Enaknya Rute Baru Trans Jogja: Bayar Nontunai, 10 Menit Sekali Bus Datang

Bus Trans Jogja jurusan Ngemplak yang sudah mulai beroperasi. - Harian Jogja/Hery Setiawan
27 Oktober 2020 17:37 WIB Hery Setiawan (ST18) Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANTrans Jogja membuka tiga rute baru di Sleman, yakni Ngemplak, Godean dan Ngaglik. Pembukaan trayek anyar diiringi dengan inovasi model pelayanan penumpang menuju sistem single service (layanan mandiri) dan cashless payment (pembayaran nontunai). Bagaimana respons masyarakat terhadap kehadiran tiga rute Trans Jogja? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Hery Setiawan.

Sebuah bus Trans Jogja berhenti di depan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Jalan Kaliurang Km 13, pada Jumat (23/10/2020) pukul 16.04 WIB. Bus itu tampak lebih segar, baru dan cemerlang dibandingkan dengan bus Trans Jogja yang saban hari wira-wiri di jalanan Kota Jogja. Dari kaca yang lebih bening, tampak jelas keadaan di dalam bus.

BACA JUGA: Suara Gemuruh Selamatkan Kusnan dan Keluarganya dari Terjangan Longsor Kulonprogo

Bus itu berlalu, kemudian seorang penjaga warung memberikan jaminan yang begitu berarti. Ia mengatakan masa tunggu bus berikutnya tak begitu lama. “Paling 10 menit lagi datang,” katanya seraya menyajikan secangkir kopi di atas meja.

Pernyataan si penjaga warung meleset. Tak sampai 10 menit, bus Trans Jogja sudah tiba di titik penjemputan. Bus tersebut datang dari selatan, kemudian berhenti di seberang Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Pintu depan yang terbuka secara otomatis.

Di dalam bus saat itu cukup ramai. Tujuh penumpang semuanya Ibu-ibu. Tak ada kondektur ataupun petugas lain, kecuali seorang sopir. Interior bus juga masih baru dan bersih. Pendingin ruangan alias air conditioner (AC) bekerja secara maksimal. Hawa dingin yang menyelimuti wilayah Ngemplak terasa mengganda tatkala memasuki bus Trans Jogja. “Busnya bagus dan sejuk. Lancar juga, jadi nunggunya enggak lama,” kata Danar, 53, satu dari tujuh Ibu-ibu yang ada di dalam bus.

BACA JUGA: Upah Pekerja Tak Naik Tahun Depan, Serikat Buruh Jogja Tolak SE Menaker

Mereka bertujuh bertolak dari selter SMA N 2 Ngaglik, Sleman. Saat ditanya tujuan naik bus, mereka kompak menjawab Bandara Adisutjipto. Namun, bukan itu tujuan sesungguhnya. Mereka naik bus murni karena ingin mencoba dan “jalan-jalan” bersama.

Maklum saja, rute baru ini masih dalam tahap uji coba sampai 31 Desember 2020 mendatang. Belum ada biaya yang dibebankan kepada penumpang. Kesempatan itu tentu saja sangat disayangkan untuk dilewatkan. Apalagi Danar dan teman-temannya mengaku jarang jalan-jalan.

Bus ini memiliki rute Ngemplak (Pasar Pakem–Halte Trans Jogja Bandara Adisutjipto). Tak sulit bagi Danar dan sesama Ibu-ibu asal Desa Sukoharjo untuk tahu ada moda transportasi baru. Tempat tinggal mereka menjadi rute trayek bus. Ada 17 halte yang digunakan untuk menjemput atau menurunkan penumpang sepanjang rute tersebut. Lokasi penting pun tak luput dari jangkauan Trans Jogja rute Ngemplak, seperti Kampus UII, Pasar Pakem, Pasar Jangkang, Kantor Desa Wedomartani, SMK N 1 Depok hingga Jalan Solo, Maguwoharjo, Sleman.

BACA JUGA: Perjalanan ke Mars Pakai Tenaga Nuklir Lebih Cepat, Cukup 3 Bulan

Trans Jogja rute baru ini merupakan implementasi dari program Teman Bus yang digagas oleh Kementerian Perhubungan [Kemenhub] Republik Indonesia. PT Jogja Tugu Trans (JTT) ditunjuk sebagai operatornya. Program Teman Bus mengusung gagasan buy the service yang mengandalkan teknologi informasi dan transaksi pembayaran nontunai.

