BMKG Catat 1.869 Wilayah Alami Kekeringan Ekstrem hingga September
BMKG mencatat 1.869 wilayah mengalami kekeringan ekstrem hingga September 2026. Simak daftar daerah berstatus awas dan prediksi musim hujan.
Ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN--Kematian akibat Covid-19 di Sleman belakangan banyak menimpa warga yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Ada proses kematian yang berlangsung cepat dibanding kejadian-kejadian sebelumnya.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyebutkan, ada sejumlah kematian terjadi kepada pasien positif COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri (isoman).
Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan, kematian isolasi mandiri pasien COVID-19 dimungkinan karena beberapa faktor. Terkait dengan itu, Pemkab menilai perlu ada penguatan edukasi ke tengah masyarakat mengenai epidemiologis dan klinis COVID-19 varian terbaru.
BACA JUGA: Covid-19 Meroket, Bupati Sleman Aktifkan 96 Selter Tambahan untuk Isolasi
Secara epidemiologis, sejak munculnya COVID-19 varian baru, bila ada sejumlah orang antre, kumpul-kumpul sebentar tapi melepas masker, maka mereka bisa tertular COVID-19.
"Sementara secara klinis, lompatan kondisi pasien dari OTG ke gejala berat lalu kritis, atau isoman lalu meninggal dunia itu bisa terjadi. Kalau sekarang bisa karena menunggu RS yang sedang penuh. Tapi ada juga yang ogah dibawa ke RS, karena mengira hanya flu biasa," tutur Joko, dalam jumpa pers daring, Rabu (30/6/2021).
Dalam kasus pasien COVID-19 varian lama, gejala ringan menuju ke gejala berat akan terjadi secara bertahap. Sementara pada pasien COVID-19 gejala terbaru, dari tanpa gejala tahu-tahu gejala berat itu banyak terjadi.
"Itu agak berisiko bila penanganan COVID-19 yang terlambat," ungkapnya.
Berkaca pada kondisi itu, masyarakat perlu mengetahui bahwa isolasi mandiri diperuntukkan bagi pasien COVID-19 bergejala ringan. Sedangkan perawatan di RS diperlukan bagi pasien berat dan kritis. Yaitu, kalau mengalami saturasi oksigen turun menjadi 90-95 untuk kategori berat. Saturasi di bawah 90 untuk kategori kritis.
"Hanya saja, kondisi tersebut tetap harus diukur dengan alat," kata Joko.
Selain itu, perlu juga diketahui kondisi pernapasan pasien, terlebih pasien yang nafasnya tersengal. Cara termudah mengeceknya, dengan mendekatkan jari ke lubang hidung, lalu menghitung tarikan serta hembusan nafas.
"Kalau normal itu 22 kali per menit, 22-30 kali itu [gejala] sedang. Kalau dalam satu menit lebih dari 30 sudah termasuk berat. Lebih dari 40 itu sudah kritis. Bila nafas sampai dibantu nafas dari mulut, itu sudah gejala sedang-berat," kata dia.
Dinkes Sleman mencatat, kasus kematian akibat COVID-19 di Sleman melonjak pada Juni 2021. Terhitung hingga 29 Juni 2021 petang, ada 145 kematian pasien terkonfirmasi COVID-19. Jauh lebih tinggi ketimbang kematian pada Januari 2021 sebanyak 87 kasus, Februari 2021 sebanyak 90 kasus dan Mei 2021 sebanyak 92 kasus.
"Kemungkinan hari ini bertambah," kata Joko. Untuk jumlah kasus COVID-19 di Sleman, terakumulasi sebanyak total 6.254 kasus, tercatat sampai 29 Juni 2021.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
BMKG mencatat 1.869 wilayah mengalami kekeringan ekstrem hingga September 2026. Simak daftar daerah berstatus awas dan prediksi musim hujan.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jam keberangkatan dari Jogja dan Kutoarjo.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 16 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
Ahli waris pekerja padat karya di Sleman menerima santunan JKM Rp74 juta. Capaian UCJ Sleman hingga Oktober 2026 mencapai 36,48%.
Rachel/Febi kalah 16-21, 17-21 dari Treesa/Gayatri pada 16 besar Denmark Open 2026. Indonesia pun kehilangan seluruh wakil di ganda putri.