Wisata Ditutup, Pedagang Seafood Pantai Depok Kini Layani COD

Suasana Pasar Ikan Depok, Kretek yanh sepi selama PPKM Darurat pada Minggu (11/7/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
12 Juli 2021 06:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Penjaja kuliner ikan laut Pantai Depok menyiasati PPKM Darurat lewat layanan Cash On Delivery (COD). Ditutupnya seluruh obyek wisata termasuk Pantai Depok, membuat pelaku usaha wisata pilih antarkan seafood langsung ke konsumen.

Salah satu pemilik warung seafood Pantai Depok, Dardi Nugroho sudah implementasikan sistem COD sejak PPKM Darurat berlangsung. Hal itu agar usaha kedai seafood miliknya bisa terus bertahan di tengah PPKM Darurat. "COD-an saya, kemarin sampai Mandala Krida. Beli matang atau pun mentah bisa yang penting ada ongkirnya. Penambahan ongkir terserah mau dikasih berapa," ujarnya pada Minggu (11/7/2021).

"Harga paket ikan bakar komplit saat ini Rp22.000 per orang. Nanti kalau suruh COD monggo terserah mau ngasih berapa, yang penting buat beli bensin lah. Tidak mematok harga. Tapi paket Rp22.000 per orang tidak bisa ditawar," imbuhnya.

Baca juga: Langgar PPKM Darurat, Resepsi Pernikahan di Borobudur Dibatalkan Satgas Covid-19

Tidak adanya ojek online di sekitar Pantai Depok membuat Dardi nemilih mengantarkan sendiri olahan seafoodnya ke para pembeli. "Enggak ada yang stanby. Sini paling baru ada di Ngangkruk baru. Akhirnya saya sendiri yang nganter, istri yang masak, saya yang nganter," tuturnya.

Meski siap mengantar pesanan sampai puluhan kilometer dari Pantai Depok, nyatanya tak setiap hari pesanan seafood ada di kedai milik Dardi. "Enggak mesti ada setiap hari, ini aja belum ada yang nyantel sekarang. Tapi seminggu dua kali [pesanan] mesti ada, ordernya biasanya lebih dari satu paket," tandasnya.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Pasar Ikan Depok. Salah satu pedagang Pasar Ikan Depok, Nunik juga pilih jemput bola ke konsumen selama PPKM Darurat. Dari 30 pedagang Pasar Ikan Depok, hanya empat pedagang saja yang masih buka, termasuk dirinya. "Yang jual tinggal berempat dari 30 pedagang. Melayani pesanan tenaga yang ke sawah, sama buat lauk," ujarnya.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 DIY Rekor Lagi, 50 Orang Meninggal dalam 24 Jam

"Masak pesanan buat tenaga orang yang di sawah, kan kadang yang punya sawah enggak bisa ngirim makan. Terus memasak pesanan buat orang yang kena Covid-19 [isolman]. Tapi enggak setiap hari ada," tambahnya.

"Halah lima kilogram mawon sudah bejo sehari. Kadang satu sampai dua kilogram saja, itu pun kadang satu kilogram saja enggak ada. Padahal kalau tidak PPKM Darurat, minggu kaya gini bisa satu kuintal lebih. Hari ini belum ada, baru masak 1,5 kilogram saja," imbuhnya.

Keputusan Nunik untuk tetap buka karena lapaknya menjadi tumpuan nafkah pekerjanya. "Tenagane mesakke, ya tetap saya suruh berangkat, usaha ini dijagakke buat beli sayur dan lauk pekerja saya," ungkapnya.

Sama seperti Dardi, Nunik juga menyiasati PPKM Darurat dengan menjual olahan seafood matang dengan sistem COD. "Melayani COD tidak jauh-jauh dari Ringroad. Kalau lewat Ringroad enggak bisa lewat. Kemarin nganter sampai Ringroad Imogiri ditutup saya suruh ketemu disitu saja akhirnya. Tidak pakai ongkir, sampun payu wae bejo ndadak tambah untuk ongkir, nanti malah enggak laku lagi," tandasnya.