Bakal Dilintasi Exit Toll, Ini Rencana Pembangunan Wisata di Sleman

Ilustrasi. - Freepik
27 September 2020 23:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemkab Sleman merespons rencana pembangunan jalan tol baik Jogja-Solo, Jogja - Bawen maupun Jogja-Cilacap dengan rencana pengembangan wisata di Sleman.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih mengatakan Pemkab Sleman menyusun rencana pengembangan wisata di Sleman terkait pembangunan tiga ruas jalan tol yang melintasi wilayah ada administrasi Sleman. Menurutnya, arah pengembangan wisata di Sleman akan mendukung Destinasi Prioritas Pariwisata (DPP) Borobudur.

Mulai dari pengembangan wisata alam, wisata buatan dan wisata budaya baik meliputi KSPN Merapi - Merbabu dan sekitarnya, KSPN Prambanan - Kalasan dan sekitarnya. Kondisi ini tidak terlepas dari keberadaan exit toll di baik di simpang UPN, Monjali, Maguwoharjo maupun di Trihanggo. Termasuk juga exit toll di Bokoharjo, Prambanan. "Pengembangan juga dilakukan di desa-desa wisata yang berbasis budaya dan lingkungan, cagar budaya candi dan cagar alam geologi (tebing breksi dan lava bantal) yang terletak di wilayah Sleman Timur," katanya, Minggu (27/9/2020).

Dia mengatakan, rencana pengembangan wisata tersebut dilakukan di sejumlah titik dan tidak lepas dari keberadaan exit toll (on/off). Keberadaan beberapa akses exit toll tersebut juga berpengaruh positif dan mendukung wisata kuliner dan wisata belanja dari UMKM bagi wisatawan yang melintasi atau sedang berkunjung ke Sleman.

"Dengan adanya akses jalan tol menuju bandara YIA Kulonprogo hal itu akan memperkuat destinasi wisata/desa wisata berbasis pertanian khususnya di Sleman Barat," katanya.

Dispar juga akan membangun Penanda Kabupaten Sleman di pintu masuk Kabupaten Sleman yang sekaligus berfungsi sebagai rest area wisatawan yang berkunjung dari arah Kulonprogo atau Bandara YIA. Penanda yang akan dibangun bertujuan untuk menonjolkan citra daerah sekaligus bagian dari promosi. Selama ini belum ada penanda di Sleman yang dibangun untuk menonjolkan identitas Sleman dengan berbagai potensinya.

Dia mengatakan selain di Gamping, penanda dengan konsep berbeda juga akan dibangun di Tempel, Prambanan dan perbatasan dengan Kota Jogja. Rencana pembangunan penanda ini sudah lama. Tahun ini rencananya di Balecatur, Gamping. "Di sana nanti akan dibangun penanda Sleman berupa buah salak dilengkapi dengan layer-layernya. Namun karena ada pandemi Covid-19 pelaksanaannya ditunda," kata Ningsih.

Sekadar diketahui, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Sleman akan menyesuaikan rencana pengembangkan tata ruang wilayah seiring rencana pembangunan jalan Tol Jogja-Bawen dan Tol Jogja-Solo yang melintasi Sleman. Rencana pengembangan dilakukan terutama di lokasi-lokasi yang rencananya akan dijadikan exit tol. Rencana ini juga disesuaikan dengan Perbup Sleman No. 6.1/2019 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) Sleman.

Kepala Bidang Tata Ruang Dispertaru Sleman, Dwike Wijayanti menerangkan jika wilayah yang memiliki exit toll mempunyai potensi untuk tumbuh, sehingga Dispertaru membidik rencana pengembangan wilayah baru. Di dalam KSCT, katanya diatur perihal pengembangan kawasan agropolitan, minapolitan dan lainnya. Hanya saja belum semua wilayah masuk dalam KSCT tetapi tetap memiliki potensi untuk dikembangkan.

"Exit tol di Prambanan [Tol Jogja-Solo] ini kebetulan termasuk KSCT untuk perekonomian, tapi exit tol Jogja-Bawen di Banyurejo tidak termasuk KSCT," kata Dwike.

Ia melanjutkan untuk exit toll di Banyurejo, Tempel meskipun tidak termasuk dalam KSCT, namun tetap memiliki potensi untuk pengembangan wilayah baru. "Di sana direncanakan untuk pemukiman serta perdagangan dan jasa. Di tata ruang sudah akomodasi itu," lanjutnya.