BPPTKG Sebut Ancaman Utama Erupsi Merapi di Kali Gendol, Ini Penjelasannya..

Sejumlah lansia dari lereng Merapi duduk-duduk di lokasi pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman pada hari Senin (9/11/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
10 November 2020 16:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, CANGKRINGAN--Potensi bahaya luncuran erupsi Gunung Merapi, berdasarkan catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), mengarah ke wilayah tenggara dan barat.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyatakan potensi utama luncuran erupsi Gunung Merapi berdasarkan bukaan kawah yang terjadi mengarah ke Kali Gendol atau ke tenggara. Akan tetapi, deformasi Gunung Merapi juga terjadi ke arah barat. Artinya, wilayah barat Gunung Merapi juga tak luput dari bahaya gunung yang sudah berstatus Siaga (level tiga) ini.

BACA JUGA : Gunung Merapi Terpantau Mengalami Guguran, Ini

"Ini berarti ancaman utama di Kali Gendol. Namun demikian, deformasi juga mengarah ke barat. Jadi, potensi ke sana juga ada," ujar Hanik Humaida saat diwawancarai di barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (10/11/2020).

BPPTKG baru mampu menghitung kecepatan, besar, maupun volume jika kubah lava sudah terbentuk. Pasalnya, sampai saat ini kubah lava belum terbentuk di Gunung Merapi.

"Nanti kalau kubah lava sudah muncul di permukaan, kami bisa menghitung kecepatannya. Besarnya berapa. Volumenya berapa. Itu yang nanti kami gunakan untuk menghitung seberapa jauh kalau terluncur atau terjadi erupsi. Sejauh mana itu [luncuran material erupsi] akan kami perbarui lagi rekomendasi bahaya yang sudah kami sampaikan," jelas Hanik.

Aktivitas Gunung Merapi masuk dalam kategori tinggi, apalgi sejak BPPTKG menetapkan status Siaga (level tiga) Gunung Merapi pada 5 November lalu.

BACA JUGA : Merapi Siaga, Awan Panas Belum Muncul

"Ini aktivitasnya [Gunung Merapi] naik. Kenapa tidak muncul-muncul [magma] di permukaan? Pada saat magma menuju permukaan, ini salah satu faktor penyebabnya adalah gas. Jadi, yang mendorong magma menuju ke permukaan adalah gas," terang Hanik.

Hanik menegaskan sampai saat ini pergerakan magma masih secara pelan-pelan. Hal tersebut dikarenakan magma miskin akan suplai gas.

"Insyaallah, erupsi 2010 kalau data masih begini terus tidak terjadi. Kalau ada erupsi eksplosif itu tidak sebesar 2010. Itu berdasarkan data-data yang ada sampai dengan saat ini," sambung Hanik.

Hanik juga menjelaskan faktor lain belum munculnya magma di permukaan Gunung Merapi karena volume magma yang muncul masuk dalam kategori besar.

"Karena data-data yang ada sudah melebihi tahun 2006. Volume kubah lava diperkirakan lebih besar dari 2006. Tetapi, sekali lagi, data tidak cepatnya karena memang miskin akan gas tadi," sambung Hanik.

BACA JUGA : Merapi Erupsi di Tengah Pandemi, Sultan Sampaikan 6 Pesan

Ketika disinggung mengenai potensi bahaya yang ditimbulkan jika Gunung Merapi erupsi, dia menegaskan sampai saat ini ancaman bahaya berada di lima kilometer di sisi selatan dan barat dari puncak Gunung Merapi. Sedangkan, di sisi utara sejauh tiga kilometer.

"Atau lengkungan kawasan rawan bencana (KRB) III itu berdasarkan potensi bahaya yang ada sekarang," kata Hanik.