Benih Bawang Merah Lokal Bantul Jenis Tiron Dikabarkan Sudah Punah

Udin, salah seorang petani bawang merah di Desa Srigadin, Sanden, menyirami tanaman bawang merah yang dimiliki, Rabu (25/7/2018). Penyiraman rutin dilakukan agar tanaman dapat tumbuh subur sehingga panen dapat lebih maksimal. - Harian Jogja/David Kurniawan
09 Maret 2021 22:57 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Benih bawang merah lokal di pesisir selatan Bantul kini dikabarkan telah hilang digantikan benih bawang dari luar.

Salah satu petani bawang merah di Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Purwanto menuturkan susahnya mencari benih bawang merah lokal Tiron. Padahal benih lokal ini punya keunggulan. Meski hasilnya lebih sedikit ketimbang jenis benih bawang dari Thailand, tapi warna, rasa, dan aroma benih lokal jauh lebih bagus. "Panennya, jumlah tonnya memang lebih sedikit, cuma ketahanan terhadap cuacanya kuat benih bawang merah lokal," ujarnya pada Selasa (9/3/2021).

Dari segi harga, selisih harga benih lokal dan benih Thailand pun cukup mencolok. Purwanto menjelaskan benih lokal paling dipatok kurang dari Rp30.000 per kilogram. Sementara benih bawang merah Thailand saat ini harganya telah mencapai Rp43.000 per kilogram. Harga benih bawang merah Thailand saat ini memang tengah naik-naiknya. "Biasanya Rp32.000 per kilogram," tuturnya.

Purwanto sangat menyayangkan hilangnya jenis lokal Tiron. Menurutnya, hal itu terjadi karena petani yang mungkin belum mampu melestarikan benih bawang merah lokal. Benih yang sering dipakai saat ini, benih bawang merah Thailand didatangkan juga dari luar Bantul yakni dari Nganjuk, Jawa Timur. Kendati mahal, Purwanto tetap membeli benih tersebut agar hasil panenan sesuai yang diharapkannya.

BACA JUGA: Ini Alasan Mahfud MD Tak Bentuk Tim Pencari Fakta Kasus Tewasnya 6 FPI

Harga benih bawang merah yang begitu tinggi membuat modal usaha budidaya yang dikeluarkan pun ikut membengkak. Menurut Purwanto, dengan harga benih Rp40.000-43.000 per kilogram paling tidak harga jual yang menguntungkan saat panen kelak harus di harga minimal Rp15.000 per kilogram. "Kalau pas panen harganya Rp8000 jelas tombok. Harga Rp10.000 ngepres. Paling tidak ya Rp15.000, artinya petani dapat untung, pedagang juga dapat untung," tandasnya.