GeNose Bisa Dongkrak Prariwisata Jogja

Wisatawan sedang berjalan di kawasan Malioboro, Kota Jogja, pada Jumat (25/12/2020). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
19 Februari 2021 19:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pengamat Pariwisata UGM, Hendrie Adji Kusworo menilai perluasan penggunaan GeNose untuk deteksi Covid-19, pada sektor pariwisata dinilai dapat berpengaruh positif pada sektor pariwisata.

“Pengguna GeNose secara masif di DIY akan berpengaruh positif bukan saja pada upaya penanggulangan Covid-19, tetapi juga meningkatkan image DIY sebagai destinasi yang aman untuk dikunjungi. Dari sisi harga juga lebih terjangkau,” ucap Adji, Jumat (19/2/2021).

Ketua Program Studi S2 Kajian Pariwisata UGM tersebut melihat kondisi pariwisata di DIY sampai saat ini memang masih dalam kondisi yang berat. Banyak pelaku wisata yang rugi besar, kehilangan pekerjaan, hingga menjual aset. Menurutnya ada sejumlah hal yang dapat diperhatikan untuk kembali menggerakan pariwisata ini.

Pertama untuk kembali menggerakan pariwisata tersebut dari pencegahan kasus Covid-19 itu sendiri. Membangun kesadaran untuk menerapkan protokol pencegahan Covid-19 pada wisatawan, tidak hanya pada industri pariwisata. Menurutnya saat ini belum semua sadar untuk menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY: Bantul Dominasi Kasus Baru

“Kedua, kebijakan pemerintah yang tidak berubah-ubah, meskipun agak sulit ya ini. Kebijakan ini sangat penting untuk basis mengambil kebijakan bisnis. Kalau pemerintah berubah-ubah hitungan bisnis jadi susah,” ujarnya.

Pelaku wisata yang juga Owner Shafannas Tour and Transports, Wawan ARJ berpandangan dengan adanya tes deteksi Covid-19 yang lebih terjangkau harganya dan tersebar secara massif setidaknya hingga Puskesmas, akan meringankan beban wisatawan dan dapat menggerakan pariwisata. Dia mengatakan saat ini untuk membuat paket wisata satu orangnya setidaknya harus mendapat biaya tambahan sekitar Rp200.000, untuk tes Antigen. Sementara jika menggunakan GeNose hanya pada kisaran harga Rp20.000-Rp35.000, yang dirasa akan lebih terjangkau.

Selain itu menurutnya kondisi pelaku wisata saat ini semakin berat dengan kebijakan pemerintah yang sering berubah secara mendadak. Kebijakan pembatasan yang dikeluarkan saat ini dinilai seakan kembali pada awal pandemi Covid-19. “Seharusnya pemerintah dapat melonggarkan akses wisata, dengan kami juga komitmen untuk mematuhi protokol pencegahan Covid-19,” ucapnya.

Diketahui sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengharapkan alat deteksi Covid-19 berbasis hembusan napas karya tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) GeNose menjadi game changer yang akan mempercepat upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.