Siapa Sangka, Ekowisata di Caturtunggal Ini Dulunya Kawasan Kumuh

26 Maret 2018 16:55 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :

Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok terus berbenah untuk menjadi salah satu desa yang bebas dari kawasan kumuh

Harianjogja.com, SLEMAN—Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok terus berbenah untuk menjadi salah satu desa yang bebas dari kawasan kumuh. Salah satu sudut di Dusun Nologaten, Caturtunggal yang sebelumnya dikenal menjadi kawasan kumuh kini diubah menjadi kawasan ekowisata.

Kepala Dusun Nologaten, Sulistyo Eko Narmono mengatakan beberapa tahun lalu kawasan bantaran Sungai Gajah Wong di dusunnya dikenal sebagai kawasan kumuh. Selain banyak sampah, lingkungannya juga tidak terawat sehingga tidak enak dipandang.

Namun sejak 2015, setelah pemerintah menggencarkan pembangunan untuk kawasan-kawasan kumuh, maka dusunnya pun mulai berbenah.

“Dulu sepanjang bantaran sungai itu kumuh, tapi sekarang bisa tempat untuk bermain dan juga untuk aktifitas yang lain,” kata dia kepada Harianjogja.com, Minggu (25/3/2018).

Pembangunan bantaran sungai di desanya berlangsung pesat. Setelah sebelumnya dilakukan perbaikan akses jalan oleh Pemerintah Desa, Pemerintah Pusat juga mengucurkan dana untuk pembangunan bantaran sungai. Hasilnya sekarang kawasan tersebut menjadi lebih bersih, dan bahkan dicanangkan menjadi lokasi ekowisata.

“Di sana sudah ada tempat bermain untuk anak-anak, kalau sore biasanya digunakan untuk bermain. Dan warga juga memanfaatkan untuk lokasi membuat batik,” kata dia.

Selain itu, kawasan yang dikelola sepenuhnya oleh warga itu juga terdapat energi terbarukan. Berasal dari aliran sungai yang mengalir kemudian dimanfaatkan warga untuk membuat turbin sederhana. Hasilnya energi turbin itu dikonversi menjadi listrik yang kemudian dimanfaatkan untuk penerangan di kawasan bantaran sungai.

Sementara itu Sekretaris Desa Caturtunggal, Aminudin Aziz mengatakan pihaknya memang sangat mendorong pembangunan bantaran Sungai Gajah Wong di Dusun Nologaten agar tidak lagi terkesan kumuh.

Untuk itu pihak desa pun memberikan dukungan langsung melalui anggaran desa. “Sudah lebih dari Rp100 juta yang kami alokasikan khusus untuk pembangunan di sekitar bantaran sungai,” ujarnya.

Lanjutnya lagi jika kawasan tersebut nantinya sudah benar-benar berkembang, pihaknya merencanakan untuk menjadikan kawasan itu sebagai kawasan ekowisata. Nantinya orang tidak hanya datang ke kawasan tersebut hanya untuk melihat atau sekedar bersantai, tetapi rencananya akan ada daya tarik lain seperti pembuatan flyingfox.

“Kami berharap dengan begitu nantinya akan membawa dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar. Jadi warga yang mengelola dan warga juga yang mendapatkan hasil dan manfaatnya,” ujar dia.