Lokasi Merenung di Jogja Diubah Jadi Tempat Isolasi

Ketua Bidang Kesekretariatan Selter Syantikara, Sr. Birgitta Diah Juliati, CB, menunjukkan kamar isolasi di Selter Syantikara. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
07 Agustus 2021 22:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Provinsial Kongregasi Carolus Borromeus (CB) berinisiatif menjadikan Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara sebagai selter bagi masyarakat umum terutama warga yang tidak mampu dan rumahnya tidak memenuhi untuk isoman. 

Semilir angin segar menembus kawasan RPCB Syantikara yang berlokasi di Jalan Kolombo, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman, saat Harian Jogja bersama beberapa awak media masuk pada Jumat (30/7/2021) siang pekan lalu. Meski musim kemarau, susana sejuk terasa karena banyak pepohonan dan tanaman hijau di dalamnya. Area terbuka cukup luas meski banyak bangunan kamar dan ruang pertemuan di kawasan tersebut.

Kamar-kamar tersebut biasanya digunakan umat Katolik untuk retret atau merenung, memisahkan diri dari keramaian untuk mencari ketenangan batin. “Kadang-kadang digunakan untuk tamu juga,” kata Penasihat Selter Syantikara, Ambrosius Koesmargono.

Setiap blok bangunan terdapat dua sampai empat kamar dan masing-masing kamar ada dua tempat tidur yang dilengkapi dengan AC, almari, dan kamar mandi, kursi, dan disinfektan. Tiap kamar terdapat jendela terbuka dengan pemandangan yang hijau. Halaman depan blok juga cukup lebar sehingga bisa digunakan untuk berjemur bagi pasien. Ada juga tempat mencuci dan menjemur pakaian.

Fasilitas ini layaknya hotel bintang tiga yang nyaman untuk ditempati. Namun karena saat ini digunakan untuk selter, penghuninya tidak diperkenankan memakai AC dan cukup membuka jendela di setiap kamar. Setelah jadi selter fasilitas tiap kamar ditambah tensimeter, termometer, oksimeter dan alat kebersihan seperti desinfektan, sabun cuci piring, sapu, pengepel lantai, serta penampung limbah seperti tas kresek hitam, tas kresek kuning, kontainer penampung limbah domestik, dan kontainer limbah infeksius.

Koesmargono mengatakan terdapat 82 kamar di Syantikara dengan 164 tempat tidur. Meski baru resmi dibuka untuk selter umum per 1 Agustus, Syantikara sebelumnya sudah ditempati pasien Covid-19 tanpa gejala dari kalangan tenaga kesehatan (nakes). “Sebelum resmi kami buka per 1 Agustus, sudah kami uji coba untuk menerima nakes yang terpapar. Sudah ada 30 yang masuk dan sudah keluar 10 orang sehingga tinggal 20 orang,” ujar Koesmargono.

Saat ini juga sudah ada juga sudah ada waiting list atau calon penghuni yang akan menempati selter tersebut per 1 Agustus berdasarkan informasi dari puskesmas. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Panti Rapih tersebut, selter Syantikara diperuntukan bagi pasien-pasien yang kesulitan mendapatkan tempat untuk isolasi mandiri maupun mereka yang seharusnya dirawat di rumah sakit. “Selter Syantikara adalah untuk memisahkan warga yang sehat dan yang sakit, mengurangi beban rumah sakit dan anggaran negara, diutamakan tenaga kesehatan yang memerlukan tempat isolasi mandiri dalam lingkup jejaring Rumah Sakit CB di DIY dan masyarakat sekitar yang memiliki keterbatasan fasilitas, sarana prasarana untuk isolasi mandiri di rumah, keterbatasan sosial ekonomi dan yang berkesesakan hidup. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya,” kata Koesmargono.

Selter tersebut tidak hanya digunakan untuk warga Katolik, masyarakat umum atau lintas iman juga bisa memakainya. Sejumlah sukarelawan yang terlibat dalam penyediaan selter tersebut juga tediri dari berbagai lembaga mulai dari Srikandi Lintas Iman, Gusdurian, Solidaritas Perempuan, dan sejumlah akademisi dari berbagai kampus swasta dan negeri. Mereka disatukan dalam keprihatinan yang sama untuk berbelarasa dan ambil bagian untuk Indonesia Sehat.

Saat ini, sudah ada 108 orang relawan yang terlibat dari berbagai lembaga, mulai dari dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, ahli gizi, kesekretariatan, hingga petugas dekontaminasi. Selter Syantikara masih membuka jika ada masyarakat yang ingin menjadi sukarelawan. 

Ketua Bidang Kesekretariatan Selter Syantikara, Sr. Birgitta Diah Juliati CB, menambahkan bagi pasien yang akan menghuni selter Syantikara diharapkan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas Depok 1, Puskesmas Depok 2, atau Puskesmas Depok 3 karena selter berada di wilayah Kapanewon Depok. Jika hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pasien termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) atau bergejala ringan dan masih beraktivitas normal, mengalami kendala dan keterbatasan isolasi mandiri di rumah, puskesmas akan menghubungi selter Syantikara.

“Jika terjadi penurunan kondisi selama menjalani isolasi mandiri, pasien akan dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19 untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” kata Birgitta.

Minimal waktu menjalani isolasi mandiri selama 10 hari dan atau sudah dinyatakan oleh dokter berupa penerbitan surat keterangan selesai isolasi.