Kerap Bantu Pemakaman Pasien Covid-19, Mantan Kadinsos Jogja Ditolak Warga Saat Akan Dimakamkan

Almarhum Agus Sudrajat dan istrinya, Nelly Tristiana. - Istimewa
04 Desember 2020 09:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAPraktik penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 di DIY masih terjadi. Pengalaman pahit itu dirasakan keluarga mantan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Jogja, Agus Sudrajat. Almarhum yang selama hidupnya kerap membantu warga yang kesulitan memakamkan jenazah pasien Covid-19 justru ditolak saat akan dikebumikan. Edukasi ke warga soal stigma terhadap pasien Covid-19 dan rasa empati ke sesama manusia kini dipertanyakan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Bhekti Suryani.

Selasa pagi (1/12/2020) menjadi hari yang kelam bagi Nelly Tristiana. Dari layar ponsel, ibu dua anak ini menyaksikan video suaminya Agus Sudrajat berjuang untuk hidup di ruang ICU RSUP Prof Dr Sardjito Jogja. Kondisi kesehatan Kepala Dinas Sosial Kota Jogja itu terus memburuk sejak ia diketahui terinfeksi virus Corona dan mulai dirawat di rumah sakit pada 23 November lalu.

BACA JUGA: Puluhan Guru MAN 22 Jakarta Terinfeksi Corona Usai Berwisata di Jogja, Ini Respons Pemda DIY

Nelly tak bisa menemani detik-detik terakhir kehidupan suami tercinta. Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY itu di saat bersamaan harus menjalani perawatan di RSUD Jogja lantaran juga terinfeksi virus Corona.

Pukul 10.51 WIB Agus akhirnya mengembuskan napas terakhir tanpa didampingi sang istri. Penyakit penyerta diabetes melitus dan hipertensi yang diderita Agus Sudrajat telah memperburuk kondisinya hingga tak bisa diselamatkan.

Di luar sana, anak pertama pasangan ini Nendra Premonik Sekar Rengganis tengah bernegosiasi dengan sejumlah pihak untuk mengurus pemakaman sang ayah. Pihak keluarga merencanakan almarhum dikebumikan di pemakaman kampung di sebuah dusun tempat mereka tinggal di Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman. Alasannya agar Nelly bisa dengan mudah setiap hari berziarah ke makam suaminya karena jarak makam tak sampai satu kilometer dari rumah.

BACA JUGA: Rumah Sakit Mulai Penuh, Ini Rencana Pemerintah Jika Kasus Covid-19 Melonjak

Namun pukul 14.00 WIB, melalui telepon genggam, Nelly menerima kabar buruk dari Monik sapaan akrab anaknya. “Katanya di sana enggak bisa. Rasanya sakit. Ternyata sama Pak Dukuh dan warga enggak boleh [dimakamkan di pemakaman kampung di Maguwoharjo],” ungkap perempuan kelahiran 1965 itu bercerita kepada Harian Jogja, melalui sambungan telepon dari RSUD Jogja, Kamis (3/12/2020) sore.

Kabar itu makin membuat Nelly terpukul karena baru beberapa jam suaminya meninggal. Lantaran tak diterima di Sleman, pemakaman almarhum akhirnya dipindahkan ke pemakaman Sarilaya, Gedongkiwo, Kota Jogja. Sejumlah pihak termasuk Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, kata dia, ikut membantu mencarikan lokasi pemakaman yang tepat untuk almarhum. Pemakaman di Gedongkiwo dipilih karena lokasinya tak jauh dengan rumah anaknya Monik di daerah Patangpuluhan, Kota Jogja.

Sekitar pukul 15.30 WIB, jasad Agus Sudrajat dikebumikan. Tak banyak orang yang hadir di pemakaman itu, hanya sejumlah pejabat Pemkot Jogja dan perangkat desa, itu pun dengan protokol kesehatan yang ketat seperti memakai masker dan menjaga jarak. Lewat video, Nelly menyaksikan suaminya dibaringkan di peristirahatan terakhirnya.

BACA JUGA: Polisi Klaim Penangkapan Ustaz Maaher Sesuai Prosedur

Rasa kehilangan dan kesedihan atas apa yang dialami suaminya hingga kini masih membekas. Dengan suara lirih Nelly bercerita panjang bagaimana perasaan yang dialami keluarganya saat ini. Duka karena keluarganya diketahui terinfeksi Corona dan kematian suaminya belum hilang, tetapi kini ditambah lagi penolakan makam. Menurut kabar yang ia dengar, pemakaman suaminya ditolak perangkat dusun setempat dan warga. Pertama karena keluarganya belum berganti KTP dengan alamat domisili di Maguwoharjo, alasan lainnya karena suaminya meninggal karena Covid-19.

Saat ini, menurut dia, keluarganya memang masih ber-KTP di Jetisharjo, Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Jogja, tempat tinggal lama mereka. Namun sejak 2004 mereka pindah ke Maguwoharjo sampai sekarang. Selama belasan tahun pula keluarga Nelly tak pernah bermasalah dengan warga di Maguwoharjo. Ia kesal, rasa empati dan kemanusiaan diabaikan dalam kasus penolakan pemakaman suaminya. Ia sangat yakin stigma buruk terhadap pasien Covid-19 menjadi alasan penolakan warga dan perangkat desa selain masalah KTP. “KTP yang hanya selembar kertas lebih penting dibanding rasa welas asih dan bela rasa kepada keluarga yang mendapat musibah. Harusnya ini bukan ciri dan sifat orang Jogja yang katanya humanis, gotong royong, saling mengasihi. Kami sama sekali tidak melihat sisi itu hanya gara-gara selembar KTP,” katanya.

