Bongkar Kasus Nuthuk Harga, Wisatawan Dituding Tak Bijak

Ilustrasi. - Harian Jogja/Desi Suryanto
28 Mei 2021 22:27 WIB Yosef Leon Pinsker Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Unsur Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) turut berkomentar soal kejadian wisatawan yang protes soal tingginya harga pecel lele di kawasan Malioboro. BP2KY menyebut perlakuan warganet yang memviralkan kejadian itu tidak bijaksana.

Ketua Unsur Penentu BP2KY, Aldi Fadhlil Diyanto mengatakan, hendaknya masyarakat dan juga wisatawan bisa membedakan karakteristik wilayah serta kondisi sosial dan juga ekonominya. Dengan begitu tidak bakal ada kejadian salah tafsir hingga heboh di sosial media.

Dia mencontohkan bahwa, pada daerah wisata tentu harga di satu tempat dengan tempat lainnya berbeda baik itu makanan, atau pun yang lain. Sehingga, Aldi beranggapan bahwa kelakuan warganet yang langsung membawa kejadian itu ke sosial media adalah sifat kurang bijak.

"Menurut saya itu kurang bijaksana ya, karena misalkan kita pergi ke Bali lalu ke Denpasar dan Kuta otomatis ada perbedaan harga disitu. Jadi tiap daerah memang beda baik harga makan maupun yang lain sebagainya," kata dia dihubungi Jumat (28/5/2021).

Menurutnya perbedaan harga itu wajar belaka. Sebab setiap tempat wisata tentu menawarkan berbagai hal lain yang membuat kondisi di daerah itu menjadi berbeda. Dia berpendapat bahwa tempat wisata juga di satu sisi menjual suasana yang tidak terdapat di daerah lain. Sehingga menjadi wajar jika harga makanan tinggi.

BACA JUGA: Epidemiolog UGM Sarankan Aktivitas Warga Ngemplak Sleman Harus Dibatasi

"Itu wajar, karena di destinasi itu dia kan menjual suasananya dan bukan hanya makanan. Wisatawan itu jadinya menikmati suasana dan juga makanannya, misalnya dia menikmati suasana malam di Malioboro. Jadi tentu beda ya harganya misal pecel lele di kampus dan di Malioboro," ungkap Aldi.

Lebih lanjut, dia juga menyebut bahwa mayoritas pedagang di Malioboro sudah memajang daftar menu beserta harganya. Sehingga bisa menjadi acuan bagi wisatawan saat memesan makanan atau minuman. "Itu juga kan merupakan standar dari pemerintah supaya tidak simpang siur," katanya.

Namun demikian, dirinya tidak mau menyalahkan siapa pun atas kejadian itu. Hendaknya insiden tersebut menjadi pelajaran bagi insan pariwisata di Kota Jogja maupun masyarakat umum agar mengedukasi diri masing-masing. "Saya tidak menyalahkan siapa pun. Itu masing-masing punya anggapan sendiri. Kami juga mengimbau bahwa masyarakat bisa mengedukasi dirinya masing-masing baik itu di sosmed juga," kata Aldi.