Hebat, lewat Masker, Perempuan Ini Sambung Komunikasi Difabel Tuli

Dwi Rahayu Februarti memilah bahan dan menjahit masker transparan khusus penyandang tuli di kediamannya, belum lama ini. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi.
13 September 2020 11:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejak pandemi, masker menjadi alat yang wajib dipakai semua orang. Akibatnya ini acap merepotkan sebagian orang, salah satunya adalah penyandang difabel tuli. Pasalnya gerak mulut yang selama ini menjadi salah satu cara mereka berkomunikasi dengan orang lain menjadi  terhambat.

Sejak pandemi, dunia semakin hening bagi penyandang tuli. Masker yang menutupi gerak mulut orang-orang sekitar membuat mereka seakan terputus dari dunia luar.

Atas dasar itulah, Dwi Rahayu Februarti, 41, menciptakan inovasi sederhana berupa masker transparan. Meski menemui banyak tantangan dalam proses sosialisasi, Dwi konsisten mendistribusikan masker transparan hingga ke luar DIY.

Masa awal pandemi merebak di DIY, seluruh tenaga kesehatan kalang kabut menangani jumlah pasien positif Covid-19 yang mulai membludak. Di tengah sibuk dan padatnya rumah sakit, Dwi harus menemani sang ibu rawat inap di sebuah rumah sakit swasta.

Masih terukir jelas di pikirannya saat dia ingin meminta fasilitas oksigen untuk sang ibu, dia begitu kesulitan berkomunikasi dengan tenaga kesehatan. “Tenaga kesehatan semuanya sibuk dan mereka semua mulutnya tertutup oleh masker. Saya sama sekali tidak tahu apa yang mereka katakan. Gerak mulutnya tidak terlihat sama sekali,” kata Dwi kepada Harianjogja.com, beberapa waktu lalu.

Sebagai difabel tuli, Dwi susah bersuara saat berbicara. Tenaga kesehatan tak bisa mendengarnya dengan jelas. Sebaliknya Dwi tak bisa membaca arti isyarat berupa gerakan tangan tak teratur dari tenaga kesehatan yang bicara dengannya. Padahal, mereka pun tidak boleh membuka masker saat berada di area rumah sakit.

Setelah berbincang dengan sesama difabel tuli, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama. Saat sedang di tempat umum, mereka kesulitan berkomunikasi dengan orang sekitar. Sejak pandemi, dunia mendadak semakin sunyi bagi mereka.

Dwi kemudian memperhatikan masker oksigen transparan milik sang ibu. Dia pun langsung terinspirasi untuk membuat masker dengan bahan transparan. Tanpa menunda, Dwi mencari banyak referensi dari tenaga kesehatan dan internet tentang pembuatan masker transparan yang aman digunakan.

Seusai pulang ke rumah, Dwi belajar membuat masker transparan. Awalnya Dwi melubangi bagian tengah masker dalam bentuk persegi panjang. Bagian yang dilubangi itu kemudian ditutup dengan mika plastik transparan. Setelah digunakan, ternyata produk itu belum sempurna. “Ternyata kurang nyaman bagi kami karena plastiknya langsung lengket ke bibir dan kalau ada embusan nafas pasti ada embunnya. Akhirnya saya cari-cari lagi model yang pas dan nyaman digunakan,” kata perempuan yang juga Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Sleman ini. 

Bagikan Gratis

Dwi kemudian memodifikasi masker transparan buatannya. Bagian yang dipasang mika transparan dibuat lebih condong ke depan. Caranya dengan membuat kerangka masker yang disesuaikan dengan posisi mulut, hidung dan dagu. Menurut Dwi, bagian paling sulit adalah saat menjahit kerangka masker dan menjahit mika ke kain masker.

“Setelah jadi, maskernya saya foto dan saya unggah di Facebook Gerkatin Sleman, tetapi hanya satu yang merespons dan mau pakai. Saya tidak berhenti sosialisasi, saya buat sendiri masker transparannya kemudian saya bagi gratis ke anggota Gerkatin Sleman,” kata Dwi.

Meski dengan dana terbatas, Dwi memiliki niat kuat untuk menyebarluaskan masker transparan itu. Harapannya, semua orang akan menggunakan masker itu dan menyadari keberadaan penyandang tuli di tengah pandemi ini. Maka setelah dibagikan ke para anggota, Dwi mencoba merangkul anggota untuk bersama-sama membuat masker transparan.

Ajakannya tak direspons oleh para anggota. Mereka yang melihat cara Dwi membuat masker transparan mundur karena tak yakin mampu menjahit dengan detil yang rumit.

Tak patah arang, Dwi melakukan wawancara dengan beberapa media khusus difabel. Menurutnya itu hal yang lumrah dia lakukan sebagai Ketua Gerkatin Sleman. “Setelah masker transparan masuk media, banyak pesanan datang tidak hanya dari daerah Jogja. Ada yang luar pulau Jawa juga. Sampai sekarang masih mengerjakan pesanan dibantu suami saya,” kata Dwi.

Masker transparan Dwi menggunakan bahan katun yang tidak panas. Dalam sehari setidaknya dia bisa membuat lima hingga 15 masker dan semua masker itu dibagikan ke penyandang tuli secara gratis. Bagi masyarakat umum yang menginginkan masker itu, Dwi hanya meminta upah untuk bahan sebagai ganti harga masker.