HUT Sleman Ke 105, PUDAM Sleman Terus Mengabdi dan Berprestasi

PUDAM Tirta Sembada meraih TOP CSR Awards 2021 yang digelar Majalah TopBusiness bekerjasama dengan sejumlah asosiasi Bisnis, GCG, dan konsultan CSR. Penghargaan diterima langsung oleh Direktur PUDAM Tirta Sembada Sleman Dwi Nurwata (tengah) di Jakarta pada Maret lalu. - Ist
17 Mei 2021 06:27 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Hampir tiga dasawarsa Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirta Sembada Kabupaten Sleman berdiri, segudang prestasi mampu diraih oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini. Kinerja perusahaan yang baik dan prestasi yang memuaskan pun diganjar berbagai penghargaan.

Teranyar, konsisten PUDAM Tirta Sembada salam menjalankan program-program Corporate Social Responsibility (CSR) secara berkelanjutan pun mendapat pujian. Beberapa kegiatan CSR diselaraskan PUDAM ini untuk mendukung strategi bisnis perusahaan yang dikenal dengan istilah CSV (creating share values).

PUDAM Tirta Sembada pun meraih TOP CSR Awards 2021 yang digelar Majalah TopBusiness bekerjasama dengan sejumlah asosiasi Bisnis, GCG, dan konsultan CSR. Penghargaan diterima langsung oleh Direktur PUDAM Tirta Sembada Sleman Dwi Nurwata di Jakarta pada Maret lalu.

"Visi misi kami menjadi perusahaan air minum yang sehat, mandiri dan terpercaya dengan menyediakan kebutuhan air bersih berstandar untuk masyarakat Sleman," kata Dwi usai menerima penghargaan, belum lama ini.

Muara dari kinerja yang dilakukan, kata Dwi tentunya untuk membantu meningkatkan perekonomian daerah melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sleman. Meskipun demikian, lanjut Dwi, PUDAM Tirta Sembada tak hanya mengejar profit dengan menggenjot jumlah pelanggan dan tarif komersial.

"Sebagai perusahaan penyedia air bersih bagi masyarakat, kami juga aktif dalam berbagai aksi dalam kepedulian sosial dan lingkungan masyarakat sekitar melalui program-program CSR," kata Dwi.

Pengabdian

Program CSR PUDAM Tirta Sembada tidak hanya diisi dengan kegiatan yang sifatnya donasi dan charity (aktivitas amal) seperti bantuan bagi warga miskin (Penanggulangan Kemiskinan), layanan kesehatan (pengobatan gratis), bantuan korban bencana, perbaikan bina lingkungan sosial dan lainnya.

PUDAM Tirta Sembada misalnya dalam kebijakan program CSR di tengah pandemi Covid-19 memberikan dispensasi pembayaran rekening air bagi Pelanggan Gol. RT. A1, pembebasan denda keterlambatan pembayaran, Bantuan APD bagi tenaga kesehatan, Bantuan disinfektan bagi 1.112 Dusun melalui BPBD Sleman, serta bantuan masker dan Sembako bagi masyarakat.

"Kami juga ada program pemberian CSR terhadap masyarakat kurang mampu dan relawan kesehatan yang ditanggunggkan dalam kepesertaan BPJS Ketenaga Kerjaan sebanyak 2.500 orang pada 2020," ujarnya.

Program CSR PUDAM Tirta Sembada juga dirancang untuk kegiatan berkelanjutan. Seperti dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan wirausaha, bantuan dunia pendidikan, dan lainnya yang didedikasikan untuk mendukung kelangsungan bisnis perusahaan.

Adapun strategi program CSR yang diselaraskan untuk mendukung kelangsungan bisnis perusahaan. Misalnya melalui gerakan go green dengan melakukan perbaikan dan pelestarian lingkungan. Ini, kata Dwi dilakukan untuk perbaikan dan kelestarian wilayah yang selama ini menjadi sumber mata air.

