Demi Mengajar Siswa di Pulau Buru, 3 Mahasiswa Jogja ini Rela Melewati Sungai dan Pegunungan

Dodi Irawan saat mengajar siswa di Pulau Buru. - @Youtube.
05 September 2020 13:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga mahasiswa asal Jogja nekat berangkat ke Pulau Buru demi memberikan pendampingan terhadap anak sekolah di pulau terluar tersebut. Mereka menemukan fakta masih perlunya dukungan Pendidikan di Indonesia timur yang masih sangat tertinggal.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Dodi Irawan, Azmiya Aisyah dan Mahmud Kaliky dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja. Mereka mengabadikan kegiatannya itu dalam film dokumenter bertajuk Senandung Kecil Pulau Buru. Ekspedisi itu digelar selama 28 hari dengan kurun waktu antara November hingga Desember 2019 silam.

Ide giat di Pulau Buru itu berawal dari Dodi yang merupakan aktivis mahasiswa dan beberapa kali melakukan ekspedisi. Salah satu keinginannya adalah melakukan ekspedisi di Indonesia Timur, dalam hal ini Pulau Buru. Ia beberapa kali menemui dosen namun belum ada titik temu untuk bisa memfasilitasi idenya tersebut.

BACA JUGA : Guncangan Gempa di Pulau Buru Terasa sampai ke Ambon 

Sampai akhirnya mahasiswa Ilmu Komunikasi ini memberanikan diri untuk bertemu Profesor Dwi Sulisworo, seorang guru besar di kampusnya yang sejak 2005 konsen dengan penelitian pendidikan di Indonesia Timur.  “Waktu itu saya dapat nomor kontak beliau, saya bingung juga mau memulai pembicaraan dari mana soal rencana [ke Pulau Buru] ini,” ungkap Dodi melalui akun Youtube Universitas Ahmad Dahlan.

“Ngomongnya ingat saya bulan 11 [November 2019], saya bilang, mau enggak Pak jadi dosen pembimbing saya terkait pengabdian di Indonesia Timur, beliau menanggapi positif dan menampung aspirasi saya,” ujarnya.

“Beliau bertanya, berapa tim? Saya jawab, sendiri cukup. Beliau menyarankan kalau bisa bawa tim biar ada yang mendokumentasikan, dengan prof Dwi inilah saya ada titik temu untuk saya bisa berangkat ke Pulau Buru,” ucap Dodi lagi.

BACA JUGA : Sejumlah Kampus Berikan Bantuan Logistik untuk Mahasiswa 

Setelah mendapatkan lampu hijau dari kampus, Dodi mengajak Azmi dan Mahmud untuk berangkat ke Pulau Buru dengan kegiatan bertajuk Orange Expedition. Ketiganya pun tidak memiliki banyak referensi secara nyata tentang pulau tersebut. Mereka hanya mendapatkannya dari cerita-cerita tentang Pulau Buru yang menyeramkan bagi Sebagian orang. Setelah melakukan riset ringan, mereka menentukan tujuannya adalah sebuah desa, yaitu Desa Lamahang, Kecamatan Waplau, Kabupaten Buru.

Disuruh Bayar

Tim ini mengawali perjalanan darat menuju Tanjung Perak Surabaya, kemudian menggunakan Kapal untuk mengarungi samudera indonesia. Ada cerita unik saat akan masuk ke kapal. Tim yang membawa sedikitnya 700 buku sempat diminta untuk membayar oleh petugas kapal. Namun setelah dijelaskan bahwa ratusan buku akan disumbangkan untuk membantu pendidikan anak di Pulau Buru, petugas pun mempersilahkan masuk.

“Ditanya awak kapal, ini apa? yang lain ditimbang punyaku mau ditimbang juga, ini buku buat anak di pulau buru  bukan buat dijual, lama-lama kami ngobrol dibuka, tanpa ditimbang akhirnya dinaikkan,” katanya.

BACA JUGA : EKSPEDISI BERSEJARAH: Menembus Dasar Luweng

Dodi, Azmi dan Mahmud pun menunjukkan sikap kerelawanannya di atas kapal selama perjalanan tiga hari dua malam dengan menggelar buku-buku tersebut di atas kapal untuk dijadikan perpustakaan. “Gelar lapak di kapal, semua orang bebas membaca dan mengembalikan selama di kapal,” kata dia.

Gunung & Sungai

Setibanya di Desa Lamahang, tim melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat mulai dari Ketua RT hingga Kepala Desa. Tujuan kedatangan yang mereka sampaikan adalah untuk misi pendidikan terutama mengajar anak untuk membaca dan menulis. Di desa tersebut ada satu SMP dan lima SD yang mereka sasar. Kondisi sekolah dan siswanya pun sangat memprihatinkan, masih banyak yang belum bisa membaca.

Dalam perkembangannya warga dari desa lain yang mengetahui tim Orang Expedition meminta untuk dikunjungi juga. Ketiga mahasiswa ini pun semakin tertantang dengan melewati hutan alami, sungai dan jalan setapak ia pun menyanggupi ajakan warga. Mereka menemukan sebuah perkampungan yang masih perawan yang disebut sebagai desa persiapan.

“Respons warga sangat luar biasa, dari awalnya satu desa tujuan kami, karena banyak permintaan akhirnya sampai ke atas desa daerah pegunungan, di mana perjalanan pakai truk itu 1,5 jam. Jalannya bebatuan melewati tujuh sungai, kami lewati jalan setapak, ada sebuah desa, ini desa baru persiapan menjadi desa istilahnya,” kata Azmi.

Tak Hafal Pancasila

Dengan mengunjungi wilayah yang lebih terisolir ini, tim menemukan sejumlah fakta menarik di Pulau Buru, salah satunya ada satu SMP yang siswanya rata-rata kesulitan mengucapkan sila keempat Pancasila.

“Sampai kami menemukan satu SMP, yang benar-benar untuk setingkat SMP, pancasila belum hafal, terutama sila keempat mengucapkan permusyawaratan agak susah,” katanya.

BACA JUGA : Kisah Mapala UGM Arungi Sungai Franklin di Pulau Tasmania

Kabid Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa UAD Danang Sukantar mengapresiasi tiga mahasiswanya yang memiliki kepeduian melakukan pengajaran membaca dan menulis di Pulau Buru. Kampus sepenuhnya mendukung ekspedisi tersebut hingga dapat diterbitkan melalui film. Dengan adanya film dokumenter berdurasi 30 menit tentang pendidikan di Pulau Buru harapannya ada banyak pihak untuk menaruh perhatian terhadap pengembangan Pendidikan di pulau tersebut.

“Karena berdasarkan fakta temuan mahasiswa ini, bahwa pendidikan di sana kondisinya memang butuh perhatian, misalnya sekolah masih ada yang tidak pakai sepatu dan sejumlah fakta menarik lainnya,” ujarnya.