Tak Ada Pendapatan, Pengelola Wisata Gunung Kuniran Terpaksa Jual Tanah

Kawasan objek wisata Gunung Kuniran di Pedukuhan Pandu, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulonprogo. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo.
30 Juli 2021 06:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KOKAP--Pengelola objek wisata Gunung Kuniran di Pedukuhan Pandu, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, terpaksa harus menjual sebagian lahannya untuk bertahan di tengah terpaan pandemi Covid-19. Minimnya pendapatan menjadi faktor utama dijualnya objek wisata yang total lahannya mencapai 2,8 hektar tersebut.

Pemilik objek wisata Gunung Kuniran, Rahmat Prasetyo, 32, mengatakan total lahan dari objek wisata Gunung Kuniran yang akan ia jual seluas 1,5 hektar. Akan tetapi, jika terjadi kesepakatan bersama antara dirinya dan calon pembeli, penjualan seluruh lahan objek wisata Gunung Kuniran juga bisa dilakukan.

BACA JUGA : Corona Bergejolak, Wisata di Kulonprogo Tetap Dibuka

"Total luas lahan objek wisata Gunung Kuniran mencapai 2,8 hektar. Sudah sertifikat hak milik [SHM]. Rencananya saya jual hanya 1,5 hektar sampai dengan dua hektar. Namun, jika ada pembeli atau investor yang berminat membeli seluruhnya ya bisa saja dilakukan. Namun, dengan sejumlah syarat," kata Rahmat pada Kamis (29/7/2021).

Syarat yang disinggung oleh Rahmat adalah keterlibatan paguyuban warga yang berada di sekitar objek wisata Gunung Kuniran. Mereka, kata Rahmat, selama ini juga berkontribusi terhadap kemajuan objek wisata Gunung Kuniran yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari kota Wates.

"Selama ini kami libatkan warga yang berada di sekitar lokasi objek wisata Gunung Kuniran. Mereka tergabung dalam paguyuban Gunung Kuniran yang beranggotakan sekitar 45 orang. Saya ingin warga tetap dilibatkan dalam pengelolaan objek wisata gunung Kuniran. Walaupun, nanti kepemilikannya bukan lagi atas nama saya," ujar Rahmat.

BACA JUGA : Tutup Objek Wisata, Dispar Kulonprogo Gandeng Gugus

Soal harga, Rahmat membanderol dengan angka Rp500 ribu per meternya. Namun, angka tersebut tidak mutlak. Artinya, masih bisa terjadi negosiasi antara dirinya dan calon pembeli. Namun demikian, sampai saat ini belum ada investor maupun calon pembeli yang serius bertransaksi dengannya.

"Objek wisata Gunung Kuniran sudah beroperasi sejak 2018 lalu. Namun, karena ada pandemi Covid-19 serta diberlakukannya PPKM darurat ya apa boleh buat. Kami tidak bisa bertahan. Usaha saya di bidang properti juga surut selama pandemi Covid-19. Padahal, usaha itu [properti] yang menjadi penyokong dalam pengembangan objek wisata Gunung Kuniran selama ini," papar Rahmat.

Objek wisata Gunung Kuniran sendiri sebenarnya belum utuh menjadi sebuah destinasi wisata. Pengembangan terus dilakukan oleh Rahmat. Namun, dirinya tidak bisa melanjutkan pengembangan karena stok cadangan uang objek wisata Gunung Kuniran semakin menipis.

"Pengembangan belum 100 persen. Fokus di pembangunan jalan. Paling bisa dikatakan baru 15 persen. Padahal, pengembangan kawasan Gunung Kuniran membutuhkan biaya yang besar. Objek wisata Gunung Kuniran tidak hanya menyajikan spot foto, tapi juga kuliner, outbound, hingga tempat minum kopi," jelas Rahmat.

Sebagai informasi, Gunung Kuniran merupakan salah satu objek wisata di Kulonprogo yang dikelola secara pribadi dengan melibatkan masyarakat yang tergabung dalam paguyuban Gunung Kuniran.

Objek wisata yang berada di ketinggian 1.000 MDPL tersebut beroperasi sejak 2018 silam. Objek wisata ini mengusung konsep wisata alam. Pengunjung dapat melihat kemegahan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Kemudian, saat malam tiba, pengunjung juga bisa menyaksikan gemerlap kota Wates laiknya pemandangan dari Bukit Bintang, Gunung Kidul. Sembari itu dapat menikmati sajian live musik yang biasanya digelar pada saat akhir pekan.

BACA JUGA : Ini Pesan Ketua Gustu Covid-19 Kulonprogo Agar PKKM 

"Pengunjung kami juga tidak hanya berasal dari wilayah kabupaten Kulonprogo. Akan tetapi, pengunjung dari daerah lain seperti kabupaten Bantul, Kota Jogja, Sleman, Gunungkidul, bahkan dari Jateng seperti Magelang dan Purworejo juga menyambangi objek wisata ini. Dari Jakarta juga ada," ujar Rahmat.

Wakil Bupati Kulonprogo Fajar Gegana tidak memungkiri jika pandemi Covid-19 ini membuat pendapatan asli daerah (PAD) di wilayah Bumi Binangun di sektor pariwisata mengalami penurunan yang cukup signifikan.

"Kami akui penutupan destinasi wisata sangat berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) Kulonprogo, namun demi kebaikan semua, saat ini lebih diutamakan kesehatan. Terlebih, sektor pariwisata kan menyangkut banyak orang baik dari Kulonprogo maupun daerah luar sehingga harus dipastikan aman," kata Fajar.