Keluarganya, kata Nelly, masih beruntung ada yang membantu mencarikan pemakaman di Kota Jogja berkat jaringan dan akses ke pemerintah yang kuat. Ia tak membayangkan bila kondisi ini menimpa keluarga lainnya di DIY. “Untung saja keluarga kami punya akses dan jejaring yang luas. Seandainya hal ini terjadi pada keluarga yang tidak memiliki itu, bisa dibayangkan seperti apa kesedihan yang dirasakan,” katanya.

BACA JUGA: Sebut FPI Ormas yang Lakukan Premanisme, Polri: Kami Akan Sikat Semua!

Ia berharap cukup keluarganya yang terakhir menerima praktik penolakan jenazah karena stigma Covid-19. Edukasi yang memadai ke warga soal pemakaman Covid-19 menurutnya sangat penting. Sebab berbagai ahli sudah menyatakan jenazah pasien Covid-19 yang sudah diperlakukan sesuai standar protokol kesehatan sejatinya aman untuk dimakamkan dan sangat kecil menyebabkan penularan.

Nelly dan Agus telah menjalani mahligai rumah tangga selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula ia tak pernah sekali pun berpisah dengan suaminya dalam waktu lama. Ia hafal betul apa yang dijalani suaminya sehari-hari selaku Kepala Dinas Sosial Kota Jogja.

Pada awal-awal Covid-19, Agus Sudrajat menurut Nelly sudah sibuk mempersiapkan bantuan sosial untuk warga Jogja yang terdampak Covid-19. Ia sering kali pulang ke rumah hingga dini hari saat awal-awal mengurus pendataan warga.

Dalam perjalanannya Pemkot Jogja disibukkan dengan pengadaan selter untuk menampung pasien Covid-19 yang merupakan orang tanpa gejala (OTG). Agus Sudrajat lagi-lagi berada di garda terdepan. “Bapak itu kalau Sabtu dan Minggu pergi ke selter mengecek bagaimana makanannya layak atau enggak. Saya sering diajak,” ungkap dia.

BACA JUGA: Sah Dihapus dari Daftar Narkotika Paling Bahaya, Ini 20 Manfaat Ganja untuk Kesehatan

Tak hanya itu, sering kali Agus terbangun tengah malam atau dini hari karena dering telepon yang mengabarkan banyak warga yang kesulitan memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Agus akan turun tangan mencarikan solusi membantu warga yang kesulitan mencari makam. Bila upaya mencarikan makam sudah mentok, Agus biasanya terpaksa mengupayakan pemakaman pasien Covid-19 di pemakaman khusus Dinsos Jogja di Jalan Pramuka yang sejatinya diperuntukkan untuk jenazah tak dikenal.

Tengah malam Agus biasa disibukkan dengan koordinasi ke berbagai aparat kecamatan hingga kelurahan untuk pemakaman yang berkonflik, atau mencari penggali makam dadakan demi warganya bisa dimakamkan dengan layak dan tak telantar. Semuanya demi kemanusiaan. Hal itu dialami suaminya berbulan-bulan selama Covid-19.

Ketua RT tempat tinggal keluarga Nelly, Daryono, saat dikonfirmasi Harian Jogja membantah perangkat dusun dan warga menolak pemakaman almarhum Agus Sudrajat karena Covid-19. “Itu karena tidak domisili [KTP] sini, karena di sini kan pemakaman terbatas. Enggak ada itu menolak. Dukuh cuma bilang nanti warga menolak lho [kalau dimakamkan di Maguwoharjo]. Jadi baru dugaan [warga menolak], penolakan belum muncul,” ungkap Daryono.

BACA JUGA: Pelajaran Jarak Jauh Kurang Maksimal, PGRI: Siswa Ingin Kembali ke Sekolah

Namun hal itu dibantah Nelly. Menurutnya sudah pernah warga luar tak ber-KTP setempat yang meninggal dunia, tetapi tetap boleh dimakamkan di pemakaman kampung dan tak ada penolakan dari warga. Ia meyakini suaminya ditolak karena stigma buruk soal Covid-19.

Hal itu juga diutarakan Monik, anaknya. “Yang kami rasakan warga menolak karena Covid-19. Bahkan sampai asiten rumah tangga saya belanja keluar digosipkan warga padahal hasil swab-nya negatif,” ungkap Monik.

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, Pristiawan Buntoro, mengakui sudah berkali-kali kasus penolakan pemakaman di DIY terjadi karena stigma Covid-19. Padahal Gubernur DIY sudah mengeluarkan kebijakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 diperbolehkan di perkampungan. “Untungnya DIY itu ada tim cipta kondisi, jadi kalau ada konflik penolakan itu muncul akan dirembug oleh tim cipta kondisi sehingga masalahnya tidak sampai ke permukaan. Selama ini kasus-kasus seperti itu bisa diselesaikan,” kata Pristiawan.