Kena Corona, Pendapatan Gunungkidul Turun Rp193 Miliar

Ilustrasi - Freepik
18 September 2020 15:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pandemi Corona berdampak terhadap plafon anggaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul. Hal ini terlihat dalam Pengantar Nota Keuangan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2020.

Dalam plafon ini diketahui pendapatan daerah anjlok. Sesuai dengan proyeksi di APBD 2020 pendapatan Gunungkidul mencapai Rp1.840.391.610.148,85. Namun dalam rencana pembahasan APBD Perubahan menjadi Rp1.647.187.610.584,59 atau turun sebesar Rp193,2 miliar.

BACA JUGA: Setiba dari Jakarta, Korban Mutilasi di Kalibata City Langsung Dimakamkan di Caturtunggal Sleman

Penurunan target pendapatan ini merupakan akumulasi dari perubahan proyeksi pendapatan yang berasal dari Dana Perimbangan, Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, serta perubahan target Pendapatan Asli Daerah di 2020.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan penurunan pendapatan pemkab ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya dikarenakan adanya pandemi Corona, sehingga pemkab harus melakukan penyesuaian terhadap plafon anggaran melalui pembahasan APBD Perubahan. “Nota pengantar untuk pembahasan sudah kami serahkan ke dewan,” kata Immawan, kemarin.

BACA JUGA: Ini Strategi Kota Jogja Salurkan Beras Bansos untuk Cegah Kerumunan

Menurut dia, sesuai dengan plafon anggaran yang ada , penurunan pendapatan juga disebabkan penurunan dana perimbangan yang ditransfer dari Pemerintah Pusat. Awalnya, dana transfer pusat ini dipatok sebesar Rp1.376.965.341.000, namun sesuai perkembangan jumlahnya berkurang menjadi Rp1.239.194.046.624 atau turun sebesarRp137.771.294.376. “Turunnya sekitar 10,01%,” ungkapnya.

Hal yang sama juga terlihat proyeksi dari lain-lain pendapatan daerah yang saha. Awalnya, pendapatan ini ditargetkans sebesar Rp410.749.862.975,93, namun diperkiarakan turun sebesar Rp21.514.828.281 menjadi Rp389.235.034.694,93. “Kami juga melakukan penyesuaian untu target PAD. Awalnya kita proyeksikan sebesar Rp245.880.405.737,18 menjadi Rp211.962.528.829.92 atau turun sebesar Rp33.917.876.907,26,” katanya.

BACA JUGA: CEK FAKTA: Pesan Berantai Tentang Razia Masker Tersebar di Kulonprogo, Catut Istri Bupati

Immawan mengatakan dampak dari berkurangnya proyeksi pendapatan berpengaruh terhadap sektor belanja. Apabila di APBD 2020, sektor belanja diproyeksikan Rp1.975.714.570.395,13 turun sebesar Rp216.077.903.944,87. “Untuk belanja tak langsung ada kenaikan sebesar Rp86.539.502.602,10, tapi di sektor belanja langsung ada penurunan Rp302.617.406.549,97. Jadi, kalau diakumulasikan sektor belanja tetap ada pengurangan yang signifikan,” katanya.

Anggota DPRD Gunungkidul Ari Siswanto memaklumi apabila ada proyeksi anggaran yang turun karena terdampak pandemic corona. “Wajar kalau ada penurunan,” katanya.

Meski demikian, Ari menyatakan, untuk sektor pendapatan ada yang bisa dioptimalkan. Salah satunya menyangkut PAD, ia menilai meski terkena dampaknya sektor pariwisata masih bisa diandalkan sehingga potensinya bisa dimaksimalkan. “Sudah kami tuangkan dalam pandangan umum fraksi dan kami sampaikan ke bupati,” katanya.