Kekeringan di Gunungkidul Meluas, Bagaimana Ketersediaan Anggaran Dropping Air Bersih?

Ilustrasi. - Antara foto/ Okky Lukmansyah
09 September 2020 05:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – BPBD Gunungkidul mencatat sudah ada 15 kapanewon yang terdampak kekeringan. Meski terus meluas, dipastikan anggaran dropping air bersih yang dimiliki masih sangat mencukupi.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, mayoritas wilayah di Gunungkidul mengalami krisis air bersih saat musim kemarau. Pasalnya, dari 18 kapanewon, hanya tiga kapanewon yang tidak mengalami kekeringan.

Baca juga: Pasien Corona Gunungkidul Tembus 200 Kasus

“Wonosari, Playen dan Karangmojo merupakan wilayah yang tak terdampak kekeringan. Sedangkan 15 kapanewon lainnya membutuhkan bantuan air bersih,” kata Edy menjawab pertanyaan Harianjogja.com, Selasa (8/9/2020).

Dia menjelaskan, jika ditotal ada 413 dusun yang mengalami kekeringan. Sedang dari jumlah penduduk, krisis air berdampak terhadap 129.788 jiwa. Adapun jumlah kekeringan terparah terjadi di Tanjungsari dan Girisubo karena jumlah warga terdampak lebih dari 20.000 jiwa. “Di kapanewon lain, jumlahnya masih dibawah Tanjungsari dan Girisubo,” ungkapnya.

Baca juga: Kisah Warga Selomartani Tinggal di Gubuk, Sakit Belum Bisa Periksa ke Dokter

Meski wilayah yang terdampak kekeringan terus meluas, Edy memastikan ketersediaan anggaran masih mencukupi. Pasalnya, dari alokasi dropping sebesar Rp700 juta untuk 3.000 tangki masih tersedia. “Yang dilakukan dropping baru sebanyak 692 tangki sehingga stoknya masih mencukupi untuk disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini menuturkan, pelaksanaan dropping tidak hanya dilakukan oleh kabupaten karena ada kapanewon yang memiliki anggaran sendiri. Oleh karenanya, di dalam penyaluran bantuan terus dilakukan koordinasi agar bisa tepat sasaran.

“Untuk anggaran mudah-mudahan mencukupi karena diperkirakan mulai akhir September sudah memasuki pancaroba dan akhir Oktober sudah mulai masuk musim hujan,” kata Edy.

Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, pihaknya terus melakukan droping ke masyarakat yang kekurangan air bersih. Secara umum, hampir seluruh wilayah di Girisubo mengalami krisis saat kemarau karena sumber air yang dimiliki sangat terbatas.

Untuk masalah anggaran, ia mengakui sudah banyak terpakai untuk membayar kegiatan dropping air bersih yang dilakukan oleh pihak ketiga. Diperkirakan dana sebesar Rp90 juta yang dimiliki akan habis di akhir September ini. “Targetnya 500 tangki, tapi di akhir Agustus sudah tersalurkan sebanyak 325 tangki. Perkiraan kami nanti di akhir bulan sudah habis,” kata Arif.

Dia pun berharap segera memasuki musim hujan agar kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi. Meski demikian, apabila anggaran di kapanewon telah habis dan belum memasuki musim penghujan, maka akan meminta bantuan kepada BPBD Gunungkidul agar memperluas penyaluran air bersih di Kapanewon Girisubo. “Kami tidak dropping sendirian, tapi juga ada bantuan dari BPBD,” katanya.