Bioskop Sonobudoyo Kembali Buka

Museum Sonobudoyo Jogja/Ist
18 Juni 2021 20:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pengelola Museum Sonobudoyo Jogja kembali membuka bioskop yang sempat tutup selama pandemi Covid-19. Pembukaan bioskop sejak 25 Mei lalu ini dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sementara pemutaranya dilakukan selama empat kali dalam sehari dan film tersebut dapat ditonton secara gratis oleh masyarakat umum.

Tempat duduk yang tadinya berkapasitas 40 orang hanya bisa diisi 20 orang. Para petugas juga mengenakan masker dan faceshield. Para pengunjung juga dipastikan harus menggunakan masker dan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan.

Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahly mengatakan bioskop Sonobudoyo diresmikan sejak Juli 2019, namun pada 2020 sempat tutup karena adanya pandemi Covid-19. “Mulai 25 Mei kemarin kita mulai membuka kembali dengan penerapan protokol kesehatan,” kata Setyawan, saat ditemui di Museum Sonobudoyo, Jumat (18/6/2021).

Pemutaran film dilakukan selama empat sesi dalam sehari, yakni pukul 16.00 WIB, pukul 17.00 WIB, pukul 19.00 WIB, dan pukul 20.00 WIB. Semua film yang ditayangkan dapat dintonton secara gratis. Adapun durasi penayangan film adalah film-film pendek karena sasarannya anak-anak muda yang nongkrong di sekitar Titik Nol Kilometer Jogja.

Dia mengaku awalnya film yang ditayangkan durasinya sekitar dua jam, namun ternyata tidak diminati oleh masyarakat, karena masyarakat yang datang ke bioskop tidak khusus untuk menonton melainkan sekalian mampir setelah nongkrong di Malioboro dan Titik Nol Kilometer.

“Karena film-film berdurasi tidak lama, kita tayangkan film-film pendek dengan durasi 10 menit sampai 30 menitan,” ujar Setyawan. Sebab, dia mengatakan sejak awal keberadaan Bioskop tersebut memang untuk mengurai kepadatan di Titik Nol Kilometer yang setiap malam selalu ramai. Daripada hanya nongkrong pihaknya menyediakan bioskop yang bisa diakses gratis.

Posisi Bioskop juga sangat dekat dekat dengan Titik Nol Kilometer, tepatnya di Jalan Pangurakan yang jaraknya hanya beberapa meter dari Titik Nol Kilometer. Selain itu, kata Setyawan, dengan penayangan film-film pendek pihaknya ingin menyampiakan pesan tentang kondisi budaya masyarakat Jogja, dan mengenalkan koleksi Museum Sonobudoyo.

Film-film yang ditayangkan adalah film Dinas Kebudayaan atau film budaya milik Dinas Kebudayaan. “Misalnya tentang Kersanan Dalem, film tentang budaya Jogja, dan film koleksi lama milik Sonobudoyo yang tahun 1930an seperti film proses berdirinya Museum Sonobudoyo. Ada juga film tentang Bali, Madura, upacara Ngaben, tarian kecak dan karapan sapi,” papar Setyawan.

“Harapan dengan ada bioskop beri pemahaman beri pembelajaran tentang budaya Jawa kepada masyarakat khusus yang nongkrong di Titik Nol Kilometer,” sambung Setyawan.

Kepala Seksi Bimbingan, Informasi, dan Preparasi Museum Sonobudoyo, Budi Husada menambahkan pihaknya ingin menubah pemahaman bawa museum selalu berisi tentang barang kuno. Karena itu di Sonobudoyo selain sebagai koleksi sekitar 65.000an, juga menyediakan bioskop, kafe, dan sentra kuliner. “Jadi masuk museum itu benar-benar seperti masuk ke mal ada tempat belanja ada tempat makan dan ada bioskopnya. Kita ada koleksinya, ada kafenya dan ada bioskopnya,” kata Budi. (ADV)