Seniman Harus Melek Teknologi

Foto Ilustrasi salah satu pementasan saat pembukaan program bimbingan seni, Art For Children (AFC) 2020 di Concert Hall TBY, Minggu (2/2/2020). - Harian Jogja/Sunartono
23 April 2021 06:37 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19 telah merubah semua lini kehidupan, termasuk bagi para seniman, yang kesulitan untuk menggelar pameran-pameran secara langsung. Penggunaan informasi dan teknologi menjadi penting untuk memamerkan karya seniman.

Demikian disampaikan Seniman Lukis Dedy Sufriadi, “Perkembangan seni rupa tak bisa dilepaskan lagi dari dunia digital. Peranan sosial media sudah mengambil alih dari kegiatan seniman. Seniman tidak bisa lagi anti terhadap dunia digital, karena ada kemudahan dengan dunia digital,” kata Dedy, dalam acara Sarasehan Seni Budaya 2021 bertema Masa Depan Ruang Dan Aksi Seni Rupa, di Gedung  Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (22/4/2021)

Dedy mencontohkan ketika membuat portofolio dan ingin menjangkau semua galeri dulu harus mencetak dan mengirimkannya. Saat ini dengan satu klik bisa mengirim foto ke semua galeri dan ke banyak  kurator.

“Sekarang cukup dengan dunia digital dengan membuat database kemudian database di-share langsung ke bebrapa galeri bahkan ke ratusan galeri sekalipun bisa melalui email dan media sosial,” ujar Dedy.

Ada berbagai kemudahan dengan adanya teknologi informasi yang harus ditangkap sebagai peluang untuk mempromosikan karya terutama bagi seniman-seniman muda. Hal itu tidak lepas dari kondisi terkini dimana hampir 70% penduduk Indonesia sudah melek internet, dan 90% lebih yang melek internet rata-rata menggunakan media sosial.

Kendati demikian , pemilik ruang seni Nara Roefa di Kasihan, Bantul ini menyatakan meski media sosial dan media informasi lainnya penting, namun tetap tidak bisa menafikan ruang dialog atau pameran langsung.

Menurut dia, dengan datang langsung ke ruang seni atau ruang pamer pecinta karya seni bisa melihat langsung karya yang bagus bahkan yang bisa menggetarkan. “Kita tidak bisa menolak media soaial namun tidak bisa menafikan juga ruang dialog. Jadi intinya harus kompromi,” ujar Dedy. 

“Sebagus apapun pameran virtual tak akan mengalahkan pameran fisik. Tetap butuh ruang.  Tak bisa menggantikan datang ke pameran langsung.  Ada getaran langsung.  Sementara di medsos hanya lihat, tandas Dedy.

Selain Dedy Afriadi, pembicara dalam Sarasehan Seni Budaya 2021 tersebut adalah Putu Sutawijaya sebagai seniman sekaligus pendiri dan pemilik Sangkring Art Space dan Irene Agrivina sebagai aktivis media baru.

Putu mengatakan sebagus apapun ruang digital, namun dia berkeyakinan ruang fisik masih tetap dibutuhkan. “Ruang bukan sebatas fisik tapi bagaimana membangun komunitas dengan audien,” tegas Putu

Kepala Pengelola TBY, Diah Tutuko Suryandaru, mengatakan pandemi yang melanda dunia sejak awal 2020 mempercepat perubahan yang terjadi pada ruang dan aksi seni rupa. Produksi, distribusi, dan konsumsi seni mengalami perubahan sejalan dengan situasi pandemi dan ketersediaan teknologi informasi internet. Beberapa ruang seni beradaptasi dengan situasi baru dengan menyelenggarakan pameran berbentuk daring atau kombinasi dengan luring.

Diah sangat mengapresiasi ungkapan para seniman dalam menghadapi kondisi pandemi ini. “Sarasehan ini ingin melihat bagaimana respon masyarakat dengan agenda yang seperti biasanya pameran langsung sekarang tidak bahkan sekarang ketemu dengan media sosial. Banyak juga yang ingin ketemu langsung,” kata Diah.

Diah memahmi  memang harus bisa beradaptasi dengan kondisi pandemi, “Perlu diperhatikan bisa dikalaborasikan dengan media sosial dan ruang fisik, masyarakat membutuhkan dua hal tidak bisa jalan sendiri,” kata Diah. Dalam sarasehan tersebut Diah mengikuti sampai akhir.