Pandemi hingga Harga Tanah yang Mahal Jadi Tantangan Pembangunan Rumah di DIY

Ilustrasi - JIBI
16 Januari 2021 18:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pandemi Covid-19 hingga harga tanah yang mahal menjadi tantangan developer di DIY saat ini.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) DIY, Rama Adyaksa Pradipt,  mengatakan pandemi Covid-19 pada 2020 telah menggerus bisnis properti di DIY hingga 50%. Namun, Rama memprediksi situasi 2021 akan lebih baik. Faktor utama adalah pemulihan ekonomi yang bisa berjalan baik jika Covid-19 terkendali.

Rama mengatakan pada 2020, segmen rumah sebagai kebutuhan pokok, lebih baik dari segmen rumah sebagai instrumen investasi. “Yang masih relatif baik di kisaran Rp500 juta, yang turun signifikan yang di atas Rp1 miliar,” ujar Rama, Sabtu (16/1/2021).

Sementara itu untuk rumah subsidi berjalan lancar pada 2020. Realisasinya sekitar 300 unit pada 2020. Target di 2021 pun tidak jauh dari angka 300 unit. Dia mengungkapkan yang jadi tantangan untuk mendongkrak target tersebut adalah harga tanah yang tinggi di DIY.

Backlog [kebutuhan rumah] masih tinggi, pada 2018 ada 252.000 unit. Kami perkirakan 70% nya untuk MBR [masyarakat berpenghasilan rendah] dan 30% non MBR. Sementara di DIY ini justru terbalik pasokannya, secara proporsi justru lebih banyak Non MBR daripada MBR. Untuk rumah non MBR bisa supply dengan sistem yang ada mengurangi backlog,” ujarnya.

Untuk mengurangi backlog rumah MBR pihaknya membutuhkan kolaborasi. Dia juga menyinggung implementasi Undang-Undang Cipta Kerja, yang nantinya akan membantu, karena mengatur bank tanah. “Kami berharap pemerintah segera merealisasikan. Nanti dialokasikan penyediaan untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah. Kalau tanah MBR diserahkan mekanisme pasar tidak bisa turun backlog tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya, dilansir dari Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Wakil Ketua Umum DPP REI, Hari Ganie mengatakan pandemi Covid-19 berdampak pada berkurangnya penjualan sektor properti dengan penjualan subsektor perumahan mencapai 50% – 60%.

Dia menyebutkan sektor perhotelan dan ritel penurunannya lebih parah lagi yakni mencapai 95%. “Bisa dibilang sekarang kami [kalangan pengembang] menghadapi masa yang paling kelam,” ungkap Hari Ganie.

Dia memprediksi pemulihan sektor properti akan memerlukan waktu yang lama. Bukan tak mungkin, lanjutnya, pandemi masih berdampak pada penjualan properti dalam 1–2 tahun ke depan.

Sepanjang tahun lalu, bisnis perumahan menjadi andalan pengembang di tengah keterpurukan bisnis properti secara keseluruhan yang melanda dunia akibat pandemi Covid-19.