"Aktivitas penanaman pohon dan upaya lain untuk perbaikan ekosistem lingkungan juga tetap kami lakukan. Termasuk program pembinaan, penyuluhan hingga pelatihan wirausaha bagi masyarakat di sekitar sumber mata air," katanya.

Keselarasan program pembinaan masyarakat yang dirancang PUDAM Tirta Sembada bertujuan agar warga bisa ikut menjaga kelestarian ekosistem lingkungan yang menjadi sumber mata air. Selain itu, pembinaan dilakukan agar warga juga bisa lebih berdaya secara ekonomi melalui kegiatan wirausaha sesuai dengan potensi lokal.

"Sebagai penyedia air bersih bagi masyarakat Sleman, ketersediaan sumber air baku ini sangat penting agar pasokan air ke pelanggan bisa terjaga kontinuitas dan kualitasnya," kata Dwi.

Selama ini, sumber air baku PUDAM Tirta Sembada, selain dari sumur dalam (deep well) maupun sumur dangkal, juga dari sumber mata air. Untuk optimalisasi sumber mata air agar tetap terjaga dengan baik, tentu perlu dukungan masyarakat dan juga pelestarian ekosistem lingkungan yang ada di sekitar.

"Itulah makanya program CSR kami, di antaranya juga difokuskan untuk mendukung pelestarian ekosistem lingkungan di wilayah tersebut. Dengan ekosistem yang terjaga, kita harapkan pasokan air dari sumber mata air tidak mengalami kendala terutama debit air agar stabil," ucapnya.

Kolaborasi

Menurut Dwi, di era saat ini membangun kolaborasi sangat penting termasuk dengan komunitas di masyarakat. Apa yang dilakukan PUDAM untuk menjaga kelestarian sumber air perlu dukungan unsur terkait lain, termasuk partisipasi masyarkat sekitar. "Kebutuhan air bersih ini penting bukan hanya untuk konsumsi saja tetapi juga untuk mendukung kegiatan usaha dan ekonomi masyarakat. Karena itu ekosistem dan tata kelolanya harus dijaga dengan baik," ucapnya.

Regulasi

Dwi mengatakan, dalam jangka waktu lima tahun ke depan, PUDAM Tirta Sembada menargetkan 68% warga tercakup layanan perusahaan plat merah itu. Target tersebut sekaligus untuk mendukung Gerakan 100-0-100 yang dicanangkan pemerintah. Yakni, 100% akses air bersih, 0% daerah kumuh dan 100% sanitasi yang baik.

"Target se kabupaten kami bisa melayani 68 persen atau bertambah sekitar 50.000 pelanggan baru, sisanya dilayani oleh SPAMDes dan non perpipaan secara mandiri," katanya.

Ia menjelaskan, tidak mudah menambah 50.000 pelanggan dalam kurun waktu lima tahun. Alasannya, setiap tahun, PDAM Sleman rata-rata hanya melayani sekitar 2.500 pelanggan baru. Terutama dari masyarakat berpenghasilan rendah melalui program tarif murah. "Jika target ditingkatkan jadi 10.000 pelanggan tentu butuh kerja ekstra," katanya.

Oleh karenanya, ia menyiapkan sejumlah upaya untuk mencapai target tersebut dengan menyiapkan kebijakan dan meningkatkan sarana dan prasarana. Dwi mengusulkan adanya regulasi pembatasan penggunaan sumber air dengan sistem bor. Hal ini bertujuan agar ketersediaan sumber air baku tidak terganggu.

"Aturan pembatasan ini juga diharapkan diterapkan di hotel, dan kawasan perumahan. Untuk menekan biaya produksi, kami sebisa mungkin menggunakan air permukaan untuk sumber," katanya.

Untuk memenuhi penyediaan infrastruktur, ia akan bekerjasama dengan beberapa instansi seperti Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), dan DPUPKP Sleman. "Kami telah mengusulkan agar BBWSSO untuk menambah debit di dua titik berlokasi di Berbah, dan satu di Godean karena sumber airnya terbatas. Kepada DPUPKP untuk kami usulkan membangun jaringan distribusi utama. Mudah-mudahan bisa terlaksana tahun ini," kata Dwi. (*)