Pembatasan Jumlah Pengunjung di Destinasi Wisata Harus Dipatuhi

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Indah Juanita, saat membuka Sosialisasi Pelatihan dan Pendampingan Daya Tarik Wisata di Lembah Ngingrong, Kalurahan Mulo, Wonosari, Senin (19/10/2020). - Harian Jogja/David Kurniawan
19 Oktober 2020 14:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB), Indah Juanita mengingatkan kepada pengelola wisata untuk mematuhi pembatasan jumlah pengunjung di setiap destinasi. Wanti-wanti ini disampaikan saat membuka Sosialisasi Pelatihan dan Pendampingan Daya Tarik Wisata di Lembah Ngingrong, Kalurahan Mulo, Wonosari, Gunungkidul, Senin (19/10/2020).

Menurut dia, uji coba pembukaan objek wisata diatur dengan aturan yang ketat. Salah satunya harus mematuhi protokol kesehatan dan adanya pembatasan jumlah pengunjung di setiap destinasi.

Indah mengatakan pembatasan jumlah pengunjung berguna untuk memberikan ruang kepada wisatawan sehingga tidak ada kerumuman dan ada jaga jarak sehingga mata rantai penyebaran virus Corona bisa diputus. Ia pun berharap pembatasan jumlah kunjungan bisa dipatuhi pengelola agar pelaksanaan wisata bisa berjalan dengan aman lancar serta juga sehat jauh dari ancaman penyebaran virus. “Semua harus mematuhi dan pembatasan jumlah pengunjung menjadi salah satu fokus dalam pelatihan yang digelar hari ini,” kata Indah kepada wartawan, kemarin.

BACA JUGA: KABAR WISATA: Bukit Panguk Kediwung Surganya Spot Selfie

Menurut dia, dalam pelatihan ini juga diberikan sosialisasi aturan dalam adaptasi kebiasaan baru. Selain itu juga digelar penghitungan jumlah wisatawan yang aman untuk kunjungan, alur wisatawan, pemetaan zonasi wisatawan, visitor management, layanan prima dan sapta pesona. “Pelatian digelar juga sebagai penyusunan standar oeprasional prosedur [SOP] dalam pelaksanaan kepariwisataan,” katanya.

Indah menjelaskan, SOP yang dibentuk tidak sama di setiap destinasi karena didasarkan pada karakteristik masing-masing objek. “Jadi antara Ngingrong dengan destinasi lain akan beda karena SOP disusun berdasarkan karakter masing-masing,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Direktur Industri dan Kelembagaan, Badan Otorita Borobudur, Bisma Jatmika. Menurut dia, sesuai dengan cakupan wilayah kewenangan, Badan Otorita Borobudur mengampu untuk kawasan Jateng-DIY. “Untuk Ngingrong merupakan percontohan di Gunungkidul. Tapi, kegiatan yang sama juga sudah kami selenggarakan di beberapa wilayah lain seperti Sleman dan Boyolali,” katanya.

BACA JUGA: Jogja Sudah Ada Event, Okupansi Hotel Mulai Meningkat

Ia berharap dengan sosialisasi ini bisa meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia terkat dengan tata aturan adaptasi kebiasaan baru di sektor kepariwisataan. “Ada 20 peserta dari pengelola wisata Ngingrong yang ikut pelatihan,” katanya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukomono mengatakan,selama uji coba pembukaan destinasi wisata, jawatannya sudah melakukan evaluasi terkait dengan penyelenggaraan. Adapun hasilnya masih ada beberapa catatan yang harus diperbaiki, terutama menyangkut masalah protokol kesehatan.

“Memang ada yang belum tertib dan ini menjadi catatan kami. Kami berharap semua elemen baik warga lokal maupun pengunjung ikut berpartisipasi dalam menjalankan protokol kesehatan di kawasan wisata,” katanya.