Covid-19 di DIY Hari Ini Meledak, Sehari 2.731 Orang Terkonfirmasi Positif

Ilustrasi. - Freepik
13 Juli 2021 17:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat belum berdampak pada penurunan kasus Covid-19. Terbukti pada hari ke-10 PPKM Darurat, kasus Covid-19 di Bumi Mataram justru melonjak drastis hingga mencapai 2.731 kasus dalam sehari, per 13 Juli 2021.

Jumlah ini merupakan rekor tertinggi sejak pandemi melanda DIY pada Maret tahun lalu. Penambahan kasus positif Covid-19 ini terbanyak dari Bantul 899 kasus, kemudian disusul Jogja 666 kasus, Sleman 507 kasus, Gunungkidul 461 kasus, dan Kulonprogo 198 kasus. Penambahan kasus positif ini berdasarkan pemeriksaan sampel harian sebanyak 10.087 sampel dari orang yang diperiksa sebanyak 10.065 orang.

Sementara total sampel yang diperiksa sebanyak 424.524 dan total orang diperiksa sebanyak 397.898. Kepala Bagian Humas, Biro Umum, Hubungan Masyarakat dan Protokol (UHP) DIY, Ditya Nanaryo Aji mengatakan berdasarkan riwayat, penambahan kasus positif berdasarkan tracing kontak kasus positif sebanyak 2.486 kasus.

“Kemudian riwayat periksa mandiri 223 kasus, screening karyawan kesehatan lima kasus, dan belum ada info atau belum diketahui riwayatnya sebanyak 17 kasus,” kata Ditya, Selasa (13/7/2021).

Pada hari yang sama juga terjadi penambahan kasus meninggal dunia sebanyak 39 kasus, sehingga total kasus meninggal menjadi 2.065 kasus. Penambahan kasus meninggal dunia karena Covid-19 terbanyak dari Sleman 14 kasus, kemudian Bantul 10 kasus, Jogja tujuh kasus, Gunungkidul lima kasus, dan Kulonprogo tiga kasus.

Sementara penambahan kasus sembuh sebanyak 843 kasus, sehingga total sembuh menjadi 57.273 kasus. Penambahan kasus sembuh dari Jogja 261 kasus, Bantul 269 kasus, Kulonprogo 38 kasus, Gunungkidul 170 kasus, dan Sleman 105 kasus.

BACA JUGA: Begini Cara Memakai Oximeter dan Membacanya

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 DIY, Berty Murtiningsih mengatakan melonjaknya kasus terkonfirmasi positif karena memang testing dan tracing lebih banyak dilakukan oleh setiap puskesmas. Sementara klaster terbanyak justeru dari klaster dalam keluarga.

Namun tracing belum sampai di angka 15 per kasus sesuai anjuran dari Kementerian Kesehatan. “Misal satu keluarga, ada yang pos, menulari anggota keluarga lain. Sementara semua tidak pernah keluar rumah, hanya kasus pertama tadi yang keluar rumah. Maka juga kontak eratnya sedikit, meski sudah kita upayakan dapat banyak,” ujar Berty.

Terlepas dari itu, pihaknya mengapresiasi tim medis di puskesmas untuk melakukan testing dan tracing yang optimal di tengah target vaksinasi Covid-19 yang juga dilakukan oleh puskesmas.