DIY Bersiap Jadi Destinasi Pernikahan

Pelaksanaan talkshow bertajuk Menuju Yogyakarta sebagai The Next Wedding Destination dan Wedding Fair 2020 di Hartono Mall, Jumat (25/9/2020) petang. - Harian Jogja/Sunartono
26 September 2020 14:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Kemenparekraf mendukung DIY untuk menjadi wedding destination (tujuan pernikahan). Kekayaan budaya serta keunikan alam DIY dinilai memiliki daya tarik tersendiri untuk menyaingi Bali sebagai tujuan acara pernikahan. Sebanyak 14 sektor menyatakan kesiapannya untuk merealisasikan wacana tersebut. Meski demikian pelaksanaan pernikahan di era pandemi ini harus mengedepankan protokol kesehatan dengan ketat.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo menjelaskan, DIY bisa menjadi tujuan event pernikahan karena memiliki banyak potensi mulai dari keunikan alam di DIY hingga tingginya potensi industri kreatif. Di mana industri kreatif di DIY berkembang pesat karena beragam inovasi yang dilakukan pekerja event. Selain itu budaya yang ada di DIY menjadi daya tarik tersendiri.

Baca juga: Sekolah di Jogja Ini Gelar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

"Pemda DIY mendukung sinergi banyak sektor, untuk siap jadi wedding destination tidak lagi next, karena kita [DIY] punya keunikan yang tidak ada duanya dengan daerah lain," katanya dalam Talkshow bertajuk Menuju Yogyakarta sebagai The Next Wedding Destination, Jumat (25/9/2020) petang. Dalam kesempatan itu digelar pula Wedding Fair 2020 di Hartono Mall.

Pihaknya mendukung adanya sinergi berbagai sektor dari berbagai organisasi mulai dari Ivendo, PHRI, Asita, penyelenggara wedding dan lainnya. Hanya saja saat pandemi saat ini pelaksanaan wedding harus ada batasan yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona. Sehingga para kreator harus lebih inovatif dalam mengelola event dengan memenuhi protokol kesehatan secara ketat dengan persentase lebih banyak online daripada offline.

Baca juga: Moro Borobudur Bangkitkan Pariwisata dan Seni di Kawasan Borobudur

"Selain dari protokol kesehatan dari kapasitasnya. Kapasitas 50 persen dari normal juga belum tentu bisa, misalnya ballroom dengan kapasitas 3.000, kita mau isi 1.500 orang tentu belum bisa. Apakah iya di masa seperti ini kita hadirkan ballroom dengan kapasitas 1.500, pasti sangat berisiko. Ini harus disikapi kreator," katanya.

Kreator Virtual Wedding Yurry Apreto mengatakan event pernikahan memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian. Setidaknya ada 13 sektor yang ikut terdampak ketika event wedding terpaksa harus dihentikan, mulai dari katering, pengelola event, kerajinan souvenir, persewaan sound system dan lain-lain. Pihaknya sangat berharap banyak terhadap dukungan pemerintah daerah dan pusat untuk menjadi DIY sebagai wedding destination.

"Kami berharap, dibuatkan aturannya biar kami bisa bekerja lagi, dan kami sangat memperhatikan protokol kesehatan. Ketika kami membuat virtual wedding banyak yang terharu mulai dari pembawa acara karena sudah berbulan-bulan tidak bekerja, tidak membawakan acara," ucap Sales Manager GM Production ini.

Direktur Wisata Pertemuan Insentif Konvensi dan Pameran Kemenparekraf Masruroh menyatakan sesuai arahan Menteri Parekraf, bahwa Jogja harus menjadi salah satu tujuan wisata ke depan dengan tidak hanya mendapatkan limpahan dari Bali. Pihaknya mendukung semangat berbagai organisasi event dan wisata yang berkomitmen untuk menjadikan DIY sebagai wedding destination. Namun untuk saat ini pihaknya mewanti-wanti agar patuh terhadap protokol kesehatan. Jangan sampai justru memunculkan adanya klaster pernikahan dari penyebaran virus corona.

"Kalau dulu destinasi wisata limpahan Bali adalah Jogja hanya beberapa. Dengan adanya sesuatu kita tingkatkan, Jogja jadi lebih banyak sasaran yang bergerak. Saya rasa Jogja bisa memanfaatkan mempopulerkan Jogja sebagai destinasi pernikahan, Kemenparekraf tentu mendukung," ujarnya.