Zico Ingatkan Brasil, Jepang Kini Lebih Berbahaya di Piala Dunia 2026
Zico sebut Jepang kini lebih kuat jelang lawan Brasil di Piala Dunia 2026. Samurai Biru tak lagi bisa diremehkan.
Anggota Komisi VI DPR F-NasDem, Subardi meninjau lokasi penangkaran burung, Margorejo Kepanewon Tempel, Sleman, Kamis (15/10/2020).Ist
Harianjogja.com, SLEMAN - Anggota Komisi VI DPR F-NasDem, Subardi meninjau lokasi penangkaran burung, Margorejo Kepanewon Tempel, Sleman. Politikus yang akrab disapa Mbah Bardi itu mengapresiasi keseriusan warga yang tergabung dalam komunitas penangkaran burung.
Selain mengandung nilai bisnis, kata Subardi kegiatan ini juga bertujuan melestarikan lingkungan. "Ini menjadi wadah kebersamaan bagi penggemar burung. Kegiatannya positif, ada nilai bisnisnya sekaligus berperan melestarikan lingkungan, menjaga spesies burung dari kepunahan," ujarnya, dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (15/10/2020).
Ke depan, Subardi menggagas penangkaran burung untuk dijadikan obyek wisata edukasi. Warga yang tergabung dalam komunitas ini akan dibentuk organisasi berbadan hukum. Konsep wisata penangkaran burung akan dikemas dengan wisata lingkungan, karena lokasi desa Margerojo tak jauh dari lereng Merapi.
Ketua DPW NasDem DIY itu yakin, dengan keutungan lokasi yang dekat lereng, ini akan menjadikan obyek wisata sebagai icon baru desa Margorejo. "Warga yang tergabung dalam kelompok penangkar burung disini sangat antusias. Tadi lurah juga menjanjikan obyek wisata pakai [sewa] tanah kas desa. Saya akan fasilitasi perizinannya ke Pemerintah Daerah atau ke Kementerian Lingkungan Hidup,” tuturnya.
Baca Juga: Dukung Penanganan Virus Corona, YouTube Hapus Konten Antivaksin
Penangkaran burung disini terdiri dari berbagai jenis, mulai dari jenis berkicau dan jenis burung hias seperti murai batu, kecer jawa, love bird, cucak rawa, gelatik, jalak bali, hingga yang langka seperti kakatua dan merak hijau jawa. Para penangkar burung juga memiliki izin resmi dari Kementerian Kehutanan dan BKSDA.
Anggit Syarifudin, salah satu penangkar mengatakan, sebagian burung langka seperti merak hijau jawa yang memiliki panjang bulu hingga lebih dari dua meter tidak dijual belikan. Ia memilih konservasi sendiri untuk dikembangbiakkan dengan metode inkubator. Namun, untuk jenis burung yang banyak digemari, ia mengaku nilai bisnisnya mencapai Rp20 juta perbulan.
“Ada yang statusnya dilindungi atau langka, itu tidak boleh dikomersilkan. Untuk jenis burung berkicau, dan burung hias saya memanfaatkan pasar online hingga ke banyak daerah, mulai dari Aceh, Jayapura, Ambon, dan sebagian Sulawesi. Rata-rata setiap bulannya mencapai Rp20 juta” katanya.
Baca Juga: Omnibus Law Disahkan, Pekerja Wajib Perhatikan 4 Hal Ini
Berbeda dengan Suharno, penangkar lainnya yang fokus menangkar burung berkicau seperti cucak rawa yang tak kalah menguntungkan. “Anak cucak rawa yang baru sebulan menetas dibeli seharga 10 juta. Setiap bulan penagkaran di sini netas terus,” ungkapnya.
Di pertemuan kali ini Subardi memberi bantuan modal bergilir. Seluruh penangkar mendapat jatah modal dengan cara bergilir sesuai kesepakatan mereka. Harapannya, kelompok penangkaran burung semakin besar hingga terbentuk ladang bisnis melalui obyek wisata.
"Saya optimis ini menjadi ekonomi wisata yang menjanjikan sekaligus pelestarian habitat burung," ucapnya.*
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Zico sebut Jepang kini lebih kuat jelang lawan Brasil di Piala Dunia 2026. Samurai Biru tak lagi bisa diremehkan.
Ekonom UMY menilai antrean Pertalite usai kenaikan harga Pertamax menunjukkan setiap masyarakat memiliki nilai ekonomi waktu yang berbeda.
WhatsApp menghadirkan fitur username yang memungkinkan pengguna mengobrol tanpa membagikan nomor telepon. Reservasi dibuka mulai pekan ini.
Kelurahan Keparakan menggelar penyuluhan HIV untuk mendorong deteksi dini, pencegahan, pengobatan ARV, serta menghapus stigma terhadap ODHIV.
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Selasa 30 Juni 2026. Tarif hanya Rp12.000 dengan rute langsung dari Malioboro ke Pantai Parangtritis.
Polresta Sleman masih menyelidiki rumah api Seyegan dengan mengumpulkan alat bukti dan mendalami fakta lapangan untuk mengungkap penyebabnya.