RSPS Bantul Soroti Masalah Rujukan BPJS, Ini Kendala Sering Dikeluhkan
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Ilustrasi hidran/Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jogja mengalokasikan anggaran Rp1,4 miliar untuk pengadaan dua hidran. Dua hidran tersebut akan ditempatkan di Kemantren Mantrijeron yang padat penduduk.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jogja, Anggoro Sulistyo, mengatakan pengadaan dua hidran untuk wilayah Kemantren Mantrijeron tersebut sudah direncanakan tahun lalu. Namun pada 2020 lalu terkena pemangkasan anggaran untuk penanganan Covid-19, sehingga pengadaan hidran pun ditunda.
BACA JUGA: Ini Perkiraan BMKG tentang Awal Musim Kemarau di DIY
“Sekarang baru proses pengadaan melalui Badan Layanan Pengadaan. Nilainya Rp1,4 miliar. Itu lelang murni,” kata Anggoro, saat dihubungi Rabu (17/3/2021).
Dia berharap April atau awal triwulan kedua pengadaan dua hidran sudah selesai. Wilayah Mantrijeron dipilih untuk penempatan dua hidran karena sesuai dengan kajian awal bahwa wilayah tersebut padat penduduk. Sebenarnya masih ada bebrapa kemantren lain yang juga kepadatan penduduknya tinggi dan membutuhkan hidran untuk mengantisipasi resiko kebakaran.
Namun pengadaan hidran harus bertahap. “Jadi pembangunan hidran-hidran ini karena kepadatan penduduk, kemudian faktor-faktor jalan juga tidak terlalu cukup untuk masuk kendaraan besar. Satu contoh misalkan tahun-tahun kemarin itu di Patuk, Ngampilan itu kan padat penduduk terus jalannya kecil sehingga dibangunlah hidran di tengah kampung,” ucap Anggoro.
Pengadaan hidran juga sudah disesuaikan dengan usulan warga di tiap wilayah melalui Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) terutama yang padat penduduk. Selain itu juga ada usulan melalui pokok-pokok pikiran anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jogja.
BACA JUGA: Mudik Tak Akan Dilarang, Ini Tanggapan Sultan Jogja
Sementara itu untuk mengelola hidran yang sudah ada, rencananya akan dikelola oleh satuan relawan kebakaran (satlakar) yang saat ini dalam proses pembentukan. Satlakar juga bertugas untuk menginformasikan semua bentuk kebakaran ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, memberi petunjuk arah dimana posisi hidran, sekaligus membuka jalan.
Rencananya satlakar akan ditempatkan di setiap rukun warga (RW). Masing-masing RW minimal ada satu Satlakar sebagai koordinator ketika terjadi kebakaran di masing-masing wilayah agar setiap kejadian kebakaran cepat teratasi. Satlakar juga yang akan memegang kunci hidran.
Anggoro menambahkan selama ini belum ada informasi kerusakan hidran yang ada di wilayah. Dia tidak menyebut sudah ada berapa hidran yang terpasang di tiap RW atau kalurahan. Namun pihaknya berupaya menambah terus hidran sampai tingkat RW atau bahkan sampai tingkat RT untuk kategori kepadatan penduduk tinggi dan tidak akses masuk kendaraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RSUD Panembahan Senopati Bantul menyoroti berbagai kendala sistem rujukan BPJS Kesehatan yang masih sering dikeluhkan pasien dalam layanan JKN.
Empat pria bertopeng membakar Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Sukoharjo setelah mengancam penjaga malam dengan senjata tajam.
Harga Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak naik hingga akhir 2026. Pemerintah menjaga harga BBM subsidi demi daya beli masyarakat.
Ketua MK Suhartoyo mengingatkan calon advokat tak menjadikan klien sebagai objek bisnis dan pentingnya menjalankan prinsip officium nobile.
Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka dalam kasus tewasnya pedagang cermin Bambang Setiawan di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Telkom melihat pemanfaatan Graha Merah Putih oleh BGN sebagai peluang optimalisasi aset dan membuka bisnis baru lewat layanan digital.