Inflasi Jogja Naik 0,46 Persen, Kenaikan Harga BBM Jadi Pemicu Utama
Inflasi Kota Jogja Juni 2026 naik 0,46% dipicu kenaikan BBM, terutama berdampak pada sektor transportasi.
Warga berebut gunungan yang dibagikan dalam Grebeg Syawal di Masjid Gedhe Kauman pada Jumat (20/3/2026). Kali ini, petugas membagikan gunungan tersebut untuk mengantisipasi kericuhan. -Stefani Yulindriani/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA–Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan lima jenis gunungan dalam prosesi Garebeg Syawal yang digelar Jumat (20/3/2026). Gunungan tersebut menjadi simbol sedekah raja kepada rakyat sekaligus wujud rasa syukur atas Idulfitri.
Perwakilan Kraton Jogja, KRT Kusumonegoro, menyampaikan terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.
Seluruh gunungan dikeluarkan dari keraton secara berurutan sesuai jenisnya.
“Akan ada dua Gunungan Kakung, masing-masing untuk Masjid Gedhe Kauman dan Pura Pakualaman,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).
Sementara itu, untuk Kompleks Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen mendapatkan bagian gunungan berupa pareden wajik. Adapun Gunungan Pawuhan disiapkan khusus untuk dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.
KRT Kusumonegoro menjelaskan Garebeg merupakan salah satu upacara rutin Keraton Jogja yang digelar untuk memperingati hari besar Islam, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Secara etimologis, kata garebeg berasal dari bahasa Jawa yang berarti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau sosok yang dimuliakan.
“Garebeg di Kraton adalah Hajad Dalem, yakni upacara budaya sebagai wujud syukur yang diwujudkan dengan membagikan rezeki kepada masyarakat melalui gunungan,” jelasnya.
Dia menambahkan gunungan melambangkan kemakmuran Kraton yang dibagikan kepada rakyat. Isi gunungan yang berupa hasil bumi menjadi simbol kesejahteraan tanah Mataram.
Rangkaian Garebeg Syawal ditutup dengan prosesi Bedhol Songsong yang digelar pada malam hari di Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, sisi utara Alun-alun Selatan Jogja. Prosesi ini merupakan simbol berakhirnya seluruh rangkaian Hajad Dalem Garebeg dan Ngabekten.
Sementara itu, Bedhol Songsong secara harfiah berarti mencabut payung sebagai tanda kepulangan para pejabat yang sebelumnya melakukan pisowanan atau menghadap Sultan. Meski tradisi menancapkan payung tidak lagi dilakukan, prosesi penutup tetap dilestarikan melalui pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inflasi Kota Jogja Juni 2026 naik 0,46% dipicu kenaikan BBM, terutama berdampak pada sektor transportasi.
Petisi online yang menargetkan Sarwendah menjadi viral dan memicu perdebatan di media sosial. Puluhan ribu dukungan diklaim telah terkumpul.
Manuel Neuer dan Riyad Mahrez resmi pensiun dari tim nasional usai Piala Dunia 2026, menandai berakhirnya era dua legenda sepak bola dunia.
Anthropic dikabarkan menjajaki kerja sama dengan Samsung untuk mengembangkan chip AI kustom guna mengurangi ketergantungan pada pemasok GPU eksternal.
KPK mengungkap keterangan awal asal uang dalam amplop yang dibawa Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby saat bertemu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Kisah Xu Peng, aktor drama pendek China yang beralih menjadi penjual sayur setelah industri hiburan terdampak perkembangan AI, viral di media sosial.