Teknik Kimia UPN Kembangkan Biosurfaktan

Laboratorium Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tengah mengembangkan biosurfaktan untuk dapat diproduksi skala pilot dan skala industri. - Istimewa
06 Juli 2021 18:17 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Laboratorium Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tengah mengembangkan biosurfaktan untuk dapat diproduksi skala pilot dan skala industri. Produk yang telah dihasilkan adalah Dialkil Kabohidrat dan telah dipatenkan dengan nomor IDP 000066485.

Ketua Tim Pengabdisn bagi Masyarakat (PbM)  Ir. Mahreni, MT. Ph. D mengungkapkan, biosurfaktan ini diproduksi dengan menggunakan bahan baku makro alga atau rumput laut yang banyak dihasilkan di sepanjang pantai di Indonesia. Hanya saja  saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Dia menjelaskan dengan memanfaatkan sebagai bahan baku surfaktan, maka nilai  ekonom imakroalga (rumput laut) akan semakin tinggi dan berdampak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah pantai atau petani rumput laut.

"Rumput laut mempunyai kandungan karbohidrat berupa agarose atau alginat yang dapat dijadikan sebagai bahan baku surfaktan melalui reaksi alkoholisis dan esterifikasi membentuk senyawa yang memiliki gugus hidrofil dan lipofil sehingga bias digunakan sebagai surfaktan," jelas dia.

Adapun biosurfaktan yang diproduksi oleh salah satu peneliti Prodi Teknik Kimia kini sedang dalam tahap hilirisasi untuk diaplikasikan sebagai bahan pembasah atau wetting agent pigmen dan sebagai penstabil emulsi cat dan tinta. Industri yang telah memanfaatkan Biosurfaktan Dialkil Karbohidrat ini adalah CV. Tryuasda Megah Warna telah berhasil menggunakan Biosurfaktan Dialkil Karbohidrat sebagai wetting agent atau bahan pembasah pigmen untuk memproduksi tinta sablon kantong semen.

Lebih lanjut Mahreni mengungkapkan, produk  Dialkil Karbohidrat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat UPN Veteran Yogyakarta kini sedang dikembangkan sebagai emulsifier tinta sablon kaos  atau kain.

Menurutnya, beberapa kelebihan menggunakan biosurfaktan Dialkil Karbohidra seperti yang dinyatakan oleh CV. Tryausda Megah Warna adalah lebih efesien sebagai wetting agent dan stabilator emulsi.  Hasil uji coba tinta yang menggunakan wetting agent komersial dan surfaktan Dialkil Karbohidrat menunjukan bahwa surfaktan Dialkil Karbohidrat mempunyai kualitas yang sama dengan surfaktan komersial.

"Kami mengucapkan terimakasih kepada LPPM UPN Veteran Yogyakarta yang telah mendanai Pengabdian HiIirisasi Produk hasil penelitian dosen yang sangat bermanfaat untuk komersialisasi produk produk hasil penelitian sehingga produk hasil penelitian tidak berhenti pada skala laboratorium tetapi dapat menjadi produk inovasi yang dimanfaatkan oleh industri," ungkapnya.

Surfaktan dan Biosurfaktan

Lebih lanjut Mahreni memberikan penjelasan terkait surfaktan dan biosurfaktan. Surfaktan adalah suatu senyawa kimia yang bersifat ampipilik dimana sifat hidropilik dan hidropobik  ada dalam satu moleku lsurfaktan. Surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan suatu fase sehingga dapat mengemulsikan dua fase yang tidak saling bercampur menjadi emulsi sehingga surfaktan dibutuhkan oleh industry kosmetik, makanan, tekstil, industry minyak bumi dan farmasi.

"Permasalahan yang ditimbulkan oleh penggunaan surfaktan adalah pencemaran lingkungan, terutama oleh surfaktan berbahan dasar petroleum yang bersifat nonbiodegradable. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan surfaktan yang bersifat biodegradable," jelas dia.

Dengan meningkatnya kesadaran penduduk dunia terhadap efek pencemaran yang disebabkan oleh surfaktan nonbiodegradable, maka beberapa negara dan makin banyak negara yang akan menyusul telah menetapkan regulasi untuk membatasi penggunaan surfaktan nonbiodegradable. Oleh karena itu sangat penting untuk memproduksi surfaktan biodegradable, non toksik dan menggunakan bahan baku yang dapat diperbaharui.

Beberapa peluang untuk memproduksi biosurfaktan skala industry adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah  seperti selulosa, protein, karbohidrat, lignin yang semuanya bias didapatkan dari hasil metabolism mikroorganisme dan dari tanaman baik tanaman darat maupun tanaman laut seperti rumputlaut. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di Indonesia maupun di dunia, dimungkinkan surfaktan kimia dapat digantikan dengan biosurfaktan di masa yang akan datang. (ADV)