Kemenhub menyediakan sebuah aplikasi bernama Teman Bus yang dapat diunduh melalui gawai. Melalui aplikasi itu, calon penumpang dapat mengecek lokasi halte atau selter dan jadwal keberangkatan bus. Namun, jangan berharap bahwa halte atau selter itu seperti Trans Jogja pada umunya. Boleh dikatakan selter yang dimaksud hanyalah titik penjemputan.

Sayangnya, gagasan itu masih sulit untuk diterapkan. Belum banyak penumpang yang mengunduh aplikasi Teman Bus. Apalagi, banyak orang yang belum mafhum ihwal transaksi nontunai. Marni, ibu dari Desa Sukoharjo, contohnya. “Hla kita itu pegang ponsel saja enggak,” katanya kepada Harian Jogja.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Putus Kontrak 700 Karyawan Mulai 1 November

Kendati demikian, mereka mengaku keberadaan Trans Jogja rute Ngemplak dapat membantu mobilitas. Utamanya, ketika mereka hendak pergi ke Pasar Pakem maupun Pasar Jangkang yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Namun, terus terang saja, mereka masih kesulitan dengan metode pembayaran nontunai. Mereka masih terbiasa melakukan transaksi tunai, termasuk saat menggunakan transportasi publik.

Selain rute Ngemplak, Trans Jogja juga membuka rute Godean (Terminal Ngabean–Pusat Kuliner Belut PP). Harian Jogja turut mencoba perjalana pada rute ini. Suasananya tak jauh beda. Masa tunggu pada rute Godean juga tak begitu lama, selang 10 menit bus selanjutnya sudah tiba di titik penjemputan.

Dewi Rekawati, 43, seorang penumpang mengaku terbantu dengan keberadaan Trans Jogja rute Godean. Selain karena tidak punya kendaraan pribadi, bus ia anggap lebih aman dan ramah untuk berpergian dengan mengajak anak kecil. Rute Godean juga terhitung lebih mudah dijangkau. “Bus ini lebih dekat dengan tempat tinggal. Sebelumnya harus ke Jombor kalau mau naik Trans Jogja,” katanya.

BACA JUGA: Pangeran Tampan Ini Gerakkan Tangannya setelah Koma 15 Tahun

Dewi juga tak tahu soal aplikasi. Begitu juga dengan pembayaran nontunai. Kendati ia punya gawai, sejauh ini ia masih nyaman melakukan transaksi secara tunai. “Biasanya saya pakai yang tunai. Kalau nontunai kan belum semua punya,” ujarnya.

Direktur Utama PT Jogja Tugu Trans (JTT), Agus Andriyanto mengatakan program Teman Bus merupakan inovasi moda transportasi. Pendekatan single operator dipandang dapat memangkas biaya produksi dan operasional.

“Kami inginnya moda transportasi ini sesempurna mungkin. Kami arahnya ke single operator. Cuma sopir. Semuanya sudah pakai alat, mulai dari pembayaran, passanger code, terus CCTV dan lainnya,” katanya saat ditemui Harian Jogja di kantornya, Senin (26/10/2020).

Saat ditanya soal masih rendahnya minat masyarakat soal transaksi nontunai, Agus, mengatakan saat ini memang masih proses penyempurnaan. Metode pembayaran masih dibicarakan di Kemenhub. Sangat mungkin pemerintah memfasilitasi kartu langganan khusus agar masyarakat dapat mengakses transportasi publik secara nontunai. Ia memperkirakan tarif bus yang akan dikenakan juga tak terlalu mahal. "Paling di angka Rp4.000-an," katanya.

BACA JUGA: Cuti Bersama, 30.000 Wisatawan Diprediksi Kunjungi Bantul

Agus mengungkapkan Trans Jogja rute baru memang mengusung konsep yang beda. Tak ada wujud fisik selter seperti Trans Jogja yang sudah eksis sebelumnya. Rencananya, pemerintah daerah menempatkan sebuah rambu-rambu sebagai penandan titik jemput Trans Jogja.

Trans Jogja rute baru punya armada yang cukup banyak. Rute Ngemplak ada 14 bus dan satu bus cadangan. Lalu untuk rute Godean ada 10 bus dan satu bus cadangan. “Akan ada rute Ngaglik. Kalau tidak 28 Oktober ya 29 Oktober. Jumlah armadanya ada 16 bus dan dua cadangan. Jadi totalnya ada 44 bus,” ujarnya.