Advertisement
UGM Mutasi Rumput Gajah Jadi Lebih Unggul
Rumput gajah Gama Umami hasil mutasi yang dikembangkan Fakultas Peternakan UGM yang diklaim lebih unggul dibandingkan rumput gajah lokal. - Ist/Humas UGM
Advertisement
Harianjogja.com, DEPOK--Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan rumput gajah yang diklaim lebih disukai ternak dan lebih unggul lantaran bisa dipanen enam kali dalam setahun.
Mutasi rumput gajah yang bernama Gama Umami ini merupakan hasil radiasi sinar gamma sehingga diklaim menghasilkan rumput yang lebih unggul dibandingkan rumput lokal. Pengembangan makanan hewan ternak ruminansia ini dianggap cocok dilakukan di Indonesia karena merupakan negara beriklim tropis.
Advertisement
Ketua Peneliti Rumput Gama Umami, Nafiatul Umami menerangkan hasil produksi rumput hasil mutasi ini lebih unggul dibandingkan rumput gajah lokal. "Bisa dipanen enam kali dalam setahun," kata Nafiatul pada Selasa (3/11/2020).
Penelitian yang dilakukan antara Fakultas Peternakan UGM ini bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR). Mutasi dilakukan dengan sinar gamma, yang dapat memengaruhi morfologi, anatomi, dan fisiologi tanaman. Hasilnya, tanaman yang dimutasi bisa lebih unggul.
Lebih lanjut, rumput gajah yang disinari radiasi gamma diklaim Nafiatul tidak menyimpan residu radioaktif. Sebab sudah diseleksi dan didapatkan rumput Gama Umami dari penyinaran 100 Gray.
Rumput ini sudah diperkenalkan kepada sejumlah peternak di DIY dan Banyumas, Jawa Tengah. "Dari peternak menyatakan kalau Gama Umami ini memiliki daun yang lebih hijau dibandingkan dengan rumput lainnya. Peternak juga mengatakan karena daunnya tidak memiliki bulu halus, jadi kita bisa tidur di atasnya," terangnya.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ali Agus yang juga turut meneliti rumput Gama Umami menambahkan bahwa selain digunakan sebagai pakan ternak, rumput ini juga diuji dan diproses menjadi biofuel.
“Kandungan serat pada batang rumput Gama Umami merupakan salah satu bahan penghasil etanol yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Ini berpotensi untuk bahan bakar cair, padat, dan gas sebagai penggantian bahan bakar fosil. Namun, masih dibutuhkan pengujian lebih lanjut sehingga nantinya dapat dikembangkan di Indonesia,” terang Ali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bocah 9 Tahun Meninggal Dunia Akibat Ledakan Petasan di Semarang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- KAI Siapkan Empat Jadwal KA Prameks Jogja Kutoarjo Jumat Ini
- Prakiraan Cuaca Hari Ini: Hujan Dominasi Seluruh Kabupaten di DIY
- KA Prameks Kutoarjo Jogja Operasikan Empat Perjalanan pada Jumat
- Kampanye Keselamatan, Komisi A DPRD DIY Ajak Pemudik Cek Kendaraan
- Jemaah Salat Id di Masjid Gedhe Meluber hingga Sekitar Alun-Alun
Advertisement
Advertisement








