Cerita Korban Teror DC Pinjaman Online, Data Pribadi Disebar dengan Narasi Kasar

Pesan whatsapp dari penagih utang pinjaman online yang masuk ke ponsel Joko. - Harian Jogja/Sunartono.
14 Januari 2021 08:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pesan singkat melalui aplikasi Whatsapp baru saja masuk ke ponsel Joko Prasetyo, Rabu (13/1/2021) pukul 10.44 WIB. Pesan dari debt collector (DC) itu meminta agar ia segera membayarkan pinjaman saat itu juga karena sudah ada keterlambatan.

Sebenarnya sudah ada puluhan pesan singkat serupa selama sepekan terakhir yang masuk ke ponselnya dengan nomor yang berbeda. Pesan itu tak hanya meminta agar Joko membayarkan, namun juga dibumbui nada ancaman dengan menyertakan sejumlah nomor ponsel teman-temannya.

Nomor-nomor ponsel asing itu meneror Joko selama sepekan terakhir. Tak hanya Joko yang kena dampaknya, teman-teman yang terafiliasi dengan nomor ponselnya pun kena getahnya. Ia harus menanggung malu dengan beberapa teman kerja dan sejumlah kolega akibat teror tersebut.

Nomor misterius itu terus membombardir pesan yang menyatakan bahwa Joko memiliki utang Rp800.000 dengan disertakan sejumlah ancaman dan bahasa yang tak pantas. Tak hanya itu, foto dan KTP-nya pun turut disertakan dalam pesan yang dikirim ke nomor teman-temannya.

Keluarganya sangat tertekan dengan keadaan tersebut. Bahkan istrinya selama dua hari mogok makan akibat memikirkan persoalan itu dan berkali-kali turut menerima pesan serupa. “Karena data pribadi saya disebar dengan narasi yang tidak pantas, saya merasa tertekan, bingung mengapa bisa seperti ini, bahkan istri saya tidak doyan makan dan malu. Karena pesan itu dikirim ke nomor ponsel teman-teman saya,” kata Joko saat ditemui di sebuah Masjid di kawasan Umbulharjo, Kota Jogja, Rabu (13/1/2021).

Sembari menghela nafas panjang Joko menceritakan awal mula teror itu terjadi. Sekitar sepuluh hari yang lalu atau awal Januari 2021, ia iseng menginstal aplikasi yang ternyata merupakan pinjaman online. Ia mengira aplikasi tersebut merupakan aplikasi sejenis bantuan Covid-19 yang saat ini sedang marak. Dalam aplikasi tersebut ia sempat mengisi biodata lengkap termasuk mengirimkan foto dan KTP secara online.

Hanya saja, saat pengisian data itu dilakukan, sempat terhenti dan ia belum mendapatkan kepastian konfirmasi. Lalu Joko pun tak mempedulikannya lagi. Selain itu, ia juga merasa tidak mendapatkan konfirmasi saldo yang masuk ke rekeningnya.

Namun selang sekitar tujuh hari kemudian petaka teror mulai menimpanya. Ia dihubungi seseorang yang mengaku dari aplikasi pinjaman online, dengan kasar meminta untuk membayar angsuran. Detik itu menjadi awal teror demi teror berdatangan ke ponselnya termasuk ponsel teman dan keluarganya.

“Isi pesannya itu kasar termasuk menuduh saya maling, penipu katanya mau dijadikan tumbal. Bahkan saya dibuatkan grup WA dengan nama MALING/PENIPU JOKO PRASETYO itu ikon memakai foto saya,” katanya sembari menunjukkan grup WA tersebut.

Baginya bukan soal nominal tagihan yang harus dibayarkan, namun cara penagihan yang tidak pantas. Terutama dengan menyebarkan foto dan data pribadi ke orang lain, tetapi menurutnya berpotensi melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).  

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas keamanan ini telah berupaya menginformasikan kejadian yang dialaminya ke kepolisian. Termasuk menyampaikan persoalan tersebut ke LBH Aisyiyah. Dalam waktu dekat, ia berencana melaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena sudah meresahkan. Di sisi lain, Joko menyarankan kepada masyarakat pada umumnya jangan mudah tergiur dengan pinjaman online.

“Saya hanya sekedar klik-klik saja, tetapi tahu-tahu ditagih, menagihnya tidak hanya ke saya, tetapi juga ke teman-teman saya. Maka saya minta maaf kepada teman-teman saya sama sekali saya tidak bermaksud menjaminkan nomor ponselnya,” katanya. (Sunartono).