Pemuda Harus Dilibatkan dalam Mitigasi Bencana

Pembinaan Pemuda Desa tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Sleman, di Puri Mataram, Sleman, Kamis (3/6/2021). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
03 Juni 2021 18:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Keterlibatan pemuda dalam penanganan bencana dinilai sangat penting. Kecepatan akses informasi yang mereka miliki dapat membantu menyampaikan mitigasi bencana kepada masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman Henry Dharma Wijaya mengatakan kemampuan pemuda untuk mengakses informasi kebencanaan dapat membantu mitigasi bencana di suatu wilayah. Mereka dapat menyampaikan potensi kebencanaan berikut penanganannya kepada warga sekitar.

"Misalnya, potensi bencana angin. Dengan kemampuan mengakses informasi, mereka [pemuda] bisa menyampaikan kepada masyarakat apa yang perlu diwaspadai," katanya pada kegiatan Pembinaan Pemuda Desa tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Sleman, Kamis (3/6/2021).

Informasi yang tepat dan akurat tentang potensi bencana yang disampaikan kalangan pemuda, lanjut Henry, diharapkan dapat menekan terjadinya risiko bencana. "Jadi seminimal mungkin resiko bencana bisa ditekan. Tentu informasi yang disampaikan bukan hoaksm tetapi resmi dari instansi terkait seperti Pusdalop BPBD ataupun BMKG," katanya.

Untuk pendalaman materi dan mengasah mitigasi kebencanaan, kalangan pemuda bisa bergabung dengan kelompok-kelompok yang selama ini konsen menangani bencana. "Di setiap desa kan ada Destana [Desa Tangguh Bencana]. Mereka bisa bergabung di sana. Bisa juga dengan Forum Pengurangan Resiko Bencana [FPRB] atau komunitas kebencanaan lainnya," kata Henry.

Dia menjelaskan, terdapat tiga hal yang perlu dipahami kalangan pemuda terkait penanggulangan bencana. Ketiganya dibagi dalam pra atau sebelum bencana, saat bencana dan sesudah bencana terjadi. Untuk sesi prabencana, banyak yang dapat dilalukan kalangan pemuda.

"Misalnya dengan melakukan mitigasi kebencanaan. Mereka bisa mengamati potensi-potensi bencana yang bisa terjadi di lingkungannya. Ini dilakukan untuk menurunkan resiko bencana melalui mitigasi bencana," ujar Henry.

Pada sesi ini, lanjut dia, pemuda juga bisa mengikuti atau menggelar simulasi penanggulangan bencana. Mereka juga dapat terlibat dan dilibatkan dalam berbagai rapat dan pelatihan. Mitigasi bencana yang dilakukan juga termasuk menyediakan jalur evakuasi. "Di sini penting membuat rencama kontijensi kebencanaan," katanya.

Jika prabencana sudah dikuasai, maka saat bencana datang para pemuda bisa terlibat dalam kegiatan evakuasi termasuk menyediakan dapur umum dan logistik kebencanaan. "Ancaman bencana memang tidak bisa dihindari. Namun saat bencana datang maka kerentanan bencana diturunkan sementara kapasitas dan kemampuan dinaikkan supaya resiko bencana bisa dikurangi," katanya.

Setelah bencana, tambah Henry, para pemuda bisa terlibat membuat pendataan kerusakan dan penanganannya. Data-data kerusakan dan korban bencana kemudian disampaikan kepada instansi terkait atau ke pemerintah desa.

"Data-data asesmen tersebut digunakam untuk penyaluran bantuan kepada korban bencana. Misalnya untuk KK miskin bantuan 80% dari nilai kerusakan. Kalau yang KK non miskin biasanya 50%," katanya.

Ketua III Pemuda Karangtaruna Minomartani Ngaglik, Haryanto, mengatakan sejak SMA jiwa sosialnya sudah tergerak untuk membantu korban bencana. Bahkan saat badai Cempaka 2017 melanda DIY, ia bersama pamuda lainnya mendirikan posko kebencanaan untuk membantu korban bencana.

"Soalnya ini berangkat dari hati. Sudah tertarik sejak SMA. Saya prihatin saja kalau ada bencana. Dengan membantu kan bisa meringankan para korban bencana," kata Hariyanto.