Anggaran Droping Air Dipangkas, BPBD Gunungkidul Siapkan BTT
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Ilustrasi. /Antara foto- Okky Lukmansyah
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – BPBD Gunungkidul mencatat sudah ada 15 kapanewon yang terdampak kekeringan. Meski terus meluas, dipastikan anggaran dropping air bersih yang dimiliki masih sangat mencukupi.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, mayoritas wilayah di Gunungkidul mengalami krisis air bersih saat musim kemarau. Pasalnya, dari 18 kapanewon, hanya tiga kapanewon yang tidak mengalami kekeringan.
Baca juga: Pasien Corona Gunungkidul Tembus 200 Kasus
“Wonosari, Playen dan Karangmojo merupakan wilayah yang tak terdampak kekeringan. Sedangkan 15 kapanewon lainnya membutuhkan bantuan air bersih,” kata Edy menjawab pertanyaan Harianjogja.com, Selasa (8/9/2020).
Dia menjelaskan, jika ditotal ada 413 dusun yang mengalami kekeringan. Sedang dari jumlah penduduk, krisis air berdampak terhadap 129.788 jiwa. Adapun jumlah kekeringan terparah terjadi di Tanjungsari dan Girisubo karena jumlah warga terdampak lebih dari 20.000 jiwa. “Di kapanewon lain, jumlahnya masih dibawah Tanjungsari dan Girisubo,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Warga Selomartani Tinggal di Gubuk, Sakit Belum Bisa Periksa ke Dokter
Meski wilayah yang terdampak kekeringan terus meluas, Edy memastikan ketersediaan anggaran masih mencukupi. Pasalnya, dari alokasi dropping sebesar Rp700 juta untuk 3.000 tangki masih tersedia. “Yang dilakukan dropping baru sebanyak 692 tangki sehingga stoknya masih mencukupi untuk disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini menuturkan, pelaksanaan dropping tidak hanya dilakukan oleh kabupaten karena ada kapanewon yang memiliki anggaran sendiri. Oleh karenanya, di dalam penyaluran bantuan terus dilakukan koordinasi agar bisa tepat sasaran.
“Untuk anggaran mudah-mudahan mencukupi karena diperkirakan mulai akhir September sudah memasuki pancaroba dan akhir Oktober sudah mulai masuk musim hujan,” kata Edy.
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, pihaknya terus melakukan droping ke masyarakat yang kekurangan air bersih. Secara umum, hampir seluruh wilayah di Girisubo mengalami krisis saat kemarau karena sumber air yang dimiliki sangat terbatas.
Untuk masalah anggaran, ia mengakui sudah banyak terpakai untuk membayar kegiatan dropping air bersih yang dilakukan oleh pihak ketiga. Diperkirakan dana sebesar Rp90 juta yang dimiliki akan habis di akhir September ini. “Targetnya 500 tangki, tapi di akhir Agustus sudah tersalurkan sebanyak 325 tangki. Perkiraan kami nanti di akhir bulan sudah habis,” kata Arif.
Dia pun berharap segera memasuki musim hujan agar kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi. Meski demikian, apabila anggaran di kapanewon telah habis dan belum memasuki musim penghujan, maka akan meminta bantuan kepada BPBD Gunungkidul agar memperluas penyaluran air bersih di Kapanewon Girisubo. “Kami tidak dropping sendirian, tapi juga ada bantuan dari BPBD,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Portugal vs Spanyol di 16 besar Piala Dunia 2026. Oyarzabal percaya diri, cek prediksi skor dan susunan pemain.
Prabowo dan PM Singapura Lawrence Wong bertemu di Leaders’ Retreat 2026 Jakarta, bahas kerja sama strategis dan proyek bilateral.
Jokowi mulai safari politik ke sejumlah daerah usai Lampung. PSI jadi titik awal, partai lain ikut memberi respons.
Menpar dorong integrasi Pokdarwis dan koperasi untuk perkuat desa wisata, tingkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Mendikdasmen ungkap skema kantin dalam program MBG masih dikaji, bantuan hanya untuk siswa yang membutuhkan.