DIY Tambah Kapasitas Tes PCR

Petugas laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta tengah membongkar, memeriksa dan mendata sampel swab Covid-19 yang dikirim oleh berbagai rumah sakit di DIY-Jateng, Senin (13/4/2020), di laboratorium BBTKLPP di Jalan Imogiri Timur, Banguntapan, Bantul.-Harian Jogja - Bhekti Suryani.
29 Juli 2021 21:07 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemda DIY memastikan sudah ada penambahan kapasitas tes polymerase chain reaction atau PCR dari yang tadinya hanya mampu menguji dari 4.048 spesimen per hari menjadi 6.458 spesimen. Hal tersebut untuk mengurangi antrean jumlah spesimen usap hidung atau tenggorokan yang dikirim ke laboratorium.

Kapasitas uji spesimen tersebut tersebar di 19 laboratorium milik pemerintah maupun swasta, “Beberapa hari lalu ada penambahan kapasitas uji sampel dari 19 lab pemerintah dan swasta. Kapsitasnya bertambah selain ada penambahan alatnya. Kapsitasnya dari 4.048 per hari menjadi 6.458 spesimen per hari,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Kamis (29/7/2021).

Penambahan alat dan kapasitas tes spesimen tersebut karena selama ini terjadi antrean. Spesimen yang masuk dalam sehari bisa sampai 8.000-10.000, sementara kapasitas hanya 4.000-6.000, sehingga spesimen yang masuk hari tersebut terpaksa tertunda di hari berikutnya.

BACA JUGA: Merapi Bergejolak, Awan Panas Meluncur hingga 2,5 Kilometer

Selain mengandalkan tes PCR, Pemda DIY saat ini juga sudah mulai mengandalkan tes antigen dalam data positif Covid-19 seperti yang sudah dipublikasikan akhir-akhir ini sehingga data Covid-19 di DIY tinggi.

Kepala Bagian Humas, Biro Umum, dan Protokol (UHP) Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji menjelaskan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan yang bahwa tes antigen bisa masuk menjadi perhitungan konfirmasi positif harian yang berlaku sejak awal pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Itu juga kemudian menjawab kenapa kok tiba-tiba kasus positif DIY meningkat karena yang sebelumnya kasus positif dilihat dari PCR sekarang juga dilihat dari antigen. Antigen jadi perhitungan mempercepat tracing, kalau gunakan PCR hasil tracing bisa mundur,” ujar Ditya.

Terkait target testing, Ditya mengatakan sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri itu 7.412 orang per hari. Sementara berdasarkan SK Menteri Kesehatan Nomor 4805/2021 di sana tidak menyebut jumlah testing, melainkan disesuaikan dengan positivity rate. Kalau positvity rate di atas 25% maka minimal per minggu 15/1.000.

“Kalau dihitung saja misal DIY penduduk 3,8 juta dibagi 1.000 dikali 15 dibagi 7 hari ketemunya adalah 7.896 orang per hari. DIY sejak tanggal 13 Juli 2021 itu rata-rata testing DIY sudah di atas 8.000. Jadi sudah melebihi target,” papar Ditya.

Disinggung soal pernyataan Pemerintah Pusat terkait positivity rate di DIY masih 44%, Ditya mengatakan terdapat perbedaan data antara pusat dan DIY sehingga pusat selama ini berasumsi positivity raten-ya tinggi, karena positivity rate hasil dari kasus konfirmasi harian dibagi jumlah testing dikali 100%. Jumlah testing yang tercatat di pusat itu masih kecil karena ada kesulitan dalam entry data NAR (new all record).

Dia mencontohkan dalam paparan Wakil Menteri Kesehatan pada 27 Juli jumlah tes harian yang tercatat di pusat 3.143 spesimen, padahal di DIY pada hari itu jumlahnya 8.735 spesimen. Ketika jumlah testing kecil maka dihitung positivity raten-ya lebih besar.

“Pusat bilang DIY positivity rate 44% selama seminggu padahal kalau berdasarkan perhitungan Dinkes Pemda DIY ketika testing per hari sduah 8.000 lebih positivity rate engga pernah 30%, rata-rata 25-26% pernah tertinggi 29%,” tandas Ditya.