Mengenal Teknologi Wolbachia, Pencegahan DBD yang Sudah Terbukti Manjur di Jogja

Ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. - eliminatedengue.com
26 Agustus 2020 13:07 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Tim riset World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta telah berhasil menemukan cara baru untuk menurunkan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DB) yaitu dengan teknologi Wolbachia. Teknologi ini berhasil menurunkan kasus DBD sebesar 77%.

Lantas apa itu Wolbachia dan bagaimana cara kerjanya?

Dilansir dari Wikipedia, Wolbachia adalah salah satu genus bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda atau serangga. Infeksi Wolbachia pada hewan akan menyebabkan partenogenesis (perkembangan sel telur yang tidak dibuahi), kematian pada hewan jantan, dan feminisasi (perubahan serangga jantan menjadi betina).

Bakteri ini banyak terdapat di dalam jaringan dan organ reproduksi hewan serta pada jaringan somatik.

Dilansir dari situs resmi WMP Yogyakarta, www.eliminatedengue.com, Wolbachia diekstrak dari Drosophila Melanogester (lalat buah) yang diisolasi dan dimicroinjeksi ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti. Harapannya pada awal penelitian, Wolbachia akan mengurangi umur nyamuk dalam menyebarkan virus dengue.

Proses microinjection ini memakan waktu yang sangat lama hingga 10 tahun dan percobaan hingga ribuan kali. Setelah proses microinjeksi berhasil, alih-alih fokus pada pengurangan umur nyamuk, temuan yang lebih menarik adalah ternyata Wolbachia dapat menghambat replikasi virus dengue dalam nyamuk Aedes aegypti.

Baca Juga: Hore... Tim Riset Jogja Berhasil Turunkan Kasus DBD hingga 77% dengan Teknologi Wolbachia

Karenanya, saat nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia menggigit manusia yang terinfeksi virus dengue, nyamuk tersebut tidak dapat menularkan virus dengue pada manusia lainnya.

Keberhasilan program penelitian ini diketahui dari pemantauan yang dilakukan tim. Sejak 2016, WMP Yogyakarta mulai memantau dan mengambil data dari rumah sakit serta puskesmas di Kecamatan Tegalrejo, Wirobrajan, dan Kotagede untuk melihat perkembangan laporan kasus demam berdarah yang dialami warga.

Metode yang WMP lakukan adalah quasi experiment. Dari ketiga daerah itu, ada yang dijadikan sebagai daerah yang disebarkan nyamuk ber-Wolbachia dan ada daerah yang tidak disebarkan nyamuk ber-Wolbachia sebagai daerah pembanding. Tujuh kelurahan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan merupakan daerah yang sengaja dilepas nyamuk Wolbachia, sedangkan Kotagede tidak dilepas nyamuk ber-Wolbachia.

Hasil studi quasi memberikan angka yang membahagiakan. Hasilnya, penurunan kasus demam berdarah di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan sebesar 79%. Tentu ini merupakan angin segar bagi dunia akademik dan publik karena ditemukan cara yang mampu melengkapi pencegahan penyakit demam berdarah selain dari intervensi terhadap perilaku manusia.

Adi Utarini selaku Project Leader WMP Yogyakarta menyampaikan teknologi Wolbachia ini sudah terbukti dapat berkelanjutan dan efektif menekan angka DBD. Hal ini membuka pintu harapan baru untuk mencegah kasus DBD di Kota Jogja, di Indonesia, maupun dunia.

Baca Juga: Hasil Studi, Aerobik untuk Lansia Bermanfaat bagi Kesehatan Otak

"Kami berharap kepada pemerintah, hasil ini bisa melengkapi program pengendalian DBD sehingga dampaknya bisa dirasakan masyarakat dan meningkatkan derajat masyarakat Indonesia," lanjut Uut.

Sementara itu, Yayasan Tahija yang mendanai riset ini meyakini bahwa dengan keberhasilan periset di Jogja dalam menemukan cara permanen menekan angka DBD, cara untuk mengatasi masalah kesehatan lain bisa juga dilakukan.

"Menekan insiden penyakit sampai 77 persen sungguh istimewa. Kami berharap teknologi ini bisa dipakai secara luas. Banyak tantangan di bidang kesehatan, mulai kurang gizi, penyakit infeksi, sampai Covid-19. Apalbila masalah DBD bisa diatasi, maka pemerintah dan masyarakat akan lebih mampu untuk memusatkan perhatian terhadap masalah kesehatan lainnya," kata Sjakon G. Tahija selaku Ketua Pembina Yayasan Tahija.

Sumber : Wikipedia, eliminatedengue.com