Di Sleman, Wisata Alam Dinilai Paling Konsisten Terapkan AKB Masa Pandemi Covid-19

Wisatawan mulai ramai mendatangi Bukit Klangon di Glagaharjo, Cangkringan, Minggu (13/9/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
13 September 2020 12:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Destinasi Wisata Alam yang beroperasi di Sleman dinilai konsisten menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) di masa pandemi Covid-19. Selain menjadi komitmen pengelola, penerapan AKB di destinasi wisata alam juga untuk mencegah munculnya klaster wisata.

Bukit Klangon Glagaharjo Cangkringan yang dibuka untuk umum dalam dua bulan terakhir, misalnya, menyedot perhatian wisatawan. Mereka datang baik bersama keluarga, kolega dan komunitas untuk menikmati pemandangan indah lereng Gunung Merapi.

Sadar jika saat ini masih pandemi Covid-19, pengelola menerapkan protokol yang mencakup kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan yang lestari atau Cleanliness, Health, Safety and Environment (CHSE).

Baca juga: Penelitian: Orang Muda yang Terinfeksi Corona Berisiko Punya Masalah Kesehatan Serius

Satu persatu pengunjung yang datang oleh petugas diminta untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum masuk area wisata. Setiap wisatawan yang masuk diwajibkan memakai masker dan diperiksa suhu tubuhnya. Wisatawan juga diingatkan untuk menghindari kerumunan.

Salah seorang pengelola Wisata Bukit Klangon Gunawan mengatakan mereka juga memasang poster-poster imbauan untuk mengingatkan wisatawan agar mematuhi protokol kesehatan. Keluasan area wisata membuat wisatawan dengan mudah menjaga jarak satu sama lainnya. "Kami juga menyiapkan tempat cuci tangan di sejumlah titik. Untuk kursi di warung-warung sudah di sekat-sekat agar pengunjung tetap bisa menjaga jarak," katanya, Minggu (13/9/2020).

Baca juga: Okupansi Tempat Tidur Unit Perawatan Intensif Corona di DKI Jakarta Kini 78 Persen

Di destinasi ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan Merapi di sejumlah wahana yang disediakan. Beberapa komunitas pesepeda juga terlihat menikmati bike park yang menjadi salah satu andalan destinasi tersebut. Begitu juga dengan wisata camp (perkemahan) yang dibuka secara terbatas.

Diujung Timur Sleman, destinasi wisata Tebing Breksi, Sambirejo, Prambanan, masih menjadi salah satu destinasi favorit yang dikunjungi wisatawan. Terutama saat libur akhir pekan, pengunjungnya mencapai ribuan orang. Meskipun tidak sepadat sebelum masa pandemi Covid-19, namun jumlah wisatawan yang berkunjung tergolong tinggi.

Ketua Pengelola Wisata Tebing Breksi, Kholiq Widianto mengatakan baik pengelola maupun pengunjung diminta menerapkan protokol kesehatan. Dari sisi pengelola, katanya, petugas sejak pintu masuk dilengkapi alat pelindung diri (APD), termasuk face shield. Pengunjung selain wajib menggunakan masker juga diperiksa suhu tubuhnya.

Tak lupa, petugas mengingatkan kepada wisatawan untuk menerapkan protokol kesehatan baik melalui pengeras suara maupun berkeliling ke titik-titik kerumunan. "Selama penerapan AKB kami gunakan untuk penataan dan menambah venue. Kami menyiapkan 140 karyawan agar mampu menerapkan kebijakan adaptasi kebiasaan baru ini," katanya.

Untuk mendata jumlah pengunjung, lanjut Khaliq pihaknya menggunakan aplikasi Visiting Jogja. Ada juga petugas yang mencatat secara manual. "Kami targetkan sekitar 10.000 kuota pengunjung per hari jauh dari kuota di masa normal 30.000 pengunjung per hari. Saat ini masih jauh di bawah kuota," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih mengatakan sebelum jasa dan usaha pariwisata uji coba secara terbatas, Dispar melakukan verifikasi kelengkapan sarana dan prasarana serta kesiapan sumber daya manusianya. Jika memenuhi syarat untuk menjalankan ketentuan protokol kesehatan, Dispar akan memberikan rekomendasi.

"Semua destinasi wisata menyiapkan dan menjalankan SOP mencakup kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan yang lestari atau CHSE. karmi terus melakukan evaluasi penerapannya," katanya.

Dia mengingatkan agar pelaku usaha dan jasa pariwisata untuk bersikap tegas dan lugas menerapkan protokol kesehatan. Meskipun uji coba operasional terbatas diizinkan, namun pengelola destinasi wisata harus konsisten menerapkan protokol kesehatan.

"Pengelola destinasi wisata harus tegas dalam menerima wisatawan. Kalau tidak mau menerapkan protokol kesehatan, tidak pakai masker, mending ditolak. Sebab ada surat pernyataan pengelola wisata yang bertanggungjawab jika terjadi kasus Covid-19," katanya.