GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Perkuat Modal UMKM

Diskusi Panel yang diselenggarakan Harian Jogja bertajuk Gugur Gunung Percepatan Pemulihan Ekonomi Perekonomian DIY, Rabu (9/6 - 2021). - Harian Jogja - Sunartono.
10 Juni 2021 10:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Untuk mendongkrak perekonomian selama pandemi Covid-19, Pemkab Sleman menyiapkan berbagai strategi. Hal ini dilakukan untuk kembali menggairahkan ekonomi Sleman saat ini.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan Pemkab melakukan beberapa strategi untuk menggairahkan kembali perekonomian Sleman. Mulai dari pemberian pinjaman lunak, pembebasan pajak/retribusi dan berbagai pelatihan. Pemkab juga melakukan berbagai simulasi menuju adaptasi kebiasaan baru, terutama pada kawasan pariwisata dengan tetap menyesuaikan zonasi epidemiologi.

"Pembatasan jam operasional pada kegiatan ekonomi merubah sistem belanja off line menjadi on line sebagai alternatif transaksi. Ini upaya-upaya yang kami lakukan," kata Danang pada Diskusi Panel Para Pemimpin Daerah: Gugur Gunung Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi DIY, Rabu (9/6).

Dukungan anggaran untuk penanganan dampak ekonomi, kata Danang, sampai saat ini terealisasi Rp54,775 miliar dimana sebesar Rp48,785 miliar disalurkan melalui penguatan modal masyarakat. Ada juga penyaluran hibah sebesar Rp151 miliar, dan hibah khusus dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kepada pelaku sektor pariwisata untuk hotel dan restoran sebesar Rp27 miliar, dan untuk kelompok masyarakat pengelola destinasi wisata sebesar Rp17,417 miliar.

Pandemi Covid-19, lanjut Danang memiliki dampak besar pada sektor pariwisata di Sleman. Padahal sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki multiplier effect bagi sektor lainnya. Kegiatan sektor pariwisata pun menjadi tumpuan bagi pertumbuhan sektor lainnya seperti UMKM dan lapangan kerja.

Oleh karena itu, kata Danang, industri pariwisata di Sleman merupakan industri yang dikembangkan dan diandalkan sebagai salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Pemkab pun mengeluarkan Perbup No.12/2020 tentang pengurangan Pajak Hotel dan Restoran.

"Perbup ini diharapkan dapat membantu para pengusaha hotel dan restoran ditengah pandemi Covid-19 ini yang omsetnya selama pandemi ini mengalami penurunan. Dengan Perbup ini diharapkan para pelaku usaha jasa sektor pariwisata terutama hotel dan restoran dapat terus menjalankan operasional usahanya, dan tidak melalukan pengurangan pegawainya," katanya.

Jika pelaku usaha di sektor ini melakukan PHK, katanya, maka imbasnya justru menambahnya jumlah pengangguran yang dinilai akan semakin memperburuk krisis ekonomi akibat pandemi.

Menurut Danang, untuk mengoptimalkan pemberdayaan UMKM untuk meningkatkan ekonomi daerah pada era adaptasi kehidupan baru Pemkab melakukan berbagai upaya, seperti pemaketan program dan kegiatan, pelatihan, pendampingan, pemasaran dan penguatan modal yang terintegrasi.

"Pelatihan bagi UMKM ini dibuat lebih terintegrasi diharapkan UMKM yang dilatih dapat memperoleh manfaat dari pelatihan ini secara tuntas. Sebagai usaha dalam penguatan kelembagaan UMKM, kami mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mendorong UMKM agar memiliki daya saing di masa kini dan yang akan datang," katanya.

Pemkab juga memberikan bantuan peralatan bagi para pelaku UMKM agar dalam menghasilkan produk yang lebih efisien dan volumenya dapat ditingkatkan. Ini dilakukan agar biaya produksinya dapat ditekan dan harga yang ditawarkan kepada konsumen lebih kompetitif. "Kami juga berusaha untuk menyerap produk-produk yang dihasilkan UMKM. Salah satunya dengan program Borong Bareng bagi para ASN dan juga masyarakat untuk membeli produk-produk lokal Sleman," katanya.

Danang mengatakan, penguatan modal juga dilakukan oleh Pemkab kepada UMKM dengan cara melakukan penundaan angsuran dan penurunan kontribusi dari 6% menjadi 3% per tahun. Termasuk juga penambahan anggaran penguatan modal. "Kami mendorong kemitraan dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya untuk membantu permodalan usaha," katanya.

Diakuinya, Sleman menjadi salah satu wilayah di DIY yang angka Covid-19 nya termasuk tinggi. Pemkab pun merespon kondisi tersebut dengan berbagai upaya. Di bidang kesehatan misalnya, pelayanan tracing dan testing hingga treatment Covid-19. Pemkab juga menyediakan fasilitas kesehatan bagi warga yang berstatus asimtomatik di fasilitas pelayanan kesehatan asrama haji dan rusunawa gemawang.

"Pemkab juga menyediakan Posko Dekontaminasi Covid-19, pemulasaraan jenazah, dan kremasi. Dukungan anggaran untuk penanganan Covid-19 bidang kesehatan sejumlah Rp59,357 miliar," katanya.

Di bidang sosial kemasyarakatan, lanjut Danang, kegiatan ini di dominasi bantuan sosial melalui Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang terbagi atas JPS Reguler dan JPS Penanganan Covid-19. Dukungan anggaran untuk bantuan sosial terealisasi sebesar Rp53,395 miliar dan bansos khusus untuk terdampak Covid-19 sebesar Rp32 miliar.

"Bansos juga disalurkan melalui Dana Desa yaitu Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD). Sasaran penerima adalah keluarga miskin yang belum terdapat dalam data base penerima bantuan PKH, BPNT, BST, Bantuan sejenis lainnya sejumlah Rp29,29 miliar," katanya.

Disinggung soal investasi yang sangat dibutuhkan untuk mendongkrak ekonomi Sleman, Danang menyebut sektor pariwisata, sektor industri, sektor perdagangan dan jasa dan sektor pertanian.

Pada 2020 lalu, katanya, pertumbuhan nilai investasi di Sleman sebesar 6,17%. Nilai penanaman modal pada 2020 lebih dari Rp537,4 Miliar. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan nilai penanaman modal pada 2019 yang mencapai Rp988,6 Miliar, katanya, maka terdapat penurunan sebesar kurang lebih Rp451,1 Miliar atau sebesar 45,63%.

"Hal ini dikarenakan adanya dampak Covid-19 sehingga mempengaruhi pertumbuhan nilai investasi di Sleman. Untuk memudahkan jalannya investasi maka salah satu penunjang urusan penanaman modal adalah memaksimalkan Mal Pelayanan Publik," katanya.