Cegah DBD, Si Wolly Nyaman Sasar 39 Kalurahan di Sleman

Ilustrasi - Pixabay
20 Mei 2021 06:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemkab Sleman mulai meluncurkan Program 'Si Wolly Nyaman' dengan Metode Wolbachia untuk menekan tingkat penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Program ini akan diluncurkan pada, Jumat (21/5/2021). Terdapat 39 kalurahan yang menjadi sasaran program ini.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo menjelaskan, 'Si Wolly Nyaman' diambil dari nama Wolbachia, bakteri alami yang terdapat di 60% lebih jenis serangga. Program ini terlaksana atas kerjasama dengan World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, serta didukung oleh Yayasan Tahija.

BACA JUGA : Mengenal Teknologi Wolbachia, Pencegahan DBD

Dia menjelaskan, bakteri wolbachia yang ada di dalam tubuh nyamuk merupakan hasil perkawinan nyamuk ber-Wolbachia dengan nyamuk lokal. Diyakini, bakteri yang juga ada di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti ini dapat melindungi masyarakat dari penularan DBD.

"Kami berharap program ini dapat menekan angka kasus DBD di Sleman," kata Joko usai jumpa pers dengan awak media, Rabu (19/5/2021).

Joko mengatakan implementasi program Si Wolly Nyaman berdasarkan Instruksi Bupati Sleman No.09/Instruksi/2021. Penerapan program ini dilakukan oleh 20 puskesmas di 13 kapanewon. Dinkes akan menyebar lebih dari 22.000 ember berisi telur nyamuk ber Wolbachia, dengan cara dititipkan pada para orang tua asuh.

"Program ini melibatkan 39 kalurahan dan 588 padukuhan di Sleman. Mekera yang terpilih menrima ember berisi telur nyamuk ber Wolbachia di tiap-tiap padukuhan akan menjadi orang tua asuh," ujarnya.

Dusun-dusun yang menjadi sasaran program, lanjut Joko, dipilih karena tingkat kejadian DBD nya cukup tinggi. Agar berjalan lancar, kata Joko, Dinkes melakukan beberapa persiapan dan tahapan sejak awal tahun ini. Misalnya, pelatihan bagi Para Pelatih Pelaksanaan Implementasi Perluasan Manfaat Wolbachia di Sleman secara daring.

BACA JUGA : Hore... Tim Riset Jogja Berhasil Turunkan Kasus DBD

Selain itu, digelar juga pelatihan Pelaksana Program dari perwakilan Dinas Kesehatan Sleman kepada perwakilan dari 20 puskesmas dan 13 kapanewon, serta kegiatan sosialisasi di tingkat Kalurahan dan Padukuhan yang menjadi lokasi program tersebut.

"Metode Wolbachia terbukti efektif menurunkan 77% kejadian dengue dalam Penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) di Kota Jogja," katanya.

Berdasarkan data Dinkes Sleman kasus DBD pada 2016 tercatat 880 kasus dengan kasus meninggal dunia 9 orang. Jumlahnya turun pada 2017 dengan 427 penderita dan 3 meninggal dunia. Selama 2018, kasus DBD turun menjadi 114 penderita dan meninggal dunia 1. Adapun di tahun 2019 kasus DBD kembali mengalami kenaikan menjadi 728 penderita dengan kasus meninggal dunia 2 orang.

"Untuk 2020 kasus meningkat kembali menjadi 810 dengan kasus meninggal ada 2 orang. Untuk tahun ini sampai akhir April terdapat 112 kasus tidak ada yang meninggal dunia," katanya.

Tim WMP Yogyakarta Riris Andono Ahmad mengatakan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang dititipkan di rumah warga dipastikan aman karena sudah tidak dapat lagi menularkan virus dengue. Berdasarkan analisis risiko yang dilakukan oleh tim ahli independen Kemenristek Dikti dan Balitbangkes Kemenkes, disimpulkan risiko teknologi ini dapat diabaikan.

"Teknologi nyamuk ber-Wolbachia ini merupakan pelengkap dari upaya-upaya yang selama ini dilakukan untuk mengendalikan penyebaran penyakit DBD," katanya.

Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M plus, gerakan satu rumah satu jumantik, dan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk, tetap harus dilaksanakan oleh segenap lapisan masyarakat.