Bupati dan Sejumlah Tokoh di Sleman Diusulkan Jadi Penerima Vaksin Pertama

Ilustrasi. - Reuters
10 Januari 2021 18:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap pertana untuk para SDM Kesehatan di Sleman digelar Kamis (14/1/2020). Selain SDM Kesehatan Bupati Sleman Sri Purnomo sejumlah pejabat Formkominda Sleman, sejumlah tokoh berpengaruh juga diusulkan sebagai penerima pertama vaksin Sinovac.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan kick off pemberian vaksinasi di Sleman dimulai pada Kamis (14/1) mendatang. Sederet nama tokoh informal juga telah diusulkan sebagai penerima pertama vaksin Sinovac. Salah satunya adalah influencer dokter Tirta Mandira Hudhi. "Kami berharap dengan menggandeng para tokoh tersebut (untuk vaksinasi), bisa meyakinkan masyarakat," kata Joko, Minggu (10/1/2020).

Dia menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan di fasilitas kesehatan. Bukan di rumah dinas atau tempat lainnya. Dinkes menyiapkan Puskesmas Ngemplak 2 saat kick off nanti. "Puskesmas ini baru selesai direnovasi dengan konsep bangunan kekinian. Mumpung belum digunakan untuk pelayanan umum kami gunakan saat kick off nanti," ujarnya.

Setelah ditandai dengan launching, vaksinasi akan dilanjutkan terhadap tenaga sumber daya kesehatan. Ada sekitar 14.484 tenaga kesehatan yang diusulkan ke Kemenkes. Mereka yang akan menerima vaksinasi tinggal menunggu validasi dari pusat. Vaksinasi Covid-19 akan dilakukan di 52 fasilitas kesehatan terdiri dari 25 puskesmas, 24 rumah sakit, dan tiga klinik masing-masing klinik Kodim, Polres, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Dijelaskan Joko, di Sleman terdapat 27 rumah sakit tetapi tiga di antaranya menyatakan belum siap untuk menjadi lokasi vaksinasi. Masing-masing rumah sakit khusus bedah Sinduadi dan An Nur, serta RS khusus Arvita Bunda. "Ada syarat yang harus dipenuhi Fases untuk menjadi lokasi pemberian vaksin. Syarat utamanya memiliki SDM terlatih, rantai dingin, dan fasilitas penanganan jika terjadi reaksi efek samping," ujar Joko.

Vaksinasi tahap pertama ditargetkan selesai dalam kurun waktu dua pekan dengan melibatkan 58 vaksinator. Jika jumlah vaksinator kurang, maka Dinkes akan menambah jumlah vaksinator. "Kalau jumlah vaksinator kurang nanti dan dapat diperluas maka akan ada pelatihan susulan dalam waktu dekat. Nanti pelaksanaannya diatur lebih lanjut. Sebab, pelayan vaksinasi (tiap Faskes) hanya hari Senin hingga Kamis. Dalam sehari ada tiga sesi, per sesi hanya 20 sasaran," ujarnya.

Secara teknis Joko menjelaskan, setelah menerima vaksin Covid-19 peserta diminta untuk istirahat sekitar 30 menit. Ini untuk mengetahui ada tidaknya reaksi ikutan. Setelahnya, kondisi penerima vaksin tetap akan dimonitor. "Dari uji klinis, efek samping pemberian Sinovac berupa rasa pegal dan demam. Reaksi ini masih normal. Yang tidak kami harapkan adalah reaksi alergi. Masalah ini pun sudah kami antisipasi," katanya.