermudah jangan dipersulit," tuturnya. Birokrasi harus jadi facilitator kepada masyarakat.

Modal Sosial Istimewa

Baskara tak mengarah langsung kepada kategorisasi antara kebudayaan benda dan tak benda. Baginya keduanya saling terkait. Misalnya macapat, candi dan sebagainya. "Maka sebenarnya memahami kebudayaan lebih ke arah bagaimana unsur budaya bisa berkembang,"terangnya. Dia membuat sebuah permisalan, di mana mata pencaharian sebagai bagian kebudayaan, jika seorang petani akan melakukan tanam padi, garu, ngluku yang kesemuanya juga bagian dari kebudayaan.

Kebudayaan yang menjadi salah satu minat bagi para wisatawan tidak hanya terpaku pada ekonomi saja, begitu pun sebaliknya.

Baskara menuturkan bahwa mind side perlu diubah. Baskara menyebut bahwa wisatwaan datang ke Jogja karena mereka yakin Jogja dengan masyarakat Jogja yang istimewa mampu dengan serius melaksanakan protokol Covid-19. "Artinya mengubah mind side itu sulit, fungsi keistimewaan bis membangun rasa kebersamaan orang Jogja, dengan begitu bersama-sama menjaga nama baik Jogja," imbuhnya.

General Manager Pesonna Hotel Tugu Jogjakarta, Joko S. Widiyanto, menyebutkan Jogja punya keistimewaan yakni komitmen dengan apa yang dijalankan termasuk dalam penegakan protokol Covid-19. "Menguri-nguri bukan sesuatu yang baru, memberikan konsistensi ini yang penting kita menerapkan banyak protokol tujuannya untuk Menguri-nguri bagaimana wisatawan telah memenuhi protokol yang ada,"

Joko menyebutkan bagaimana keistimewaan Jogja mampu menaikkan keuntungan hotel dari satu digid menjadi tiga digid. "Dengan kesitimewaan tidak boleh kita terkena, kita harus terapkan keistimewaan tanpa mengabaikan protokol," tegasnya.

"Di Jogja dengan kesitimewaannya menjamin protokol dengan baik, wisata diedukasi itu menjadi jaminan, jaminan ini yang arus kita lalukan," ujar Joko.
Dia mengatakan Jogja istimewa orangnya, dapat dilihat dari komitmen menjalankan protokol kesehatan yang barang kali tidak terjadi di wilayah lain.
"Konsisten kalau orang ketemu enggak pakai masker ya rikuh, orangnya tertib semua, istimewa orangnya enggak usah disuruh begitu keluar pakai masker, cuci tangan, bawa perlengkapan," tegasnya.
Komitmen ini yang menarik wisatawan dan turut membantu pelaku bidang usaha dari mulai warung kecil hingga resto dan hotel.

Seniman dan Founder Mantradisi, Paksi Raras Alit berpendapat bahwa keistimewaan Jogja di bidang budaya mampu merangkul seniman bahkan seniman non-populis. Kesenian yang sulit mendapatkan ruang, seperti macapat dapat mendapat ruang dan terfasilitasi oleh danais. "Mungkin kalau nyari sponsor dari luar, swasta, enggak ada yang mau membiayai," ujarnya.

Selama sewindu pula, Paksi mencatat ribuan festival kesenian diadakan yang bersumber dari danais. "Saya dua kali jadi direktur utama FKY [Festival Kesenian Yogyakarta], itu 100 persen dananya dari danais," jelasnya. Menurutnya keistimewaan bisa jadi laboratorium untuk seniman dengan fasilitas kegiatannya yang harapannya bisa mandiri dan kemudian menghidupi lainnya.

Paksi justru menyoroti seniman untuk mengerti bagaimana mekanisme penggunaan danais dan bagaiamana cara memanajemennya. Tidak hanya meraih dana tanpa pertanggungjawaban yang baik.

Selain itu Paksi berharap para seniman terus berkembang, dengan inovasi dan kreativitasnya dapat bertahan dalam segala kondisi termasuk pandemi. Menurutnya seniman yang hanya mengeluh dapat dikatakan seniman keset. Adaptasi do tengah pandemi sudah banyak dilakukan seniman, termasuk kegiatan yang menjadi ajang kumpul seniman yakni FKY tahun ini rencananya akan digelar virtual.
"Keistimewaan DIY bukan tanggung jawab pemerintah saja, tapi masyarakat harus menjadi subjek agar bsia berkolaborasi, agar bisa berjalan bersama, kreatif dan dan inovatif," tukasnya.