Karang Taruna Argodadi Kembangkan Ekowisata Pertanian Organik

Mbah Lasiyo, ahli pembudidaya pisang sedang mengajarkan cara budidaya dan merawat pohon pisang kepada remaja karang taruna di Dusun Selogedong, Desa Argodadi Sedayu, Bantul, Jumat (1/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
04 Januari 2021 07:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sejumlah remaja yang tergabung dalam Karang Taruna Satria Bhakti Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu, Bantul mengembangkan ekowisata berbasis pertanian organik di Dusun Selogedong, desa setempat.

Tahap awal pengembangan ekowisata ini dengan membuka lahan dan penanaman bibit pisang di lahan kas desa seluas sekitar 1.700 meter. “Pemilihan bibit pisang pada awal pembukaan lahan ini merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan potensi tanaman pisang yang ada di kalurahan Argodadi dan meningkatkan partisipasi dari anggota karang taruna dalam pengembangan program ini,” kata Ketua Program Kebun Produktif Satria Bhakti, Novi Morita Siwi, Jumat (1/1/2020).

BACA JUGA : Punya Surat Bebas Covid-19? Ini 10 Destinasi Ekowisata

Morita mengatakan Desa Argodadi yang memiliki lahan pertanian  luas merupakan  salah satu nilai tambah serta penegasan bahwa sudah sepantasnya  kegiatan berkebun dapat dikembangkan. Namun permasalahannya, kaum muda kurang tertarik dengan kegiatan pertanian, sehingga dengan dilaksanakan program Kebun Produktif Satria Bhakti dapat menjadi salah satu solusi dalam kaderisasi petani milenial.

Kebun Produktif Satria Bhakti merupakan program prioritas diharapkan dapat menjadi satu wadah bagi pemuda Desa Argodadi khususnya Karang Taruna Satria Bhakti untuk dapat mengembangkan potensi sumber daya alam dan mengasah keterampilan generasi muda dalam bertani yang inovatif dan kreatif.

BACA JUGA : Siapa Sangka, Ekowisata di Caturtunggal Ini Dulunya 

Pengembangan kebun ini dirancang menjadi konsep ekowisata yang berbasis pertanian organik. Hal tersebut selaras dengan potensi wisata Desa Argodadi yang masih bisa dikembangkan, seperti Praon Cawan yang sampai saat ini masih berkembang, area persawahan yang memiliki daya tarik wisata “ndeso” yang masih asri, area perbukitan dapat dijadikan bumi perkemahan, dan area sungai “Kali Kontheng” yang bermuara di Sungai Progo sebagai wisata air.