Beri Motivasi Perajin, Istri Paku Alam X Ungkap Batik Karyanya Terjual Minimal Rp20 Juta

KGBRAy Paku Alam X mempraktikkan pembuatan batik tulis dalam pelatihan batik, Senin (14/6/2021). - Harian Jogja/Sunartono
15 Juni 2021 15:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Istri Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu (KGBRAy) Paku Alam X mengungkapkan batik tulis karyanya laku terjual minimal Rp20 juta setiap satu potong kain. Hal itu disampaikan untuk memotivasi para pembatik di kalangan ibu-ibu dalam Pelatihan Batik Tulis dan Teknologi Pewarnaan Alam yang digelar Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Senin (14/6/2021).

KGBRAy Paku Alam X mengatakan, ia memiliki alasan tersendiri menjual batik dengan harga cukup tinggi. Antara lain tidak ingin mengalahkan segmen pasar para perajin batik pada umumnya. Selain itu, proses membatiknya pun secara manual dan lebih detail.

"Saat ini batik saya jual minimal Rp20 juta, kenapa saya menjual tinggi? Karena saya enggak mau melawan pembatik Jogja, saya up [harga] tinggi dan laku. Tetapi batik saya harga tinggi karena saya membatiknya detail," ungkap Gusti Putri.

Ia menambahkan pembuatan batik tulis yang dilakukan butuh proses yang lama, bahkan dalam sebulan hanya 10 kali membatik. Tetapi setiap menjalani proses membatik dilakukan secara berulang. Sehingga kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan, maka tak heran batik karyanya bisa laku tak hanya domestik namun juga segmen peminat di luar negeri.

Selain itu menariknya, Gusti Putri menggunakan sejumlah filosofi dalam membuat motif, sehingga batik tersebut sangat bermakna. "Saya punya filosofi, saya ambil gambar batik saya itu dari iluminasi yang ada di naskah-naskah kuno Kadipaten Pakualaman," ujarnya.

Baca juga: Pokja Genetik UGM: Corona dari India Bikin Imun Tubuh Berkurang Meski Sudah Divaksin

"Karena batik saya bagus, di angka Rp20 juta paling sedikit, saya bisa sampai Rp50 juta, ada setifikat, termasuk filosofinya karena peminat batik luar negeri, mereka juga melihat filosofi," katanya lagi.

Pewarnaan Alam

Dosen UAD Zahrul Mufrodi yang mendampingi para perajin batik mengatakan saat ini timnya sedang mengembangkan proses mordanting menggunakan kitosan. Kitosan berasal dari kulit udang, sehingga ramah lingkungan. Penambahan kitosan akan meningkatkan warna terserap pada kain, sehingga warna yang dihasilkan menjadi lebih gelap. Penggunaan kitosan meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam kain sehingga diharapkan proses pewarnaan menjadi lebih cepat dan tidak memerlukan pencelupan berkali-kali.

Adapun pelatihan yang diberikan timnya bertujuan agar para perajin batik paham proses yang terjadi pada pewarnaan kain.
Bahwa untuk mendapatkan warna pada kain proses yang dilalui tidak hanya mencelupkan kain ke dalam pewarna. Sumber zat warna alami yang bisa digunakan antara lain mahoni, jalawe, teger, jambal dan tingi yang memberikan warna kecoklatan atau sogan, serta kayu secang yang memberikan warna merah muda.

"Ada proses awal dengan menambahkan bahan mordan yang berfungsi untuk menjembatani kain dengan pewarna alami, umumnya mordan yang digunakan adalah mordan logam seperti tawas, tunjung, dan kapur. Setelah proses pramordanting, kain baru dicelupkan ke dalam pewarna, proses ini harus dilakukan beberapa kali agar medapatkan warna yang diinginkan," katanya.