Gunung Bergejolak, Jejak Macan Tutul di Merapi Masih Misterius

Jejak tapak kaki satwa diduga macan tutul yang terlihat di jalur evakusi Gunung Merapi, Senin (23/11/2020)-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
24 November 2020 17:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Keberadaan macan tutul di wilayah hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sempat diketahui sebelum erupsi 2010. Pasca erupsi, keberadaan macan tutul atau yang bernama latin Panthera pardus ini terakhir diketahui keberadaannya pada 2012.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Pujiati mengatakan jika sebelum erupsi 2010 keberadaan macan tutul sempat diketahui. Setelah erupsi, tahun 2012 keberadaan macan tutul juga sempat ditemukan.

"Sebelum erupsi 2010 katanya pernah ditemukan. Kemudian, teman-teman [BTNGM] masih melihat jejak dan cakarannya di Gunung Bibi yang berada di sektor Boyolali, Jawa Tengah yang masuk dalam zona inti [BTNGM]. Termasuk di wilayah Plawangan, Sleman juga masih ditemukan cakar," ujar Pujiati saat dikonfirmasi pada Selasa (24/11/2020).

BACA JUGA: Ganti Rugi Jalan Tol Jogja-Solo Jauh dari Angan-Angan, Warga Kecewa Berat

Pasca 2012, BTNGM sudah tidak menemukan jejak maupun tanda-tanda akan kehadiran macan tutul. Upaya untuk menemukan keberadaan macan tutul dilakukan oleh Pujiati dengan memasang sejumlah camera trap di titik-titik tertentu.

"Setelah 2012, memang kami sudah tidak menemukan lagi bekas cakar apalagi fisiknya. Kemudian, awal 2020 ini kami memasang camera trap di beberapa tempat. Ada 40 camera trap yang kami pasang selama tiga bulan, itu pun kami tidak pernah mendapatkan macan tutul. Justru, kami mendapatkan kijang lumayan banyak," jelasnya.

Keberadaan kijang, lanjut Pujiati, sebenarnya mampu menandakan jika kemungkinan keberadaan macan tutul masih ada. Sedangkan, predator yang baru ditemukan oleh BTNGM baru sebatas kucing hutan.

"Kami berpikir kijang ini kan sebenarnya makanannya macan tutul. Harusnya makanan berlimpah, macan tutul ada. Dalam rantai makanan biasanya ada top. Tapi, ini top predator yang kita temui baru kucing hutan. Besarnya sama kaya kijang jadi tidak mungkin makan kijang karena sama besar. Jadi itu [macan tutul] masih kita cari," terangnya.