Sulit Cari Lahan, Pemkab Sleman Urungkan Niat Bangun TPST3R Tahun Depan

Puluhan truk pengangkut sampah mengantre untuk menurunkan muatan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Rabu (8/1/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
02 Oktober 2020 11:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Rencana Pemkab Sleman membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R (reduce, reuse, recycle) pada tahun depan sulit direalisasi. Pasalnya, hingga kini Pemkab masih kesulitan mencari calon lahan untuk pembangunan TPST3R tersebut.

Pemilihan lokasi di Dusun Tambakboyo, Condongcatur, Kepanewon Depok urung dilakukan. Pasalnya warga di sekitar lokasi mengajukan penolakan terkait rencana tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan rencana pembangunan TPST3R yang awalnya ditarget tahun ini sulit dilakukan. Sebab calon lahan untuk pembangunan TPST3R baik di Sendangagung, Sendangsari maupun Sendangrejo, Minggir, sampai kini belum juga ditemukan. "Kami sudah survei ke satu lokasi di Minggir, tapi belum cocok untuk dijadikan TPST3R. Di Sleman Barat ada dua alternatif lagi," katanya, Rabu (30/9/2020).

Baca juga: Peneliti Berhasil Identifikasi 63 Flora dan 52 Fauna dalam Relief Candi Borobudur

Meskipun begitu, ia memastikan tidak bisa mengejar target pembangunan TPST3R pada tahun depan. Pasalnya, Pemkab harus tetap melakukan reveiw desain pembangunan TPST3R meskipun lahan untuk TPST3R terpenuhi tahun ini. "Jadi tidak bisa desain yang di Tambakboyo dipindah ke Minggir. Harus dilakukan review ulang karena kondisi di Tambakboyo dengan Minggir berbeda," katanya.

Dijelaskan Dibyo, karena harus melakukan kajian ulang dan review TPST3R di calon lokasi yang baru, maka rencana anggaran Rp28 miliar di APBN pada tahun depan tidak dimasukkan. "Anggarannya sudah dikeluarkan karena tidak memungkinkan dibangun 2021, kemungkinan baru dibangun 2022," katanya.

Jika di Sleman Barat tidak ada lokasi yang cocok, Pemkab masih memiliki alternatif lokasi untuk pembangunan TPST3R di wilayah Sleman Timur. Untuk wilayah Prambanan pilihannya lokasinya berada di Kalurahan Sumberharjo atau Wukirharjo. "Tetapi kami prioritaskan di Sleman Barat, masih ada dua alternatif desa yang belum disurvei," katanya.

Sekadar diketahui, Pemkab Sleman sebelumnya juga pernah merencanakan pembangunan TPST di Kalurahan Madurejo, Prambanan sebelum menjatuhkan pilihan ke Tambakboyo, Condongcatur. Sama halnya di Tambakrejo rencana pembangunan TPST di Madurejo juga kandas karena ditolak oleh warga.

Baca juga: Warga Kawasan Malioboro Diedukasi Pentingnya Penggunaan Masker

Berkaca dari pengalaman itu, DLH pun menyiapkan strategi untuk meyakinkan warga jika TPST3R yang akan dibangun gambarannya tidak seperti kondisi di TPA Piyungan. "Nanti kalau lokasinya sudah disetujui, kami akan mengajak masyarakat untuk studi banding ke TPST yang sudah menerapkan teknologi, seperti di Bandung," kata Dwi.

Biaya studi banding, katanya, sudah dimasukkan dalam anggaran APBD Perubahan Sleman tahun ini. Hal itu dilakukan agar masyarakat di sekitar TPST3R nanti wawasannya bisa lebih luas dan tidak hanya membayangkan kondisi TPA Piyungan. "Studi banding ini akan kami gelar kalau lokasi TPST3R sudah final," katanya.

Dijelaskan Dwi, kebutuhan TPST3R tersebut sangat mendesak jika melihat kondisi TPA Piyungan saat ini. Menurutnya, volume sampah di TPA Piyungan saat ini sudah melebihi kapasitas. "Dan Pemkab hanya bisa membangun TPST3R dengan mengandalkan dana dari pusat, APBN," katanya.

Meskipun keberadaan TPST di Sleman belum mampu menyelesaikan permasalahan over kapasitas di TPA Piyungan, namun setidaknya bisa mengurangi beban volume sampah di lokasi tersebut. Kondisi tersebut juga diharapkan bisa dipahami oleh warga.

"Kapasitas TPST di Sleman nanti untuk tahap pertama baru 60 ton sampah per hari dan tahap kedua dibangun sampai dengan 140 ton per hari. Kapasitas itu masih kecil dibandingkan produksi sampah harian di Sleman yang mencapai 600 ton," katanya.