Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Foto ilustrasi: Kondisi jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Candirejo, Kecamatan Semin dengan Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, tepatnya di Dusun Bangunsari, Desa Candirejo, Minggu (20/1/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Warga di sekitar jalan alternatif Sleman-Gunungkidul optimistis keberadaan jalur ini mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Adapun pembangun titik dari Tawang di Kalurahan Ngoro-oro sampai Ngalang ditargetkan selesai di 2024.
Pengelola Eko Wisata Nglanggeran di Kapanewon Patuk, Sugeng Handoko mengatakan, pembangunan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman masih berlangsung hingga sekarang. Meski belum selesai, ia optimistis jalan ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. “Kalau sudah jadi. Tentunya jalan akan lebih ramai,” katanya kepada wartawan, Jumat (21/5/2021).
Menurut dia, adanya jalur ini akan menguntungkan karena kendaraan akan melintasi sejumlah destinasi wisata di Kapanewon Patuk. Oleh karenanya, ada harapan pembangunan tersebut semakin mengenalkan obyek wisata, khususnya di Kalurahan Nglanggeran seperti Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran atau pun keberadan air terjun Kedung Kandang.
Baca juga: Kader PDIP: Eks Menkes Terawan Disingkirkan Mafia Vaksin Covid-19
“Saya juga berharap keberadaan jembatan yang dibangun juga dibuat menarik sehingga dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata yang sudah ada,” katanya.
Keyakinan akan ramainya jalur alternative Sleman-Gunungkidul juga disuarakan oleh Subardi, warga Nglanggeran. Meski berstatus bukan jalur utama, tapi keberadaan jalur akan memberikan peran yang vital. Pasalnya, jalan ini tidak hanya untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalur utama menuju Gunungkidul.
Namun demikian, sambung dia, jalur ini langsung terhubung dengan sejumlah destinasi wisata sehingga memberikan keuntungan bagi pengendara yang melintas. “Otomatis wisata yang dimiliki bisa lebih dikenal lagi,” katanya.
Baca juga: Tak Hanya Pemerintahan, Kantor Non-pemerintahan di Sleman Kumandangkan Indonesia Raya Setiap Hari
Subardi pun mengaku sudah memiliki rencana untuk membuat usaha pada saat jalan tersebut selesai dibangun. “Kami sekeluarga sudah berencana jualan. Mudah-mudahan ke depan ekonomi bisa semakin baik dengan adanya jalan baru,” katanya.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan, Bina Marga DPUP ESDM DIY, Andi Kurniawan Dharma mengatakan untuk pembangunan segmen satu dan lima membutuhkan anggaran sekitar Rp79 miliar. Adapun rinciannya, Rp44 miliar untuk menyelesaikan pembangunan jalan segmen satu sepanjang 1,9 kilometer. Sedangkan sisanya Rp35 miliar untuk membangun segmen lima sepanjang 1,3 kilometer.
“Di segmen lima ada dua jembatan yang dibangun,” katanya.
Andi menambahkan, pihaknya sudah merencanakan pembangunan tiga ruas lainnya. Hasil dari kajian, untuk menyelesaikan tiga ruas yang belum dikerjakan membutuhkan anggaran sekitar Rp275 miliar. “Tahun depan kami ajukan melalui dana keistimewaan. Kalau semuanya lancar, maka jalur alternatif Sleman-Gunungkidul di ruas Ngoro-oro-Gading saudah tersambung sepenuhnya di 2024,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Spanyol menang 4-1 atas Kroasia di UEFA Nations League 2026/2027. Lamine Yamal mencetak dua gol, disusul Marc Pubill dan Nico Williams
Prakiraan cuaca DIY Rabu, 30 September 2026: mayoritas berawan, Kota Jogja cerah, suhu 22–33°C. Cek rincian per kecamatan.
Sleman menyelesaikan transfer depo Pandowoharjo untuk mendukung PSEL Regional DIY. Depo Donokerto menunggu anggaran ABT.
Jadwal Samsat Bantul Oktober 2026 lengkap dengan lokasi, jam layanan, Samsat Keliling, Jempol Si Panda, SABITA hingga Samsat On Sunday.
Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Jogja dalam Temu Karya Taman Budaya Se-Indonesia XXV 2026.