Belum Sebulan, Lebih dari 400 Jenazah Warga Sleman Dimakamkan dengan Prokes Covid-19

Prosesi pemakaman jenazah Covid-19 yang dilakukan tim pemakaman Satgas Covid-19 Sleman belum lama ini. - Ist/dok PMI Sleman
11 Juli 2021 20:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Proses pemakaman jenazah sesuai protokol kesehatan (prokes) di Sleman terus mengalami lonjakan. Selama 10 hari (1-10 Juli) Tim Dekontaminasi, Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman sudah memakamkan lebih dari 351 jenazah.

Jumlah tersebut belum termasuk data pemakaman jenazah yang dilakukan Tim Dekontaminasi pada Minggu (11/7/2021). "Sampai Minggu petang, sudah ada 48 pemakaman yang dilakukan. Dari jumlah tersebut sebanyak 14 jenazah (pasien isoman) meninggal di rumah. Sudah tujuh orang yang dimakamkan," kata Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto, Minggu (11/7/2021).

Dari tambahan kasus pemakaman pada 11 Juli, katanya, maka selama 11 hari sejak 1 hingga 11 Juli, jumlah jenazah yang dimakamkan sesuai protokol kesehatan mencapai 400 jenazah. Akibat melonjaknya kasus kematian pasien Covid-19, satu regu bisa menangani lebih dari lima kali pemakaman dalam waktu sehari.

Menurut Lilik, banyak pasien yang meninggal di rumah lantaran kondisi rumah sakit penuh. Mereka yang meninggal di rumah kemudian dikuburkan sesuai protokol pemakaman Covid-19. "Di Posko terdapat tujuh regu yang disiapkan. Kami juga dibantu tim-tim pemakaman di tingkat kalurahan yang sudah memiliki tim pemakaman sendiri," ujar Lilik.

BACA JUGA: Produksi Oksigen Samator Terhenti karena Listrik Padam, Ganjar Langsung Turun Tangan

Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan menjelaskan dari 400an jenazah yang dimakamkan sesuai protokol kesehatan 25% meninggal saat menjalani isolasi mandiri. Ketika meninggal di rumah, maka tim membantu melakukan pemulasaraan jenazah.

Saat ini tercatat kurang lebih ada 100 relawan yang membantu dalam layanan pemakaman maupun pemulasaraan. Hingga 10 Juli dari 357 jenazah sebanyak 88 jenazah pemulasaraan dilakukan di rumah warga saat menjalani isolasi mandiri.

Dijelaskan Makwan, kematian pasien saat melakukan isolasi mandiri di Sleman masih tinggi. Kondisi tersebut tidak lepas dari penuhnya keterisian bed di rumah-rumah sakit rujukan. "Pada Sabtu (10/7) misalnya, dari 51 kali pemakaman tim juga menerima permintaan pemulasaraan jenazah sebanyak 17 kali. Semoga ke depan semakin melandai," katanya.

Makwan pun menyebut, saat ini muncul fenomena baru di mana pasien meninggal dunia saat masih berada di dalam kendaraan. Pasien yang meninggal dunia ini awalnya melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena kondisi kesehatannya menurun, keluarga berinifiatif untuk membawa pasien ke rumah sakit.

Di sisi lain, tingkat keterisian pasien di rumah sakit masih tinggi sehingga pasien pun tidak bisa mendapat ruang perawatan kemudian kembali ke rumah. "Setelah muter-muter cari rumah sakit penuh, akhirnya di bawa pulang lagi. Belum sampai masuk rumah, keburu meninggal dunia," kata Makwan.

Pihaknya menerima laporan setidaknya dua kasus pasien yang meninggal dalam kendaraan pada Jumat (9/7/2021). Satu kasus terjadi di Klelen, Trimulyo, Sleman dan kasus lainnya di Perumahan Sleman Permai, Tridadi. Sebelumnya, kasus yang sama juga dilaporkan terjadi di wilayah Bluyah, Sinduadi. Kronologinya pun tidak jauh berbeda di mana pasien oleh keluarga dibawa keliling ke beberapa rumah sakit dalam kondisi sudah kritis.

"Sebelum kejadian di Bluyah, kami juga mendapat laporan pasien yang meninggal di Puskesmas Depok 2 saat mengantri masuk," ujarnya.

Dia berharap, pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah untuk memperhatikan betul kondisi dan perkembangan kesehatannya. Jika memang kondisinya semakin tidak baik (memburuk) agar segera ke rumah sakit. "Mereka yang bergejala berat sebaikanya ditangani (dirawat) pihak rumah sakit. Ada nakes yang mengawasi pasien yang isolasi di rumah. Jangan sampai sudah kritis baru ke rumah sakit. Jangan sampai penanganan terlambat," ujar Makwan.