PC GP Ansor Sleman Bantah Manuver Banser Prambanan Dukung Kustini-Danang

DWS bersama Gus Fahmi saat bersafari keliling pesantren di wilayah Moyudan, Minggir dan Tempel belum lama ini. - Ist
12 November 2020 10:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Sleman membantah pernyataan dukungan kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 3 di Pilkada Sleman. Bantahan tersebut disampaikan Ketua PC Ansor Sleman Ariyanto Nugroho di dampingi Wakil Ketua dan pengurus lainnya.

Badan Otonom Nahdlatul Ulama itu pada perhelatan Pilkada Sleman dipastikan akan mengawal keputusan Tim Siyasah yang sudah dibentuk oleh PCNU Sleman. "Kami perlu luruskan Ansor dan juga NU sampai hari ini tidak memberikan dukungan kepada pasangan calon nomor 3 di Pilkada Sleman seperti diberitakan beberapa media. Kami tegaskan juga bahwa Ansor dan NU tidak berpolitik praktis dalam sikap politiknya adalah politik jamaah, politik kebangsaaan untuk kepentingan yang lebih luas bagi ummat dan juga bagi Kabupaten Sleman," jelasnya melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (12/11/2020).

Antok sapaan akrab ketua PC GP Ansor Sleman ini mengungkapkan bila ada oknum pengurus maupun kader organisasi yang dipimpinnya itu membangun komunikasi dan silaturahmi dengan salah satu bakal calon, bisa dipastikan itu sikap pribadi dan bukan sikap organisasi. "Jadi sebaiknya berita yang dituliskan tidak memframing seolah sikap itu adalah sikap organisasi," katanya.

Namun Antok juga menegaskan kepada semua pengurus Ansor Sleman beserta kader supaya sama-sama menjaga marwah organisasi maupun NU serta tidak membawa-bawa organisasi untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.

Baca juga: Danang Wicaksana Sulistya Sebut Karoseri Dolasindo Bisa Menjadi Inspirasi

Sebelumnya diberitakan di sejumlah media, sejumlah orang yeng mengatasnamakan pengurus PAC Ansor Prambanan mendeklarasikan dukungan untuk pasangan Kustini SP-Danang Maharsa. Kepala Sekretariat Markas (Kasekma) Satkoryon Banser Prambanan Sariman menyatakan, dukungan itu bersifat pribadi dan tidak membawa embel-embel organisasi.

Meskipun demikian, Sariman dalam pernyataannya di sejumlah media masih mencantumkan jabatannya dalam Badan Otonom Nahdhlatul Ulama dan mengklaim telah sesuai dan sejalan dengan pilihan kyai.

Terpisah, Khatib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sleman KH Fahmi Basya menyatakan, nahdliyin telah mendelegasikan sikap politik kepada Tim 9 yang kemudian secara terbuka memberikan dukungan kepada pasangan Danang Wicaksana Sulistya-Agus Choliq (DWS-ACH).

"Delegasi sikap siyasah [politik] dari nahdliyin ini kemudian mengerucut, bulat sepakat pada kader terbaik, Agus Choliq yang diplot mendampingi DWS," kata Fahmi Basya.

Pengasuh Pondok Pesantren Alfalahiyah Mlangi yang karib disapa Gus Fahmi ini menyebut, alasan pemilihan Agus Choliq selain dianggap santri internal NU, juga karena potensinya sebagai organisatoris yang enerjik. Menurut Gus Fahmi, nama Agus Choliq muncul dari proses seleksi internal NU yang cukup panjang.

Selain itu, Gus Fahmi juga menyatakan masuknya Agus Choliq dalam kontestasi Pilkada Sleman 2020 adalah manifestasi harapan kaum nahdliyin di Sleman. Sebagai ormas yang secara kultural memiliki basis massa terbesar di Indonesia, Fahmi menyebut, NU sejauh ini kerap tidak terwakili kepentingannya.

Baca juga: PILKADA BANTUL: Persiapan Matang Dilakukan Dua Paslon Jelang Debat Publik Ketiga

"Sederhana saja, di Sleman ini ada 111 pondok pesantren, 80 persennya berafiliasi dengan NU. Agus Choliq kami harapkan dapat menyuarakan kepentingan kami utamanya di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan kesehatan," katanya.

Dari data Nomor Statistik Pesantren (NSP) di Kementerian Agama, saat ini ada 90 pesantren yang telah terdata. Dengan 80% lebih berafiliasi dengan NU, nahdliyin berharap banyak mendapatkan perhatian dan sentuhan jika Agus Choliq yang merupakan kader internal masuk dalam sistem pemerintahan.

Bukan sekadar santri, Agus Choliq menurut Fahmi juga diharapkan dapat menyumbangkan pengalamannya menyelamatkan usaha kecil pedesaan di saat pandemi Covid-19. Melalui BUMDES Puri Mataram dengan produk wastafel portabelnya, Agus Choliq, menurut Fahmi terbukti dapat merespon krisis dengan cepat dan tepat.

Program Riil

Gus Fahmi menambahkan, kalangan nahdliyin mengharapkan adanya program riil yang dapat memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren. Dia merinci, santri yang digembleng dalam ilmu agama perlu mendapat penguatan lifeskill bidang ekonomi agar dapat tetap berperan dalam pembangunan.

Peran serta santri dan pesantren dalam kegiatan-kegiatan ekonomi, meskipun tidak berorientasi pada hasil namun dirasa sangat mendesak. Pasalnya, menurut sarjana lulusan Yaman ini para santri harus disiapkan untuk menyongsong tantangan perubahan zaman.

Terkait dengan manuver yang dilakukan oleh Sariman dan Wakil Ketua Banser Prambanan Nurcholis, Gus Fahmi menyebut persoalan itu adalah ranah Banom NU. Kendati demikian, dia optimistis nahdliyin masih dalam satu barisan.

Pasalnya, sejumlah kyai kharismatik serta pengasuh pesantren dari Mlangi, Pandanaran, Krapyak dan Tempel telah menyatakan dukungannya secara jelas kepada DWS-ACH. "Apalagi Mas Agus Choliq ini juga bukan orang lain. Beliau petinggi Ansor sekaligus santri internal NU," kata Fahmi.