Pertumbuhan Ekonomi DIY Akan Lebih Baik Tahun Depan, Ini Sebabnya

Ilustrasi - Freepik
31 Desember 2020 08:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia (BI) DIY dan ekonom memprediksi ekonomi DIY akan lebih baik pada 2021 dan mulai tumbuh positif.

Selama pandemi Covid-19 di 2020. ekonomi DIY mengalami kontraksi. Pada Triwulan I pertumbuhan ekonomi DIY minus 0,17%, kemudian pada Triwulan II semakin dalam menjadi minus 6,72%, dan mulai membaik pada triwulan III meski masih minur2,84%.

Kepala BI DIY, Hilman Tisnawan mengatakan ekonomi yang terpuruk pada 2020 akibat pandemi Covid-19, akan segera puluh dengan proyeksi pertumbuhan yakni 3,9 – 4,3% pada tahun depan. Proyeksi tersebut tidak lepas dari sejumlah indikator yang menunjukan tren yang lebih baik.

“BI optimis untuk 2021. Sudah ada perbaikan-perbaikan saat ini. Indeks keyakinan konsumen sudah mulai membaik, manufacturing index menunjukkan kenaikan. Aktivitas wisata sudah berjalan, meski masih berpacu dengan Covid-19,” ucap Hilman, Rabu (30/12/2020).

Hilman mengungkapkan sebenarnya proyeksi pertumbuhan ekonomi di DIY awalnya 5% pada 2021. Namun melihat sejumlah kondisi akibat pandemu, angka pertumbuhan diperkirakan 3,9-4,3%. Jika kondisi semakin baik dengan adanya vaksin dan kepatuhan protokol Covid-19, tidak menutup kemungkinan pertumbuhan ekonomi di DIY akan lebih tinggi dari 4,3%.

Sektor yang akan memacu pertumbuhan ekonomi, mulai dari pertanian, kemudian industri, serta proyek-proyek konstruksi. Pariwisata dan pendidikan juga masih menjadi andalan penyumbang tumbuhnya perekonomian di DIY, meski perlu kehati-hatian karena bergantung pada pergerakan orang.

Hilman menilai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ke depan akan semakin lincah.

“UMKM perlu melakukan digitalisasi dan merambah pasar internasional agar naik kelas. BI DIY siap mendukung UMKM, salah satunya diwujudkan dengan Grebeg UMKM yang pada 2020 ini digelar secara daring,” ujar dia.

Hilman memberikan sejumlah catatan untuk 2021, agar ekonomi dapat tumbuh, Pertama, semua pihak harus memiliki tagline yang sama untuk penanganan Covid-19 ini, semua pihak dapat mematuhi protokol Covid-19 dan adanya vaksinasi.

Kedua, reaktivasi kegiatan yang produktif, dengan memilih yang aman, sifatnya tidak berkerumun. Pariwisata harus bergeser dari yang biasanya mass tourism, menjadi wisata yang sifatnya lebih sedikit orang dengan protokol pencegahan Covid-19. Meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) perlu didorong.

Ketiga, mendorong pertumbuhan kredit yang masih rendah. “Bagaimana mendorong pengusaha itu, uang di bank sudah banyak. Permintaan dari pengusaha belum. Mereka bingung mau usaha apa. Harus didorong, kami akan melakukan pemetaan usaha industri yang prospek,” ujarnya.

Keempat, digitalisasi. Akselerasi ke digital ini harus dilakukan, sehingga dapat membuka pasar lebih luas, dan berbagai keuntungan lainnya pun dapat dirasakan.

Kelima, kebijakan makroprudensial. BI tentu saja akan melakukan kebijakan moneter makroprudensial yang akomodatif. Terakhir tidak kalah pentingnya stimulus fiskal itu, baik Pemerintah Pusat maupun daerah harus mengakselerasi belanja, itu penting agar masyarakat punya uang konsumsi, membuka lapangan pekerjaan. Selain juga bansos itu penting juga,” kata Hilman.

Pengamat ekonomi sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi, Hamid memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY selama semester pertama diperkirakan 3-4%. Sementara pada semester kedua, ia optimistis pertumbuhan akan lebih tinggi.

“Dengan asumsi vaksin sudah digunakan pada semester I 2021, dan tekanan kasus-kasus positif Covid-19 sudah mulai berkurang, pada awal semester II 2021 sektor pendidikan akan mulai menggeliat dengan cepat. Pelajar dan mahasiswa yang kembali, bisa jadi akan melampiaskan rasa kangen dengan Jogja bersama keluarga, yang ini akan mempercepat pertumbuhan PDRB DIY. Hal yang sama juga dengan sektor wisata yang akan mengalami pertumbuhan yang akseleratif pada semester II 2021, dan bisa mencapai 4-6%,” ucap Edy.

Faktor yang akan tumbuh pesat adalah sektor wisata, yang pada menjadi sektor utama pertumbuhan ekonomi di DIY selama ini.

“UMKM juga akan mulai bangkit seiring pariwisata bergerak dan dunia pendidikan juga berjalan. Sektor konstruksi juga akan tumbuh lebih baik,” ucap dia.