Pemuda Jogja yang Tewas Dikeroyok di Pasar Gampingan Terkapar di Lokasi Selama Sejam

Ilustrasi mayat - Ist/Okezone
03 Juni 2021 12:17 WIB Yosef Leon Pinsker Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Peristiwa memprihatinkan dialami pemuda Jogja yang tewas dalam kejadian pengeroyokan di Pasar Gampingan, Wirobrajan pada Kamis (3/6/2021) dini hari. Pemuda ini tak segera mendapat perawatan medis lantaran baru dievakuasi setelah satu jam kejadian.

DW alias wajik, pemuda asal Jalan Bantul tewas mengenaskan setelah dikeroyok oleh puluhan orang di sekitar Pasar Gampingan, Pakuncen, Wirobrajan pada Kamis (3/6/2021) dini hari. Motif penganiayaan berujung korban jiwa itu diduga karena adu jago dan saling tantang di media sosial.

Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian yang enggan disebutkan identitasnya menjelaskan bahwa, insiden itu terjadi sekitar pukul 00.30 Wib Kamis (3/6/2021) dini hari. Saat itu, dia berpapasan dengan korban dan rombongan pelaku yang tengah kejar-kejaran dari jembatan di Jalan RE Martadinata menuju Pasar Gampingan.

"Para pelaku membawa semacam bambu, batu dan alat yang dibalut kain sambil kejar-kejaran," jelasnya saat ditemui di lokasi.

Setelah kejar-kejaran, korban tertangkap oleh rombongan pelaku di depan Secret Garden Coffe, lantas dikeroyok oleh puluhan orang hingga tak berdaya. "Saya yang melihat langsung berusaha melerai karena teman korban pada kabur semua. Saya langsung pisahkan dan suruh berhenti," ujarnya.

Dia melihat terduga pelaku penganiayaan itu berjumlah sekitar lebih dari 10 orang pemuda, dengan rata-rata usia 18 hingga 20 tahun. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak laki-laki, dia mencoba langsung melerai aksi penganiayaan itu. Namun, karena jumlah terduga pelaku yang begitu banyak, sehingga sulit menghentikan kekerasan itu.

BACA JUGA: Ini Lo...Alasan Pria Tidak Suka Chatting

Setelah ditinggalkan oleh rombongan pelaku korban sudah dalam kondisi kritis dan berbicara lemah sambil meminta pertolongan. Korban disebut mengalami luka pada bagian punggung dan kepala dengan kondisi tubuh berlumuran darah dan terbaring lemas.

"Saya langsung panik dan panggil suami trus suruh telepon ambulans, korban kondisinya masih hidup tapi sudah kritis," ungkapnya.

Sekira pukul 3.00 WIB polisi mendatangi lokasi dan korban tak lagi dapat tergolong akibat luka parah dan pendarahan. Setelah itu, mobil ambulans datang ke lokasi untuk mengevakuasi jenazah korban. "Waktu polisi datang korban sudah meninggal baru setelahnya datang mobil ambulans," kata dia.

Dia mengaku penanganan korban memang sangat terlambat. Korban dibiarkan terkapar di lokasi hingga satu jam lamanya. Saksi sendiri tidak dapat berbuat banyak karena ambulans tidak berani membawa korban jika pihak kepolisian belum datang ke lokasi kejadian.