Jatah Pupuk Bersubsidi untuk Gunungkidul Kembali Berkurang, Ini Saran untuk Petani

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
21 September 2020 10:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul memastikan adanya pengurangan jatah pupuk bersubsidi. Kebijakan pengurangan erat kaitannya dengan kebutuhan pupuk di wilayah DIY.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan kabar adanya pengurangan kuota pupuk bersubsidi. Sebagai contoh, alokasi pupuk urea dari 9.777 ton berkurang menjadi 5.837 ton.

Baca juga: Ini Jadwal SIM Masuk Desa Hari Ini dan Besok Selasa 22 September 2020

Hal yang sama juga berlaku untuk pupuk subsidi lainnya. Kuota NPK berkurang dari 6.526 ton menjadi 4.289 ton. Pupuk ZA dari 738 ton menjadi 632 ton, SP-36 daru kuota 548 ton berkurang menjadi 454 ton dan pupuk organic dari 228 ton menjadi 181 ton.

“Tahun ini sudah ada perubahan kuota pupuk sebanyak tiga kali,” kata Raharjo pada akhir pekan lalu.

Menurut dia, pengurangan kuota pupuk bersubsidi sangat bergantung dengan kebijakan dari Pemerintah DIY, selaku pihak yang mengatur tentang jatah pembagian pupuk ini. Hal tesebut juga didukung adanya kebijakan realokasi karena adanya kekurangan kebutuhan pupuk di wilayah lain di DIY.

Baca juga: Tak Banyak Pemuda Ngopi di Cafe, Penjualan Arabika Anjlok

“Bantul memang ada kekurangan saat Juli dan Agustus. Jadi, Pemerintah DIY membuat kebijakan realokasi,” katanya.

Raharjo menuturkan, adanya pengurangan ini petani tidak perlu khawatir. Hal ini dikarenakan apabila penyerapan pupuk subsidi sudah mencapai 90%, maka dinas pertanian dan pangan bisa mengajukan tambahan ke provinsi.

“Saat ini masih di kisaran 80%. Jika memang ada kekurangan, maka kami siap meminta tambahan. Terlebih lagi, hasil rapat koordinasi dengan prvinsi, penyaluran di September Gunungkidul masuk kategori prioritas,” katanya.

Ditambahkan dia, pengurangan jatah pupuk bersubsidi juga terjadi di tahun lalu. Untuk mengantispasi kelangkaan, Raharjo mengimbau kepada petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik. “Pupuk organik bisa jadi solusi. Sedangkan dari hasil juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” katanya.

Salah seorang petani di Kalurahan Bulurejo, Semin, Samsi mengatakan, dirinya sudah mulai menyiapkan lahan untuk menyambut musim hujan. Meski sudah mulai mengolah lahan, ia mengaku belum mengambil jatah pupuk bersubsidi dari pemerintah. “Masih di kelompok tani. Nanti, kalau sudah menanam saya akan menebusnya,” kata Samsi.

Dia pun berharap ketersediaan pupuk bisa tercukupi sehingga petani tidak kesulitan dalam upaya pemeliharaan tanaman pertanian. “Mudah-mudahan semua lancar dan panen yang dihasilkan bisa dioptimalkan,” katanya.