Sejumlah Kampus Berikan Bantuan Logistik untuk Mahasiswa DIY yang Tidak Mudik

Poster imbauan untuk tidak mudik. - Istimewa
02 April 2020 14:57 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sejumlah kampus di DIY akan memberikan logistik berupa sembako untuk mahasiswa yang tidak mudik dan tetap bertahan di rumah indekos selama pandemi Covid-19. Sasaran utama bantuan sembako adalah mahasiswa yang menetap di permukiman yang ditutup atau lockdown.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Suharyadi mengatakan UGM akan memberikan bantuan logistik kepada mahasiswanya yang masih bertahan di pondokan selama pandemi Covid-19 ini sampai dengan masa perkuliahan kembali normal. Kini mahasiswa UGM tengah menjalani perkuliahan daring atau jarak jauh.

“Kami rencanakan sampai dengan waktu kuliah aktif. Setiap mahasiswa akan menerima beberapa kali logistik selama yang bersangkutan tetap di Jogja,” kata dia pada Harian Jogja, Kamis (2/4/2020).

Menurutnya, bantuan diberikan tidak hanya bagi mahasiswa yang tidak mampu, tetapi juga untuk mahasiswa yang mulai mengalami kesulitan mengakses logistik sebab beberapa warung mulai tutup. Sementara ini sumber pendanaan berasal dari civitas akademika, alumni, dan donatur.

Pada tahap pertama, kata Suharyadi, ada 900 mahasiswa yang ditargetkan menerima satu paket sembako untuk satu minggu berupa beras, makanan instan, dan vitamin. Bantuan didistribusikan setiap hari dengan penjadwalan supaya mengurangi potensi kerumunan.

“Untuk tahap kedua, jumlah mahasiswanya masih kami data. Beberapa fakultas melakukan hal yang sama seperti Fakultas Peternakan, Fisipol, dan lain-lain," katanya.

Praktik serupa juga dilakukan Universitas NegerI Yogyakarta (UNY) yang menerapan pembelajaran jarak jauh sampai dengan 21 April mendatang dari kebijakan semula yang hanya sampai 31 Maret.

Kepala Humas dan Protokoler Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY Dwi Retno Sri Ambarwati menuturkan kampus baru saja membagi sembako untuk 150 mahasiswa FBS UNY pada tahap pertama. Sementara, untuk tahap kedua, FBS UNT masih mendata mahasiswa yang tengah krisis logistik. Saat ini data sudah terkumpul sebanyal 48 mahasiswa.

"Sasaran kami untuk anak kos yang kehabisan uang dan bahan makanan. Utamanya lagi mahasiswa bidikmisi yang tidak mendapat kiriman dari orang tuanya, juga untuk mahasiswa yang terdampak lockdown wilayah sehingga tidak bisa ke mana-mana untuk beli bahan makanan," ujar Retno.